“Berdebat Dengan Adik” (katakanlah dengan logat Doraemon) ..tueng.. tueng..tueng..

Kemarin pagi saya mendapat sms dari adik saya. Dan kami terlibat percakapan literer yang singkat. Ini mengenai komputer di rumah orang tua kami. Komputer ini tadinya sering saya pakai. Tapi, sejak saya tidak lagi berdomisili di rumah orang tua saya, maka saya hibahkan sepenuhnya komputer ini kepada adik saya yang terkasih.

Kendati letaknya  di dalam kamar saya (karena memang ini letak paling strategis di lantai dua), komputer itu sebenarnya bukan sepenuhnya milik saya. Dulu komputer itu dibeli untuk memenuhi kebutuhan kami, tiga anak bapak dan ibu kami untuk mengerjakan apa saja (dari mulai tugas kuliah adik, nge game kecil-kecilan, bikin karangan, kerja-kerja administratif misalnya bikin surat keterangan dll). Sekaligus juga dibeli untuk mengganti komputer lama yang kerjanya sudah tidak kompatibel lagi.

Sejak pertama komputer itu berada di rumah, saya selalu menawarkan kepada adik saya untuk menggunakan komputer itu sepenuhnya, dan saya pakai yang lama saja. Tetapi dia selalu menolak, dan bersikeras tetap pakai komputer yang lama. Soal pilihan dia untuk memakai komputer lama, sama halnya seperti kebiasaan dia dengan barang-barang lain: lebih gemar memakai kemeja atau kaos lusuh, terlihat lebih sreg bila dilihat memakai barang-barang yang tidak baru…pikir-pikir soal kebiasaan dia ini, saya menyimpulkan beberapa hal tentang dia : bahwa ada semacam kebiasaan untuk memakai barang-barang bekas kakak-kakaknya hingga dia merasa enggan pakai barang baru, dan karena sudah melabelkan diri sebagai anak yang termarginal, padahal tidak demikian. Kalau boleh dibandingkan dengan pengalaman saya sendiri misalnya, saya beli barang-barang (baru atau tidak baru) juga dengan uang hasil kerja keras sambilan saya selama kuliah. Dengan kata lain, saya tidak menunggu barang-barang jatuh dari langit atau dengan kata lain lagi (yang lebih realistis), saya tidak menunggu mendapat hibahan dari orang lain. Satu kemungkinan lain mengapa dia seringkali memilih tetap memakai barang lama sampai busuk (kadang kelihatan sengaja milih yang busuk dan kalau tadinya belum busuk dan dipakai terus sampai busuk bahkan terus bertahan dipakai dan enggak dibuang) adalah karena adik saya ini sedang terus berproses dengan konsep berhemat, konsep budaya konsumtif yang ingin dilawan dengan sedikit kombinasi konsep dan teori anti kapitalisme. Mungkin saja, karena dia ini sejenis manusia yang isi kepalanya lebih sering bersentuhan dengan konsep dan teori daripada praktik. Wah, saya yakin dia bisa cekik saya kalau baca yang saya pikir tentang dia karena bisa jadi opini saya tentangnya ini cukup keras , banyak salahnya, dan pasti menyebalkan.

Begitulah, dan kembali lagi dengan keputusannya untuk tetap memakai komputer lama, komputer yang baru itu ditempatkan di lantai atas karena dia menolak menggunakannya secara penuh. Kalau dia sedang harus menggunakan komputer baru untuk tugas-tugas yang kurang kompatibel untuk menggunakan komputernya yang lama, saya wanti-wanti dia untuk tidak segan menggunakan komputer yang baru di atas.Tapi meski sudah wanti-wanti, pada kenyataannya dia tetap saja tidak sering menggunakan komputer yang baru dan saya tidak mau cerewet untuk bolak balik tanya dan suruh dia untuk pakai komputer itu jika memang membutuhkan.

Maka kami menggunakannya secara bergantian (pada teorinya). Saya sering menggunakannya untuk keperluan kerja. Karena saya merasa kebutuhan menggunakan internet semakin meningkat, maka saya pasang internet di komputer itu. Jika kakak saya pulang, beliau pakai untuk nginternet juga. Biasanya buat buka facebook, messenger, ngegame dan lain-lain (saya juga ga pernah ngintip sih, jadi saya nggak tahu persis beliau buka apa). Kalau saya sedang kerja atau keluar rumah, adik saya pakai internetnya juga.

Singkat cerita, sejak saya tidak lagi tinggal di rumah orang tua, pengguna komputer itu cuma adik saya. Saya cuma menggunakannya sesekali saja kalau sedang pulang ke rumah orangtua. Dan biasanya komputer cuma saya pakai untuk periksa email, balas email, menulis, buka dan posting tulisan di blog. Selebihnya saya pakai untuk melihat video-video lucu di Youtube. Bener…cuma video lucu. Bukan porn. Pernah sih sesekali iseng cari video porno yang singkat-singkat, tapi banyakan malah wagu dan setengah-setengah.. bikin males. Sementara porn-nya Indonesia cuma judulnya aja yang porn, tapi isinya nggak seru. Ha ha ha. Tapi jujur, saya bukan penggemar video porn, saya lebih merasa terhibur buat nonton video lucu hewan-hewan atau dagelan-dagelan plesetan bahasa Jawa. Rasanya bisa bikin seger seharian (Lha iya jelas efeknya pasti seger seharian, karena kalo nonton video porn hasilnya bukan seger seharian, tapi jadi mesum seharian).

