Solitudia (sebuah catatan tentang kesendirian yang pernah terselip entah dimana)

Aku menolak ajakan seorang kawan sore ini untuk nongkrong dalam rangka malam mingguan. Ia berencana untuk ngopi di sebuah kafe baru yang terletak di sebuah jalan utama yang paling ramai di kota Jogja. Beberapa jam sebelumnya ia mengajakku dan aku berkata bahwa jika pacarku nanti malam ada acara lain sehingga tidak bertemu denganku, kemungkinan besar aku bisa ikut dengannya.

Demikianlah, dan sedikit lebih sore dari itu Ia muncul di depan pintu kamar kosku di antara sisa-sisa hujan. Seperti janji sebelumnya, ia bertanya apakah aku jadi ikut nongkrong dengannya. Aku jawab dengan keraguan, di sela tanganku yang sibuk mondar-mandir dengan seterikaan. Setumpuk kaos-kaos milikku dan beberapa potong milik pacarku, celana pendek, beberapa potong rok dan pakaian dalam.

”Mmm… sepertinya tidak jadi.”

“Lho… tadi katanya mau ikut. Kamu bilang pacarmu ada kerjaan.”

Aku bingung juga bagaimana harus menjawabnya. Di satu sisi aku tidak ingin pergi, tapi di sisi lainnya aku tidak ingin menolak ajakannya. Aku belum pernah pergi keluar dengannya tanpa ada urusan pekerjaan hanya untuk sekedar ngopi, makan, atau nongkrong misalnya.

Aku bukan tidak ingin pergi karena dia bukan seorang yang baik. Sebaliknya, dia adalah seorang kawan yang sangat baik. Dia menyenangkan, lucu, dan tidak membosankan. Lantas apa?

Aku putar otak, berpikir keras mencari alasan mengapa aku menurunkan niatku dan mengapa harus berkata tidak.

Dia bertanya lagi mengapa aku tidak mau ikut, dan aku nyaris meminta satu saja alasan mengapa dia berpikir bahwa aku harus ikut dengannya untuk nongkrong. Tapi aku lantas memberikan sebuah pengakuan, “Sebenarnya aku takut jika nantinya kamu merasa bahwa aku ternyata bukanlah seorang yang bisa diajak bersenang-senang.”

Lantas, dia berkata, “Ya sudah, nanti kita nggak akan bersenang-senang deh. Kita kumpul dan ngobrol dengan kawan-kawan aja.”

Aku diam. Hanya tanganku saja yang ribut dengan lipatan-lipatan pakaian, semprotan pewangi dan pelicin pakaian.

“Memangnya kamu tidak ada kawan untuk malam mingguan?”

“Ya nggak juga sih.”

“Kok nggak juga?”

“Ya antara iya dan tidak. Karena kalau teman-temen yang biasanya ngumpul kutelpon sekali aja mereka pasti langsung bisa berangkat nemenin.”

“Nah, tuh, kamu kan ada temennya. Lalu kenapa aku harus ikut?”

“Ya paling tidak buat aku kan ada something new kalau kamu ikut.”

“Maksudmu, aku something new for you gitu??”

“Ya enggak…at least for them.”

“Mmm.. terus terang, aku kurang merasa nyaman berada di tengah orang-orang baru.” Kataku dengan perasaan setengah tidak yakin; seperti tidak rela mengucapkan sesuatu yang baru saja aku katakan padanya. “Buatku, pergi dengan 3 orang rasanya cukup. Tapi kalau sudah pergi dengan lima orang atau lebih, rasanya ada yang salah.”

Dia mengangguk-angguk, mencoba mengerti pemikiranku, perasaanku. Meskipun aku tahu, dia pikir pendapatku ini aneh. Aku tahu hal ini dari cara dia mengernyitkan dahinya; seperti berkata: “perempuan yang aneh.”

“Dan aku lebih merasa nyaman di tengah kesunyian daripada keramaian.” Lanjutku.

“Oh ya? Berarti kita bertolak belakang ya.”

“Iya…”

“Tapi tidak ada salahnya kamu ikut, dengan perbedaan kita kan siapa tahu kita bisa saling mengisi.”

“Huehehehehe…” aku tertawa mencibirnya. Kalimatnya barusan terdengar seperti sebuah kalimat yang biasa dan standar diucapkan dalam seminar atawa terapi bertema “Menjalin relationship yang baik”.

“Halah… kalimatmu itu…”

“Hehehehe…. Jadi gimana? Beneran nggak jadi ikut?”

Aku diam dengan tatapan masih tertuju padanya. Aku menyungging senyum yang mungkin jika diartikan, artinya: “Iya, maaf, aku tidak ikut.”

“Satu… dua…. “ dia menghitung, “Tit! Nggak ikut beneran?”

Aku mengangguk, masih dengan senyum. Kali ini senyum sungkan, tidak enak karena telah menolaknya.

“Sori ya.”

“Ya nggak papa. Lain kali kan juga bisa.”

“Ya…”

“Dah…”

“Dadah…”

Dia pergi. Aku masih mengakrabi seterikaanku. Di luar aroma hujan masih kental, bercampur dengan aroma bekas makanan anjing-anjingku, juga bau comberan dan cucian piring. Aku masih gundah dengan penolakanku pada ajakan temanku barusan dan seiring dengan kepergiannya, pikiran ini bukannya ikut berlalu, aku malah jadi kian memikirkannya.

