Membatik di Taman Budaya dan Pemikiran tentang Kaum Minoritas

Hari ini saya mengikuti workshop batik di Taman Budaya. Saya lumayan bersemangat ke sana sebelum jam sepuluh pagi, ini akan menjadi kali pertama sejak saya terakhir membatik (terakhir kali saya membatik itu 12 tahun yang lalu, sewaktu saya masih duduk di bangku SMP). Maka, hari ini akan menjadi salah satu hari fenomenal dalam sejarah membatik di kehidupan saya. Halah. Dramatis!

Menurut sms dari panitia workshop sehari sebelum acara,acara akan dimulai jam 10 pagi sampai jam 2 siang. Peserta diharapkan membawa chanting sendiri-sendiri, panitia menyediakan chanting tetapi jumlahnya hanya sedikit. Nah lho… saya jadi harus membeli chanting deh. Tapi saya pikir hal ini tidak menjadi masalah, karena saya memang berencana untuk terus membatik secara rutin untuk mengisi waktu luang dan menyalurkan kecintaan saya pada batik. Woaaa….patriotik ya kedengarannya? :p Biarin! Biarpun kedengarannya mustahil, patriotik dan apalah itu.. saya sudah mengatakan apa yang saya rasakan dengan jujur. Saya memang sangat menikmati aktivitas membatik. Rasanya saya bisa melupakan segala hal yang menyusahkan pikiran saya. Saya jadi bisa tenggelam dalam kesibukan dan konsentrasi nyanthing (istilah proses pemalaman dalam membatik), sampai-sampai saya lupa makan, lupa kalau saya jomblo, lupa pikiran-pikiran yang susah dari kerjaan di kantor, lupa kalau saya harus mandi, lupa kalau saya nggak punya agama. Ha? Ha ha ha…. Pokoknya, kalau sedang membatik, tidak ada hal lain yang lebih penting di dunia ini kecuali bagaimana mencurahkan konsentrasi dan tenaga untuk membatik.

Jadi begitulah, sore-sore yang sudah gelap itu saya mikir mau cari canthing dimana. Saya agak sebel juga sama panitia workshop batik itu. Habis, sms yang dikirimkan terhitung  lumayan telat datangnya, karena dikirimkan kepada peserta pukul 6 sore. Kalau begitu, peserta  yang belum punya canthing kan jadi harus pontang panting mencari canthing. Mau kemana malam-malam begitu? Toko-toko peralatan membatik di  Ngasem kan sudah pada tutup. Satu-satunya toko yang masih memungkinkan untuk disatroni, ya Mirota Batik. Tapi saya malas juga ke sana. Musim liburan begini kan jalanan seputaran Malioboro macet alang kepalang, banyak kendaraan, pejalan kaki, udara penuh CO2.  Nanti di Mirota Batik juga harus berdesak-desakan sama para turis . Nggak asik. Hik.

Cerita saya persingkat. Akhirnya saya beli canthing di Mirota Batik. Saking saya semangat bercampur  emosi, saya beli 4 canthing! Lengkap, mulai dari canthing ceceg, klowong, isen-isen sampai canthing tembok. Sukurin!! Lho?Nyukurin siapa ya? Nyukurin yang punya Mirota Batik ajalah..

Kembali kepada kelanjutan kisah workshop membatik. Sebelum acara dimulai, saya duduk-duduk di emperan amphitheater Taman Budaya. Lalu saya mengobrol dengan sesama peserta workshop tentang hal yang remeh temeh. Tak lama kemudian, ada seorang pegawai dari Taman Budaya mendekati kami. Dia mengajak peserta di dekat saya mengobrol, lalu setelah melihat saya, dia memanggil saya:

“Mbak! Kamar mandinya di situ itu lho…!!” katanya sambil telunjuknya diarahkan ke arah timur, maksudnya, ke arah toilet.

“Ha??” saya bingung.

“Itu, kamar mandinya di sana!!”

Wah, saya sudah mulai mencium gelagat buruk. Orang ini pasti mau mengomentari hal tentang saya yang tidak senonoh.  Atau mau mengatakan sesuatu yang akan membuat saya marah.

Benar saja, saya marah besar, sebab dia berkata begini : “Itu lhoo, kamar mandinya di sebelah sana, kalau mau membersihkan itu. Dia menunjuk kaki saya. Lha itu, itu kan kotor toh!” lanjutnya sambil menunjuk ke arah kaki saya yang bertato.

Hmm..iya, basi. Saya sudah sering dilontari guyon bernada seperti ini. Ini sih bukan guyon lucu. Terus terang guyon ini membuat saya sakit hati. Bukan juga karena saya diejek karena punya tato, tapi juga karena hal ini dianggap lucu, sementara bagi saya tidak. Saya tidak habis pikir, kok bisa ya orang yang bicaranya dan pola  pikirnya seperti itu bisa bekerja di Taman Budaya yang katanya jendela kebudayaan kota yang berbudaya ini?

