Silaturahmi yang Mencekik

Kemarin saya mendapat panggilan telepon. Nomornya sih tercatat di telepon genggam saya. Nama pemilik telpon tersebut adalah Supriyono.

Berdering … berdering…berdering.. (ya bukan berdering kring sih.. tapi ring tone lagu Desafinado yang dilagukan Julie London. Sengaja set up lagu itu sebagai ring tone. Soalnya saya suka banget sih).

Angkat nggak ya? Dilemma saya. Akhirnya saya angkat saja meskipun saya tidak ingat siapakah Supriyono ini. Kenapa nomornya saya catat, dimana saya bertemu, dan urusan apa. Saya benar-benar lupa.

“Ya halo?” dengan nada ragu.

“Halo.. mbak Bakti?”

“Ya…. (ini dengan siapa? –selanjutnya ini cuma pertanyaan di dalam hati. Kan nggak sopan, karena akan ketahuan kalau saya lupa siapa gerangan Supriyono itu).

“Mbak Bakti apa kabar?”

“Baik… iya.. he he..” menggantung gitu nada bicaranya.

“Oh..ya sukur.”

“Iya… hmmm… telpon saya ada apa ya?”

“Nggak papa mbak. Saya cuma pingin telpon.”

“Oh gitu..” (aneh).

“Mbak Bakti kantornya masih di Tembi itu ya?”

“Hmm.. iya.. masih.”

“Setiap hari ya di Tembi?”

“Ya tergantung …… (Pak… apa mas ya?? bingung. Dan akhirnya saya tidak menyertakan gelar Pak atau Mas). Kalau sedang ada tugas keluar ya saya keluar. Tapi kalau sedang ada tugas di kantor ya saya di kantor.”

Diplomatis kan jawabannya. Ini adalah upaya untuk mencegah tindakan-tindakan yang tidak diinginkan dari lawan bicara, dan kali ini sudah jelas untk mengantisipasi tindakan si manusia Supriyono ini supaya tidak pop up tiba-tiba di kantor saya. Bisa bete sampai seharian kalau begitu jadinya dan akibatnya, saya bisa tidak konsentrasi mengerjakan tugas lainnya di kantor. Rugi saya! Hah!

“Oh.. gitu ya… tapi setiap hari  di kantor Tembi kan?” Lhah.. ngotot.

“Ya…” Capek deh.. di-iya-kan sajalah.

“Ya udah mbak.. kalau gitu kapan-kapan saya main ke kantor ya.”

Lho.. kok? Saya bingung.

“Hmm… iya. Tapi maaf pak, kalau main ke kantor itu keperluannya apa ya?” Tanya saya dengan polos. Lha nyatanya memang saya bingung kok. Kalau datang ke suatu tempat kan ada alasannya apalagi kalau datang ke sebuah kantor. Wajar dong kalau saya tanya. Lagipula, ke kantor kok kata kerjanya “main” ? Kalau mau main mending ke taman bermain saja. Ke taman pintar kek, ke tempat billyard, ke mall juga masih bisa main kok daripada belanja. Ke kantor… main?? Aneh sekali.

“Ya main aja  mbak.. Mau ketemu. Kan silaturahmi.”

“Oh.. ya..” Jawab saya pasrah tapi ganjil.

Nah, jadi begitu ceritanya. Saya lambat laun sepertinya sudah mulai menduga dengan siapa saya berbicara. Beliau itu adalah bapak Supriyono (ya iyalah… jelas, dari awal udah dibilang namanya Supriyono). Selanjutnya, yang saya rasa dan ingat adalah, sepertinya dia adalah salah seorang dari orang-orang yang pernah datang ke kantor untuk minta dipinjami uang.

Nah kan.. selalu begitu. Kalau ada orang yang berkata kepada saya menawarkan  diri untuk datang  tanpa diundang dan memakai alasan “main” Itu pasti ada maunya. Dan nanti pasti menyangkutpautkan “silaturahmi”. Selalu curiga saya kalau ada yang bilang “main” padahal itu bukan tempat main, dan “silaturahmi”. Ah… sekelompok percakapan basa basi yang ujungnya mencekik.

Haduh… sinis lagi deh saya :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s