No Catok! Blow …iyess…

Minggu lalu waktu hari Sabtu saya menyempat-nyempatkan diri pergi ke salon. Walau sudah malam, saya memaksakan diri untuk keluar rumah dan mampir ke salon. Saya bilang sih memaksakan, soalnya saya harus berangkat jauh-jauh dari Bantul ke daerah Mrican. Dan kalau dirasa-rasa, itu sih namanya bukan mampir di salon, tapi sengaja pergi ke salon.

Memang saya tidak bisa lagi menunggu untuk pergi ke salon, soalnya rambut saya rasanya sudah sangat  berantakan. Panjang enggak, pendek enggak. Memang sejak saya punya rambut pendek, saya harus lebih sering potong rambut karena rambut pendek kelihatan sekali menjadi mudah berantakan kalau sudah panjang sedikit saja.

Maka, saya pergi ke ke daerah Mrican, dekat kampus Sanata Dharma dan saya langsung menuju salon Ady Brendly. Sudah tiga kali terakhir saya selalu pergi ke  salon yang sama untuk merapikan rambut saya karena salon ini buka sampai malam, hair dresser-nya ramah-ramah dan tarif yang dikenakan ke pelanggannya tidak mahal.

Begitu saya datang rambut saya dicuci, lalu mas-mas yang saya nggak tahu namanya tapi selalu melayani saya tiap kali saya datang langsung memotong rambut saya. Ada banyak sih hair dresser di sana, tetapi saya selalu dilayani oleh mas yang satu ini: orangnya kurus, rambutnya disisir rapi ke belakang dengan efek sedikit basah, komunikatif, sedikit gemulai tapi cekatan motongnya. Mungkin karena sudah hapal sama wajah saya dan karena saya balik lagi ke salon yang sama, artinya saya puas dengan hasil karya si mas-mas ini, makanya beliau dengan senang hati langsung datang melayani saya.

Saya lalu minta rambut saya  dirapikan, seperti biasa.. dengan potongan gaya : “BUSINESS IN THE BACK, PARTY IN THE FRONT”. Alias… depan panjang belakang pendek. He he he.. pokoknya, party dulu.. bisnis belakangan :p (walaupun pada kenyataannya saya nggak suka party).

Pokoknya HEBOOOH… halah.

Selesai dipotong masnya nanya… “Mbak mau dicatok apa di blow rambutnya??”

“Waduh… dicatok?? Nggak deh mas.. Saya mau diblow saja. Saya nggak suka dicatok, soalnya catoknya panas, biasanya nanti keluar asap, kayak rambut saya sedang dibakar aja.”

“Nggak deh mbak, saya setel catoknya supaya nggak panas-panas banget.”

“Nggak ah mas. Rasanya kalau rambut saya dicatok, saya seperti melawan kodrat.”

“Ha, kok bisa mbak??”

“Iya.. soalnya rambut saya kan nggak lurus, tapi ngombak dan kadang kriwil.. masak dipaksa jadi lurus. Mending diblow aja, bisa ngikutin rambutnya maunya apa.”

“Ohh.. gitu ya mbak… iya juga sih..”

Hehehehe.. saya langsung cekikikan dengan jelas.

Terus terang saya memang lebih senang kalau rambut saya tidak dicatok. Mungkin hal ini berlawanan dengan banyak kecenderungan cewek-cewek yang memilih untuk dicatok  setelah rambutnya dipotong atau waktu mereka sedang di salon. Soalnya, saya memang merasa ngeri dengan asap dan hawa panas yang keluar dari lempengan catok waktu bertemu dengan helai rambut. Gimana kalo salah-salah kena kulit muka saya? Kayak knalpot nyium betis dong.. nyooosss… Nggak deh. Matur nuwun.

Lagipula memang saya merasa bahwa mencatok rambut itu adalah sebuah tindakan penipuan .. memang bukan penipuan skala besar, tapi rasanya malu saja sama diri sendiri dan orang lain.. lha wong rambut  saya ikal kok, tiba-tiba jadi lurus??

Lagipula saya suka dengan rambut saya yang ikal kruwel kruwel ini.. soalnya lucu sih. Heheheh… dan tidak banyak minta diatur, karena nggak perlu nyisir :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s