Nah, terakhir kali saya pulang ke rumah, akhir minggu lalu, saya pakai komputer itu beberapa jam buat buka inbox email dan blog. Itu juga di waktu-waktu adik saya sedang tidak pakai komputer dan internet.

Nah, pagi kemarin adik saya sms dan beginilah percakapan kami melalui sms:

Adik : Sakjane mok apake komputere kok jadi slowpoke? Ki Utak atik bisa didefrag tapi tetep lemot. (Sebenarnya kamu apain sih komputernya kok jadi slow? Ini diutak atik bisa didefrag tapi tetep lemot).

Saya: Ora tak apak-apakke ki. Mungkin mergo emang kudu didefrag tapi ga bisa. (Nggak aku apa-apain tuh. Mungkin karena emang perlu didefrag, tapi nggak bisa).

Adik : Kan udah bilang wis tak defrag. Tapi kayaknya wis telat disknya kudu dipartisi lagi.

Saya: Coba hapus wae fileku. Foto-foto, musik, hapus kabeh. (Coba hapus aja file-ku. Foto-foto, musik, hapus semua).

Adik : Ngapus ga pengaruh bos. Kalo mau ngapus ya mending (hapus) program ae. (Menghapus itu nggak pengaruh bos. Kalau mau hapus ya mending hapus program aja).

Saya : Kit mbiyen cen (komputer) kuwi telat. Mungkin kebanyakan template pas buka file or program. Ya hapus wae program-program sing ora kanggo. (Dari dulu kan memang komputer itu lambat. Mungkin kebanyakan template pas buka file atau program. Ya hapus aja program-program yang nggak terpakai).

Adik : ………..

Saya : Biasane aku ngganggo komputer kuwi nggo buka email karo blog. Kecuali kerep dinggo nge game kethoke mungkin dadi lambat soale nek buka game kudu running banyak program dalam waktu yang bersamaan. Aku bukan gamer. (Biasanya aku pakai komputer itu buat buka email sama blog. Kecuali sering dipakai ngegame kayaknya mungkin jadi lambat karena kalau buka gama harus jalanin banyak program dalam waktu yang bersamaan. Aku bukan gamer).

Ya gimana ya, saya nggak ngerti sama sekali tentang komputer. Jadi saya pakai logika linear orang kebanyakan saja. Kalau perkiraan saya salah, ya maafkan. Maklumilah ketidaktahuan ini.

Adik : Oh.. Ho ho jadi kamu nyalahkan saya?! Teknisi komputernya saja bilang VGAnya gak papa n masih jauh kalau buat nggame. Heh. Enough with this conversation, bye.

Saya : Yee, sopo sing nyalahke? Yo wis kuwi salahku. Piro mbayare, tak bayar kabeh. (Yee, siapa yang nyalahin? Ya udah, itu memang salahku. Berapa bayarnya, tak bayar semua).

Saya agak kesal, karena tidak mungkin komputer itu saya buat lambat. Bukan apa-apa; saya cuma pakai seharian, bahkan tidak sampai sepuluh jam. Hanya memeriksa dan balas email dan tulis-tulis. Mana mungkin bisa demikian cepat jadi lambat. Komputer itu saja yang memang sudah lambat, dan sejak saya tinggal kian hari jadi kian lambat. Bahkan dua minggu pertama sejak saya keluar dari rumah orang tua kami, komputer itu juga dibengkelkan karena kata adik saya komputer itu ga bisa hidup. Layarnya blank. Nah loh.. virus? Selama saya pakai, komputer itu baik saja dan jarang ngadat. Saya tidak sedemikian pintar untuk membuatnya lambat apalagi mati. Apa untungnya?

Adik : …………

Tidak ada jawaban dari adik saya. Lalu saya sms lagi:

Saya: Iya sih, komputer itu cuma aku pake sehari pas aku pulang. Trus langsung kubuat lambat. Memang sengaja kok. Aku soale nggak seneng lihat orang bahagia. Aku sukanya emang nyalah-nyalahin. Lebih enak sih nyalahin daripada nyelesaiin masalah sendiri.

Adik : Whatever su! (Apapun, anjing!)

Haaa..saya dikatain “anjing”. Ya udah saya sms balik aja :

Saya : Kaing…

Nah, begitulah akhir obrolan kami melalui sms. Saya berakhir sebagai anjing. Tadinya setelah saya “kaing kaing” itu, saya mau sms lagi untuk nerjemahin maksud dari “kaing kaing” saya itu. Saya mau bilang: “Mungkin windowsnya yang rusak, jadi harus re install, dan bisa jadi ada virus dari situs-situs internet yang nggak jelas. Tapi..nggak jadi deh ngirim sms terjemahan bahasa anjing saya, soalnya saya nggak pernah buka-buka website yang nggak jelas. Saya tahunya adik saya sering buka website-website hentai dan manga. Mungkin lambatnya dari situ. Dan kami sudah pasang anti virus di komputer itu dan selalu update anti virusnya tiap kali online. Jadi.. urunlah saya sms lagi. Ntar malah jadi panjang berantemnya karena saya terkesan menuduhnya dua kali karena buka situs-situs yang unusual.

Ya sudahlah, saya milih tetap jadi anjing aja…

“Kaing….!”

Iklan

2 thoughts on ““Berdebat Dengan Adik” (katakanlah dengan logat Doraemon) ..tueng.. tueng..tueng..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s