Peserta lain yang menyadari bahwa guyon ini tidak lucu, terlebih setelah melihat muka dan senyum saya yang tidak enak, langsung merasa salah tingkah juga. Sementara si bapak katrok pegawai taman budaya ini  masih terus nyerocos soal perasaan dia tentang tato saya dan pertanyaan mengapa dia terlihat tidak bagus kalau bertato terus saja keluar dari mulutnya, saya sudah tidak lagi mau melihat wajahnya.

Mungkin perasaan saya sama tersinggungnya dengan perasaan salah seorang anak jalanan usia 10 tahunan yang sebelumnya dia lontari guyonan juga. Anak ini, entah siapa namanya, sering saya lihat meminta-minta di beberapa perempatan jalan di kota ini. Entah mungkin gizi ibunya selama mengandung dia kurang baik, dia terlahir tidak normal. Badannya berbeda dari anak-anak sebayanya. Bisa dibilang dia cebol. Nah sebelum si bapak katrok ini mengejek saya, dia juga mengejek si anak perempuan ini yang saat itu sedang bermain-main di sekitar lokasi workshop membatik. Katanya: “Ayo, kamu ikut workshop bikin  topeng, tapi kamu duduknya di depan, soalnya kalau kamu duduknya nggak di depan nanti topengnya nggak jadi.” sambil menarik tangan anak perempuan  ini.

Wah…gila.. masih ada juga orang yang sifatnya kayak gini ya? Bisanya melontarkan guyon yang menyakitkan, selalu mengarah ke fisik orang, seolah-olah dia paling sempurna saja. Kerja di tempat yang seharusnya mendukung perbedaan dan encouraging potensi budaya pula.

Ah, cukup untuk cerita sakit hati karena diejek. Toh ini bukan yang pertama kalinya bagi saya. Tapi, setelah kejadian itu, hari saya rasanya dibayang-bayangi perasaaan yang tidak enak. Saya merasa ini adalah hari dimana saya merasa lumayan sengsara dan kesadaran pribadi sebagai kaum minoritas sedang tebal-tebalnya. Acara ikutan workshop membatik pun menjadi kurang membahagiakan bagi saya. Alhasil saya sampai ngeloyor pulang di tengah-tengah acara sedang berlangsung karena merasa sangat bete. Mungkin saya saja yang sedang sensitif (tapi masak sih? Saya kan tidak sedang pms), tapi saya merasa menjadi peserta workshop paling aneh bukan hanya karena saya ini perempuan bertato satu-satunya (yang tatonya berani diperlihatkan), tapi juga karena saya baru sadar bahwa perempuan yang pergi keluar tidak memakai beha, itu adalah aneh. Hmm… :p. Hal ini saya ketahui dari kejadian berikut: waktu saya sedang nyelup kain hasil batikan saya, tank top saya kan sedikit tersingkap. Lalu ada mbak-mbak memanggil saya, dan menunjuk ke bagian dada saya. Maksudnya mungkin dia mau bilang  begini : “Mbak.. itu…gunung seksinya kelihatan.”

Saya senyum aja, tidak merasa bersalah. Tapi…pandangan beberapa wanita yang mengetahui kejadian ini langsung memperlihatkan wajah aneh kepada saya. Wah…. Hiks..

Berbicara tentang perasaan sebagai orang aneh, atau bisa juga dibilang sebagai anggota kelompok yang tidak mengikuti tatanan atau pola dan aturan yang dianggap benar di tengah masyarakat, saya jadi ingat obrolan saya dengan Anna Sutanto, kawan kental saya beberapa hari yang lalu tentang pengalaman menjadi kaum minoritas. Yang dimaksud sebagai “kaum minoritas” di sini bisa apa saja. Bisa dilihat dari etnis, agama, cara, pola atau pilihan hidup, dan lain-lain. Mungkin orang-orang macam bapak itu atau orang-orang lain yang selama ini bertindak dan berkata dengan tujuan memojokkan atau malah menteror kaum minoritas, selama ini tidak pernah merasakan bagaimana berada di dalam posisi minoritas. Tidak pernah berada di dalam posisi yang direpresif. Maka itu mereka tidak punya pemahaman tentang bagaimana menghormati hak, kondisi dan posisi orang lain.

Hmmm… saya jadi merasa kasihan sebenarnya dengan orang-orang semacam ini, orang-orang yang tidak punya pemahaman tentang posisi kaum minoritas. Dan saya pikir, di negara kita ini orang-orang semacam ini luar biasa banyaknya. Bahkan banyak yang mengukuhkan posisinya dengan bergabung dalam komunitas dengan basis yang dipandang kuat: agama. Mencari pembenaran di balik doktrin-doktrinnya. Dalihnya sih membela kaum tertentu. Tapi malah terang-terangan menjadi teror bagi masyarakat.

Jika sebuah negara masyarakatnya tidak punya pemahaman terhadap kaum minoritas, juga pemahaman terhadap perbedaan dan kelemahan orang lain, dengan jalan apa negara ini bisa maju dan menjadi bangsa yang terhormat?

Iklan

One thought on “Membatik di Taman Budaya dan Pemikiran tentang Kaum Minoritas

  1. Hiks… iya dasar manusia bego! Kayak Tootsie dong, endus dulu baru putuskan. Jangan menilai manusia dari tampangnya tapi dari dapurnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s