Pertanyaan dari Pinggir Trotoar

Sebagai manusia yang tinggal di negara yang bernama Indonesia, khususnya di kota Jogja saya tidak bisa tidak melihat segala macam yang ada di setiap sudut kota ini. Tentu saja,  karena saya setiap hari pergi melewati jalanan kotanya, menangkap segala bentuk visual dari setiap inci jalanan yang saya lewati.

Dan selalu saya bertanya tanya, terlebih jika saya sedang berjalan kaki dorongan untuk mendapat jawaban dari pertanyaan ini makin kuat. Kira-kira, ini beberapa visual yang saya tangkap yang saya yakin kalau sebelumnya anda tidak pernah mempertanyakan hal ini, atau sebelumnya tidak terpikir untuk punya pikiran seperti ini, setelah anda lihat beberapa gambar yang saya posting bersama tulisan ini, anda akan setuju dengan saya yang mempertanyakan hal ini.

Saya heran dengan konstruksi trotoar di kota Jogja. Mungkin juga bukan hanya di kota Jogja, tapi mungkin di kota lain juga banyak ditemui konstruksi semacam ini : orang berusaha membuat spot spot untuk tanaman tumbuh tapi tidak dengan pertimbangan bahwa tanaman perlu ruang yang besar atau dengan kata lain, kontruksi yang dibuat tidak mengakomodasi kebutuhan tanaman yang ditanam. Manusia perencana atau kontraktor berusaha menghalangi alam untuk bertumbuh, dan sebenarnya hal ini cukup bodoh.

Tanah-tanah ditutup dengan semen dan aspal tanpa perencanaan dan desain yang benar. Kadang di trotoar tanaman hanya ditaruh di dalam buis beton dan bahkan buis beton tersebut tidak terkoneksi langsung dengan tanah di bawah trotoar. Sejalan dengan waktu, tentu saja tanaman yang tumbuh akan memerlukan ruang yang lebih besar dan pada akhirnya karena terhalang beton maka akar tanaman akan menjebol beton penghalang. Saya jengkel melihat hal ini terjadi di mana saja. Saya merasa kasihan dengan tanaman-tanaman itu.

Kenapa pembuat trotoar seperti tidak punya pengetahuan bahwa alam dan teknologi bangunan modern mesti berjalan searah? Mengapa tanaman dihalangi tumbuh? Semua tanah ditutup dengan konblok dan aspal dan semen. Pohon-pohon ditebangi. Rumput dicabuti. Alhasil…. bisa dilihat: jalanan panas, kontruksi menjadi berantakan, pejalan kaki tersandung sandung dan tidak nyaman berjalan karena buis beton ada di sana sini, dijadikan penghalang tanaman yang seharusnya bisa merindangi jalan menjadi tidak sehat pertumbuhannya.

Coba lihat gambar di atas. Kondisi tanamannya menyedihkan. Kadang banyak tanaman ditanam di dalam buis beton, tapi lantas tidak dibiarkan tumbuh subur, tapi malah dipapras seluruhnya. Belum lagi sering ada yang membakar sampah di samping tanaman di buis beton tersebut. Miris rasanya. Tanaman ini seperti hidup enggan mati juga tidak bisa.

Saya mencoba memahami apa yang ada di benak orang-orang yang memangkas habis tanaman semacam ini. Katanya mereka tidak mau ada sampah daun daun yang gugur dari tangkainya. Hmm.. Maaf ya? Apakah itu memang benar-benar jawabannya?? Karena jelas tidak mungkin tanaman dilarang untuk menjatuhkan daun daun yang sudah tua atau kering dari tangkainya. Cara kerja tanaman ya seperti itu! Apa anda sebagai manusia harus dibunuh karena anda buang hajat?? Atau karena anda memotong rambut dan membuang potongan rambut anda ke tong sampah?

Saya kira bukan lantas pohon atau tanaman yang harus ditebang supaya tidak menimbulkan daun daun berguguran, tapi menciptakan mekanisme pembuangan sampah yang baik menjadi hal yang perlu dipikirkan. Bukan dengan membakar sampah lho ya! Lagipula kenapa ya manusia Jawa sepertinya merasa risih kalau melihat daun daun berserakan? Toh ini kelamaan akan membusuk, tidak seperti sampah plastik atau sampah minyak tanah dan minyak goreng yang meninggalkan noda di jalanan dan bagi plastik perlu lebih dari ribuan tahun untuk terurai, bahkan sebenernya tidak akan pernah sukses terurai.

Saya memang bukan engineer, arsitek atau kontraktor, tetapi saya kira masih wajar kalau saya merasa jengkel dan malu dengan kondisi jalanan yang semacam ini, dan wajar juga kalau lantas saya berpikir: seharusnya para kontraktor pembuat jalan dan anggota dinas tata kota kembali ke sekolah atau kembali lagi untuk study tentang bagaimana masyarakat manusia hidup serasi bersama alam.

Iklan

3 thoughts on “Pertanyaan dari Pinggir Trotoar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s