Sex And The City 2.. dan para penontonnya.

Hari Minggu kemarin saya pergi ke bioskop. Saya lagi ingin menghamburkan sedikit uang buat hiburan. Dan salah satu pilihan yang selalu ok adalah pergi ke bioskop dan nonton film.

Saya sama siapa? Ya sendirianlah.. :p Ya seringnya bepergian sendirian menjadi pilihan yang paling aman. Saya bisa memanjakan ego saya sepuas-puasnya: nggak perlu ngikut kemauan orang lain untuk makan apa kalau sedang lapar, nggak perlu sok nahan hasrat ingin membeli barang kalo lagi ingin belanja, dan kalau ke bioskop bisa milih nonton film apa dan kalau filmnya jelek ya nggak perlu nahan omelan dan berpura-pura puas dengan tontonannya atau malah bersikap nggak peduli sekalian soal film yang ditonton itu bermutu atau nggak karena yang penting nonton!!

Ha ha ha ha…..

Waktu itu ada beberapa pilihan film yang sedang diputar: Prince of Persian, Robin Hood by Russel Crowe, Kill Shot, Sex and The City 2, dan apalagi film yang sedang main, saya lupa..

Saya jatuhkan pilihan untuk nonton Sex and The City 2. Beberapa alasan saya nonton film itu antara lain:

(1) karena salah satu sahabat baik saya yang adalah salah satu cowok gay paling keren sedunia pada hari yang sama telpon saya  dan cerita kalau dia minggu lalu nonton Sex and The City 2, dan dia merasa sangat terkesan dengan bobot ceritanya. Dari sudut pandangnya sebagai lelaki gay yang single, dia merasa sangat tersupport dengan inti cerita yang  disampaikan. Saya merasa senang bahwa dia merasa demikian, dan saya jadi ingin menontonnya juga.

(2) karena saya datang ke bioskop sendirian, dan I’m a single lady :p Jadi nggak ada cowok di samping saya yang akan protes karena saya milih film yang mengisahkan kehidupan 4 perempuan modern yang stands up untuk independensi dan seksualitas mereka.

(3) Karena saya datang ke bioskop untuk cari hiburan, bukannya mencari bahan yang berbobot dan terlalu rumit untuk dipikirkan. Ini kan bukan kelas filsafat. Wek!! Jadi  nggak akan ada orang yang saya kenal ngejek saya karena saya memilih nonton film yang silly, mengingat juga banyak yang menilai film ini silly karena glamoritas yang diekspos habis-habisan dan katanya menceritakan 4 perempuan yang stands up untuk independensi dan seksualitasnya, tapi pada akhirnya intinya cukup klise karena lagi-lagi bisa dinilai bahwa inti dari ceritanya melulu sebagai kisah petualangan mencari cinta dan pernikahan ditonjolkan sebagai the end of a happy love relationship. Wah.. untung saja di kisah Sex and The City ada Samantha Jones yang selalu milih jadi perempuan single, karena keberadaan tokoh yang diperankan Kim Catrall ini lumayan mengurangi kesan bahwa percintaan yang nyaris sempurna itu niscaya selalu diwujudkan dalam bentuk pernikahan.

(4) karena… apa ya? Ya karena film itu baru kali ya, dan saya belum pernah nonton Sex and The City di bioskop (biasanya nonton di televisi dan atau dvd/vcd). Jadi, saya pikir menontonnya di layar bioskop adalah pengalaman yang menarik.

Gitu deh…

Nah.. waktu saya duduk di tempat duduk yang saya pilih, masih ada beberapa menit jeda sebelum film dimulai. Saya jadi tergerak untuk mengamati siapa saja yang menonton film ini. Tipe-tipe orang seperti apa yang datang dan membeli tiket bioskop dengan judul Sex and The City 2? Saya kira, pasti sebagian besar adalah segerombolan perempuan single. He he he…. ternyata tidak juga :p

Ya, memang benar, saya lihat dua sampai tiga kelompok gerombolan perempuan (kayaknya single, atau bisa juga gerombolan perempuan muda yang sedang mencanangkan “girls day out” alias hari cewek-cewek yang udah punya pacar untuk nongkrong tanpa pacarnya), tapi  saya juga menemukan beberapa pasangan kekasih heteroseksual yang datang untuk menonton Sex and The City 2. Hmm..saya jadi berpikir.. dan curiga: kali cowoknya ngalah sama ceweknya. Sebenarnya para lelaki itu tidak terlalu ingin menonton film ini, tapi… demi sang pacar, mereka ngalah aja :p.Habis, film ini saya pkir lumayan sexist. Konsep yang disampaikan banyak  berbasis dari sisi perempuan dan homoseksual, dan kebanyakan yang menontonnya dengan senang hati dan merasa benar-benar terhibur tanpa mencibir tentulah bisa dibilang setuju dengan konsep cerita yang berbasis pada perempuan dan kaum gay dan hal ini jarang sekali disetujui oleh laki-laki. Jadi saya kira, lelaki yang datang bersama pacar perempuannya, mungkin hanya menonton karena mengalah, atau memang ingin tahu dan tidak peduli sama sekali pada akhirnya dengan konsep cerita (sebagai bentuk lain dari mencibir), atau… dia adalah tipe lelaki yang sedang bimbang pada orientasi seksualnya lalu memilih amannya saja dengan berpacaran dengan lawan jenis.

Lalu yang banyak saya temukan, adalah dua lelaki datang bersama-sama untuk menonton, juga segerombolan lelaki. Menarik juga, karena dapat saya pastikan (tanpa bertanya) bahwa beberapa pasang lelaki yang datang menonton adalah pasangan gay. Darimana saya tahu hal tersebut?? Jangan tanya… it’s one of my gift 😀

Ya, gitu deh.. saya asyik nonton di antara pasangan muda mudi yang berpacaran, maupun yang bergerombol. Salah satu hal yang baru saja saya sadari sampai detik tulisan ini saya buat adalah: nyaris tidak ada penonton yang datang sendirian sewaktu sesi saya menonton film tersebut.

Sepanjang film diputar, yang seru hari itu adalah para penontonya yang meneriakkan koor yang bervariatif tapi kompak setiap kali adegan-adegan yang seksi, mendebarkan dan lucu berlangsung. Demikian antara lain koor para penonton:

“Hwaaaaaaaaa….”

“HAAAAAAA…..”

“OOooooowww…

“Huuuuuuuuuu….”

“Busyeeettt…”

“Oh my God!”

Gilaaaaaaa!!”

“Cieeeeee…..”

Jadi bikin saya lupa kalau saya datang sendirian dan jomblo. He he he…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s