Karaoke Forever Fever

Kemarin kapan.. Lha kapan ya?

Hmm.. tepatnya hari Sabtu tanggal 29 Januari saya lewat di jalan samping RRI, dekat dengan kompleks florist.

Tidak sengaja lihat ada ibu-ibu sedang menyanyi secara live, kencang sekali suaranya dari sebuah tempat. Saya tengok dan selidik sebentar tempat apakah itu. Bannernya tertulis: “BRONGKOS”, dan tampak dari luar ada etalase piring-piring berisi lauk pauk dan baskom beserta panci yang pastinya berisi sayur. Mestinya brongkosnya juga ada di situ, karena jelas-jelas banner bertuliskan “BRONGKOS” itu harus dipertanggungjawabkan.

Sepertinya tempat ibu itu karaoke-an, adalah sebuah kantin. Dari luar, bisa saya lihat ada seorang bapak muda sedang duduk di belakang organ, mengiringi si ibu berkaraoke. Hi hi hi…saya jadi merasa geli. Ini kantin atau tempat karaoke ya? Yah, saya kira ide untuk berkaraoke ria di kantin dengan pemandangan panci, piring, brongkos, es teh, kalender dinding, bangku dan meja kayu adalah sebuah ide kreatif bagi yang tidak biasa pergi ke tempat-tempat karaoke yang serius dengan screen, stereo, sofa empuk, lampu disko, seperti Happy Puppy atau NAV, atau apalagi itu nama tempat karaoke lainnya di Jogja.

Kalau ngobrol soal karaoke, saya tidak habis pikir. Banyak sekali saya temukan orang-orang gemar berkaraoke. Dari dulu sampai sekarang sama saja. Dan hal ini wajar karena berkaraoke bisa membuat kita relax, karena stress yang dirasakan bisa diredakan dengan bernyanyi dan teriak sesuai dengan lirik lagu (dan semoga bernada) diiringi musik. Tapi kalau lantas membuat orang-orang di sekitar pelaku karaoke (whahaha… pelaku..kayak setara dengan “pelaku kriminal” ya) jadi tidak merasa tenang kan sama saja meredakan stress dengan menciptakan keonaran lain. Contoh salah satunya, adalah tetangga orang tua saya. Tiap hari ada saja yang berkaraoke, musiknya dan microphone disetel kencang sekali, jarak 50  meter saja masih bisa terdengar nyaring. Nah, rumah orang tua saya kan jaraknya cuma kurang lebih 5 langkah. Apa tidak budeg tuh orang-orang sekeliling rumah tetangga saya itu?

Ada lagi cerita teman saya. Dia dulu tinggal di daerah dekat jembatan Sardjito. Rumah satu dengan rumah lainnya tidak ada jarak. Dengan kondisi rumah tak berjarak antar satu dengan lainnya, mestinya ada semacam rasa peka untuk tidak membuat suara gaduh agar tidak mengganggu tetangga lain. Tetapi ada saja kebiasaan yang berkebalikan dengan yang semestinya. Salah satunya adalah beberapa tetangganya dengan cuek memutar lagu dangdut yang masya alloh dijamin membuat pendengarnya merasa malu. Dan yang tidak kalah hebohnya, adalah tetangga lainnya yang setiap hari selalu berkaraoke ria dengan volume penuh. Padahal suaranya tidaklah indah. He he he..

Hmm… alhasil, di akhir tulisan ini, saya menyatakan bahwa saya tidak mempermasalahkan kebiasaan berkaraoke. Berkaraoke itu wajar-wajar saja. Tetapi kebiasaan memutar stereo dan menyanyi keras-keras dengan microphone bervolume penuh tanpa peredam suara adalah sebuah pelecehan terhadap hak orang lain untuk hidup di lingkungan yang tenang.

Awas ya, kalau ada yang menyanggah pernyataan saya dengan berkata: “Kalau mau hidup tenang, jangan tinggal di kampung. Tapi tinggal di hutan!” Sebab saya tidak menerima sanggahan, dan ini bukan sidang pengadilan dan sidang dengar pendapat.

Hah.. daripada kita saling sanggah, bagaimana kalau kita janjian untuk makan BRONGKOS ?!

Iklan

2 thoughts on “Karaoke Forever Fever

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s