Tentang kenyamananku pada kesunyian dan kesendirian. Apakah ini semacam penyakit yang sedang menjangkiti atau aku memang tidak pernah merasa nyaman dengan keramaian? Apakah alergi dengan keramaian adalah sebuah hal yang wajar? Apakah ini merupakan hal yang sementara atau ini memang sudah menjadi karakter tetapku? Penyendiri. Aku sadari, memang belakangan ini aku lebih memilih untuk berdiam di kamar, bermain dengan anjing-anjing dan pergi ke tempat-tempat yang tidak banyak dikunjungi orang. Jika terpaksa harus pergi ke tempat ramai, aku memilih untuk pergi sendirian saja. Entah mengapa rasanya lebih nyaman.

Tetapi sebenarnya kenapa aku tidak ingin ikut pergi dengannya? Apakah karena dia seorang laki-laki single sedangkan aku sudah punya pacar? Apakah jika bukan dia yang mengajakku pergi lantas aku iyakan? Mmm, sepertinya tidak juga. Siapapun yang mengajakku pergi, mungkin juga tetap akan kulewatkan.

Sesungguhnya aku benci untuk mengaku sebagai seseorang yang kurang nyaman berada di tengah orang-orang baru. Sebab bukankah menjadi seorang yang terbuka terhadap perubahan dan gemar menciptakan pertemanan dengan banyak orang adalah sebuah hal yang baik, dan bersikap sebaliknya adalah sebuah hal yang buruk? Aku jadi seperti seorang yang berpikiran sempit dan minder, juga terlihat seperti seseorang yang tidak menyenangkan atau malah salah-salah nanti dibilang sombong. Tetapi aku memang sedang benar-benar malas untuk bertemu dengan orang baru. Apalagi segerombolan orang-orang yang belum kukenal sebelumnya. Orang-orang yang belum terbiasa atau belum pernah mengobrol dan jalan bareng denganku. Aku terlalu lelah untuk memulai sesuatu dari awal, meraba-raba dan menakar untuk kemudian menempatkan diriku pada sebuah posisi di dalam sebuah kelompok. Aku lelah untuk selalu berusaha membentuk kesan atau imej tentang siapa diriku pada orang-orang baru dengan harapan orang-orang baru itu memberikan respon dan sikap yang sesuai dengan harapanku. Aku tidak siap dengan kemungkinan terjadinya pertarungan peran karena kemalasanku untuk membentuk dan menampilan imej: aku yang sebenarnya—aku yang otentik, sebagaimana yang dikenal oleh teman-teman dekatku.

Apakah dengan kata lain ini semacam ketakutan pada kerumunan?—Sesuatu yang dipandang sebagai penghilangan identitas. Bahwa keotentikan dan keunikan diri seseorang akan tenggelam ketika dia berada di dalam kerumunan. Apakah ini yang dinamai proses mencari diri sendiri? Bahwa kita akan menemukan siapa diri kita sebenarnya ketika kita jauh dari orang lain, jauh dari sekumpulan orang dan kerumunan. Ketika kita seorang diri.

Mungkin juga aku keras berpikir saat ini karena apa yang telah kuutarakan tentang ketidaknyamananku untuk bertemu dengan orang-orang baru sebenarnya tidak cukup tepat menggambarkan diriku yang sebenarnya. Aku tidak sebegitu tertutup dan penyendiri setiap saat, tetapi kondisiku saja yang sedang membuatku menginginkan begitu. Ini adalah sebuah fase yang akan segera berlalu setelah sesuatu yang baru datang dalam hidupku dan segala sesuatu menjadi terbarui juga.

Atau ini mungkin hanya semata-mata ketakutanku. Takut kalau-kalau aku tidak dipandang sebagai seorang yang baik. Takut dilihat sebagai seorang yang tidak menyenangkan. Takut dipandang sebagai seorang yang tidak punya apa-apa.

Aku hanya seorang pengangguran dengan pekerjaan serabutan dan usaha kecil-kecilan yang belum jelas arah kemajuannya, aku tinggal di sebuah kamar kos yang kurang bersih, dekat dengan pembuangan sampah dan diterbangi banyak lalat jika musim hujan tiba. Tetapi mengapa aku jadi sedemikian rendah diri jika persoalannya hanya sebatas materi yang tampak? Aku punya banyak hal di dalam sana, di dalam diriku sebagai seseorang. Aku punya orang-orang yang sayang padaku, aku punya anjing-anjing yang manis dan lucu, aku masih punya tempat tinggal yang layak untuk kutinggali, yang melindungiku dari panas dan hujan. Dan aku juga masih bisa berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik esok hari.

Aku sekarang hanya sedang berada di dalam sebuah gua. Sedang melindungi diri dan bersembunyi dari badai dan apapun yang buas di luar sana. Aku akan segera keluar dan kembali melihat dunia ketika saatnya tiba dan aku akan kembali terkagum dengan keindahan dari berbagai hal yang bisa aku lihat. Kehidupan.

Oh… Gubrak!! Rasanya aku ingin menimpuk kepalaku sendiri saat ini. Karena kesimpulan yang baru saja aku rumuskan seolah-olah begitu bijak dan common. Sebuah keniscayaan.

Bodoh…. bodoh sekali. Hahaha…. Aku menggelengkan kepalaku sambil menjulurkan lidahku, muak sendiri dengan pemikiranku barusan yang serupa kata-kata pertapa tetapi lebih terdengar sebagai pembenaran.

Aku tumpuk baju-baju terlipat di depanku. Hah. Sudah rapi semua. Yak, sepertinya apapun tidak begitu penting sekarang kecuali melipat baju-baju seterikaan, menyapu sisa-sia hujan, dan mengepel lantai. Ayo, bekerja. Bekerja! Semangat!

Di luar, anjing-anjingku berlarian, bermain dengan genangan air. Sore bergerak ke malam. Aku menengadah, ke arah langit. Sepertinya akan ada bintang malam ini.

Oktober 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s