Mbak Dah

Pagi ini saya seperti biasa mengobrol dengan 2 pegawai house keeping di kantor. Salah satu pegawai kami bernama Mbak Dah. Dia baru sejak bulan Mei akhir bekerja di sini membantu pegawai kami yang lebih tua dan lebih lama bekerja di sini.

Pagi ini, Mbak Dah bercerita tentang dukanya sebagai seorang janda. Sambil menahan emosi, dia bercerita bahwa kemarin dia pergi ke daerah UGM karena mendapatkan undangan pembagian satu paket untuk anak yatim yang isi paketnya : tas, alat tulis dan uang sebanyak Rp 30,000.

Dari awal saya sih sudah malas berangkat mbak, karena saya capek baru selesai rewang untuk buka bersama warga satu kampung. Trus anak saya yang kecil nggak mau ikut juga karena dulu juga pernah dapat undangan yang sama tapi ternyata nggak dapat sumbangan yang dijanjiin.

“Lalu gimana mbak seterusnya? Mbak berangkat?”

“Iya, saya berangkat.. soalnya saya dipaksa berangkat sama yang menitipkan undangan. Tapi sampai di sana saya dikatain..katanya nggak berhak dapat karena anaknya sendiri nggak ikut. Wali murid nggak berhak mengambil. Saya sendiri sih nggak berharap.. wong cuma uang 30,000 aja kok repot. Saya nggak ndremis (bersifat meminta-minta). Sudah 5 kali mbak saya dapat undangan seperti itu, tapi saya sama sekali tidak dapat apa-apa.”

“Oh… ya udah deh mbak, sabar aja..”

Cuma itu sih yang saya bisa bilang… Lha mau bilang bagaimana lagi coba? Lalu dia melanjutkan ceritanya.

“Minggu lalu juga saya sakit hati sekali mbak, soalnya saya kan niat mau menyumbang makanan untuk takjilan (buka puasa bersama di masjid). Tapi tetangga saya bilang begini: “Apa mbak? Kowe arep nyumbang? nek rondo ki jarene ora entuk nyumbang nggo takjilan. Mengko soale ndak nggolek utangan.” (apa mbak? kamu mau menyumbang? kalau janda itu katanya tidak boleh menyumbang untuk takjilan. karena nanti biasanya janda pasti akan mencari hutangan dari orang lain).

Wah, saya syok juga mendengar cerita Mbak Dah. Melas juga hati saya. Miris mendengarnya. Karena dia punya niat baik untuk menyumbang tetapi niatnya dipandang buruk oleh orang lain… Orang-orang yang berkepercayaan sama pula. Saya jadi bisa merasakan bahwa Mbak Dah merasa tetangga-tetangga dia merasa sumbangan dari janda sepertinya yang pekerjaannya tidak dipandang punya prestise, adalah sumbangan yang sifatnya haram.

“Ya sudah mbak… sabar ya.. besok dibuktikan sama mereka yang bilang seperti itu kalau mbak Dah itu bisa juga sukses. Dibuktikan dengan menyekolahkan anak-anaknya mbak sampai sudah bisa bekerja baik semua. Besok orang-orang yang bilang begitu sama mbak Dah dibalas dengan mbak kasih kiriman makanan yang enak-enak  dari anak-anak mbak kalau sudah sukses.”

Saya jadi makin melek, bahwa di negara kita, hidup sebagai janda itu sulit. Banyak prasangka yang mesti dihadapi. Mungkin sama dengan pandangan tentang perempuan lajang yang belum menikah di usia yang sudah sepantasnya menikah. Kalau perempuan belum menikah akan selalu dipandang susah jodoh karena tidak ada laki-laki yang mau menikahinya, orang-orang akan melihat perempuan itu dengan perasaan kasihan. Sementara kalau perempuannya sendiri yang memilih untuk tidak menikah atau belum mau menikah sementara usianya sudah matang, dia akan dipandang terlalu pilih-pilih calon suami, salah-salah dibilang kegatelan karena tidak mau diikat dalam perkawinan. Perempuan yang seperti itu bisa jadi dipandang sebagai perempuan yang tidak sopan dan menyalahi kodrat.  😦

Saya tidak tahu persis bagaimana beratnya hidup sebagai janda. Bisa jadi lebih sulit hidup sebagai janda daripada sebagai perempuan tidak menikah. Karena janda memiliki tanggungan anak yang harus dia besarkan dan dia sekolahkan. Apalagi kalau janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya seperti mbak Dah.

Mbak Dah, sabar ya.. semoga kelak anak-anakmu sukses sekolahnya dan bisa membalas jerih payahmu dengan layak.

Iklan

2 thoughts on “Mbak Dah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s