Catatan 5/13/2009 – 3/26/2011

Rasanya sulit untuk membalas surat-surat berisi pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupanku yang datang belakangan ini. Semuanya masih kubiarkan tak terbalas di kotak surat. Sebagian bahkan belum terbaca.

Entah bagaimana ceritanya, kesendirian bisa demikian mencekik leherku. Aku tidak bisa melihat orang-orang tertawa karena mereka bahagia. Jika aku pergi ke suatu tempat dan aku mulai melihat tarikan senyum di wajah mereka, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang. Aku memutuskan untuk banyak menghabiskan waktuku sendirian saja.

Usiaku beranjak , dan orang-orang yang dulunya masih dapat sesekali aku kunjungi untuk menghiburku kian lama menjadi kian menyebalkan. Hmm.. mungkin demikan juga aku di mata mereka; aku kian tua dan kian menyebalkan. Lalu di ruanganku biasanya kunyalakan komputer.. merasa kalau-kalau atau bahkan sepertinya punya sesuatu di dalam kepala yang harus dan pasti menarik untuk dituliskan, tetapi.. aku ternyata malah hanya bisa duduk, menatap layar komputer, dan tidak satu kalimatpun tertuang.

Kesepian ini seperti jalan buntu tanpa suara dan kata-kata.

Lalu aku punya ide yang aku rasa lebih baik daripada sekedar duduk di depan komputer tanpa menulis apapun. Aku beranjak ke depan cermin.. memeriksa dan menghitung berapa lagi garis-garis di wajahku yang mulai tampak. Masih tidak terlihat tua.. entah ini sebuah keberuntungan atau bukan. Tidak juga terlalu penting.

Lalu aku menyisir helai-helai rambutku dengan jari-jari.. merasakan sedikit gatal di kulit kepala karena shampoo yang aku pakai konon tidak cocok.

Lalu.. berhelai-helai rambutku tanggal. Satu, tiga, sepuluh, duapuluh tujuh, tiga puluh dua, sekian, sekian… terus jatuh ke lantai dan bertambah banyak helainya..

Ah.. dengan kondisi rambutku yang enggan tinggal di kepala, kini aku menjadi lebih khawatir dengan otakku. Lalu untuk membunuh waktu aku memutuskan untuk menghapus satu per satu foto dari dalam folder kenanganku. Kenangan-kenangan yang layak dicoret dari daftar riwayat hidup satu tahun ke belakang. Rencana-rencana gagal yang terlalu malas untuk aku kenang. Gangguan-gangguan kecil yang selalu berhasil membuat jam tidurku menjadi kian pendek dari hari ke hari. Menit-menit menyiksa yang tidak berhasil untuk aku gambarkan dalam buku sket yang tidak juga berhasil aku coretkan, kendati lebih dari tiga minggu yang lalu aku membeli sekotak krayon dengan merk terbaik, yang terdiri dari 42 warna.

Aku bertanya mengapa hidup bisa menjadi sedemikian bisu, seperti film-film dan foto-foto di era kolonial. Masih merasa bisu, kendati kini ada nada terngiang dari sesuatu di luar kepalaku. Kendati ada lagu-lagu yang menanti untuk diputar, udara di ruangan ini terasa tetap diam. Seperti pertanyaan yang terus berdiam di dalam kepalaku. Seperti aku yang diam karena terlalu lelah bertanya.

Aku berhenti bertanya. Tetap berjalan, tetapi tidak lagi menanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s