Jogja Macet Karena si Komo??

Teman-teman ingat nggak sih lagu anak-anak yang judulnya Si Komo yang diciptakan Kak Seto? Di usia saya sewaktu masih awal remaja, lagu ini populer sekali. Tapi saya bukannya mau membicarakan si Komo. Lagu ini hanya mengingatkan saya pada protes halusnya kak Seto tentang betapa macetnya jalanan Jakarta yang saking macetnya seperti seolah-olah sedang ada dinosaurus  lewat di jalanan.

Nah, cerita soal macetnya jalanan Jakarta sih bukan lagi merupakan hal baru. Hal ini sudah seperti legenda saja yang katanya sih selalu menjadi PR untuk diselesaikan dan mungkin sejauh ini sudah cukup banyak perubahan dengan populernya pemakaian kendaraan umum terutama Trans Jakarta dan dicanangkannya hari-hari tertentu bebas mobil dan kendaraan bermotor di area-area jalan yang spesifik. Kendati demikian, masih banyak dari warga Jakarta yang menunggu perubahan yang lebih besar perihal kondisi lalu lintas Jakarta.

Bagaimana dengan Jogja?

Terus terang saya merasa dalam 20 tahun terakhir ini banyak sekali perubahan terjadi perihal lalu lintas Jogja. Jalanan di Jogjakarta ketika saya masih awal remaja masih luang. Proporsi jumlah antar kendaraan masih seimbang. Sepeda, sepeda motor, becak, andong, mobil dan kendaraan umum seperti bus masih dalam jumlah yang normal. Tetapi hal ini sudah berubah jauh. Jumlah kendaraan dari tahun ke tahun tidak lagi seimbang. Sepeda motor dan mobil jumlahnya makin banyak. Katanya sih seiring dengan banyaknya pendatang yang menetap juga pendatang yang sementara menetap alias anak kos. Plus, karena perdagangan sudah semakin haus konsumen, banyak sekali kemudahan yang ditawarkan untuk mendapatkan sepeda motor. Semuanya dibeli dengan kredit sistem lunak. Pokoknya motornya dibawa pulang dulu, nanti bayarnya gampanglah..belakangan. Maka dalam satu keluarga sekarang setiap orang punya sepeda motornya sendiri. Malah kalau yang cukup kaya, setiap anak diberi  sepeda motor dan mobilnya sendiri.

Nah… alhasil, jalanan yang indah tapi kurang besar diperlebar. Trotoar digusur jadi makin tipis. Area-area tempat pohon yang tadinya rindang dikorbankan juga menjadi jalanan aspal hanya supaya jalannya muat untuk dipakai kebanyakan motor dan mobil. Polusi knalpot dimana-mana. Bagi saya kini Jogja tidak nyaman lagi.

Belakangan ini, kendaraan yang berjubel di jalanan kota Jogja yang tidak besar-besar amat itu disumpal lagi dengan banyaknya bus-bus besar yang berisi wisatawan lokal. Tidak terhitung lagi berapa kali saya dan pengendara lainnya harus berhenti di jalan-jalan tertentu hanya karena si bus besar ini mau berbelok atau mau parkir. Sering juga saya lihat gang-gang kecil dimasuki bus besar. Pernah saya harus berhenti karena harus menunggu bus besar selesai atret alias mundur hanya untuk masuk ke gang kecil dan waktu itu saya sedang memboncengi salah satu tamu dari luar negeri. Beliau yang saya boncengi dengan mulut ternganga kontan berteriak” “Holly shit!! Why they trying to drive that fucking big bus to the tiny street?!”, dan saya cuma bisa tersenyum padanya dan berkata, “Yes, they are crazy.”. Saya sih juga jengkel karena nyata-nyata bus-bus pariwisata ini menuh-menuhin jalan. Saya pikir seharusnya pemerintah membuat peraturan bahwa bus besar hanya boleh dikendarai antar kota, dan begitu masuk kota seharusnya orang-orang yang berwisata ini diangkutkan dengan bus-bus yang ukurannya lebih kecil.

Di atas semua cerita tentang macetnya jalanan kota Jogja, saya bertanya: “Pemerintah kota mikir nggak sih bahwa ini sudah dalam taraf yang cukup mengganggu dan sudah selayaknya dari beberapa tahun yang lalu ditindaklanjuti?”. Kalau memang sudah lama tinggal di Jogja dan familiar dengan kenyamanan Jogja, bukankah mestinya sudah dari dulu ada antisipasi untuk tetap menjaga agar Jogja tetap nyaman?

Saya baca-baca mengenai kemacetan jalanan di kota Jogja, yang selama ini menjadi fokus hanyalah seputaran Malioboro dan solusi yang dipercaya sebagai solusi bukannya menjawab persoalan secara lebih tuntas, tetapi saya kira hanya seperti mengobati penyakit dengan menghilangkan symptom-nya sementara akar masalahnya masih ada. Kabarnya Sri Sultan HB 10 selaku Gubernur bercita-cita membangun  area parkir seluas 30,000 m persegi dengan 3 sampai 4 tingkat dan hal ini dipercaya dapat mengatasi kemacetan Malioboro. Saya jadi ingat bagaimana dulu kanjeng Sultan memiliki ide menggali alun-alun utara untuk mewujudkan ide mega parkiran ini dan timbul banyak protes dari warga Jogja karena hal ini sama saja dengan menginjak-injak kesakralan tempat tersebut sebagai salah satu simbol keraton kota Jogja.

Ah, cukuplah bicara tentang rencana menambah area parkir, menggasak alun-alun dan sebagainya. Saya kira ada solusi lain yang lebih mengena selain itu. Ya, hanya jika tidak ingin slogan Jogja Berhati Nyaman tinggal slogan saja lho ya 🙂

Iklan

2 thoughts on “Jogja Macet Karena si Komo??

  1. untuk ukuran ibukota provinsi,, jalanan di jogja memang termasuk sempit2, apalagi masih dipake buat parkir lagi!! jadi tambah macet deh,,

    dan satu lagi yang bikin saya sebel tiap kali saya berkunjung ke jogja itu ada TRAFFIC LIGHT-nya,, durasi pas lampu merahnya LUUAMMAAA banget,, tapi ijonya cuma bentar. ada di salah satu perempatan, merahnya 80detik, tapi ijonya cuman 14 detik, saya ampe ngelus elus dada,,,

    kalau di kota asal saya di semarang,, di persimpangan jalan yang rata2 simpang 5 sampai 7 durasinya lampu merahnya aja ga selama itu, durasi lampu trafict nya pas ijo juga lama, cuma selisih sedikit ama merahnya, seperti di kalibanteng (simpang6) merahnya 90an detik, ijonya 60-70an detik.

    nah seharusnya pihak terkait juga bisa menata hal tersebut, mengenai anajemen trafic lightnya karena hal tersebut sangat krusial dan bisa semakin memperparah kemacetan di jogja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s