4 Kematian; 2 Kematian dan 2 Kelahiran Kembali

Sebelum anda membaca cerpen ini, saya ingin memberi sedikit komentar tentang cerpen saya yang satu ini. Saya baru saja menyelamatkan cerpen ini dari salah satu file folder yang hendak saya buang. Tapi saya pikir, jangan dibuang deh.. karena dari cerpen ini saya bisa kembali menelusuri jejak tentang siapa diri saya yang sekarang.

Lucu juga.. karena pikiran-pikiran saya di cerpen ini begitu kontemplatif dan religius. Seperti pertapa! Ha ha…

Ok, silahkan membaca!

Beberapa hari yang lalu Linka kedatangan sepucuk surat dari seorang teman lamanya . Dia adalah kawan Linka sejak Linka duduk di kelas tiga SMU. Namanya Gute. Gute sudah sering mengirim surat pada Linka sebelumnya, dan semua ini bermula dari sebuah keinginan kuat dari Linka untuk menulis sebuah surat bagi Gute.

Pada suatu hari, setelah hampir dua tahun Linka lulus dari bangku SMU, karena pertimbangan tertentu, Linka memutuskan untuk mengirim surat buat Gute dengan berbekal sebuah alamat yang tertera di buku kelulusan SMU. Pada awalnya Linka sangsi bahwa surat yang sudah dia tulis itu akan berhasil sampai ke tangan Gute. Tetapi ada keyakinan dan keinginan yang sangat kuat dari Linka untuk mengirimnya tanpa berpikir panjang tentang kekhawatirannya tersebut. Setelah beberapa minggu surat itu berdiam di alamat yang tidak lagi didiami Gute, sampai juga surat itu ke tangan Gute. Sejak saat itu Gute tidak pernah berhenti berkirim surat untuk Linka. Dia pernah berjanji untuk tidak berhenti mengirimi Linka surat hingga seribu kali. Linka senang dengan surat-surat Gute yang setia datang padanya. Dan Linka dengan setia juga, membaca tiap surat Gute dan selalu berusaha untuk membalasnya.

Namanya Gute, teman Linka selama satu tahun di kelas tiga SMU. Anaknya kalem, berperilaku sopan. Selalu menyebut dirinya dengan “saya” setiap kali dia bercakap dengan siapa saja, kepada yang lebih tua, lebih muda, dan juga kepada yang sebaya dengannya. Selama satu tahun mereka belajar bahasa di kelas yang sama, Linka mengagumi pribadi Gute yang begitu sopan, disamping karena Gute sebenarnya menyimpan selera humor yang tidak terduga di balik senyumnya yang sama sopan dengan perilakunya. Hanya saja, mungkin Gute tidak tahu bahwa Linka mengaguminya, dan hal ini bukan merupakan sebuah persoalan.

Linka selalu mengagumi orang-orang yang bisa membuatnya tertawa. Seperti kesukaannya pada film-film komedi. Mungkin karena hidup Linka sebagian besar terisi dengan kesedihan dan pengalaman pahit, sehingga ia ingin mengisi banyak kekosongan dan menutup kesedihan itu dengan tertawa sepuasnya. Semacam mekanisme recycle bin: kesedihan yang didaur ulang sebagai komedi dan tawa. Linka rasa, tertawa adalah letak rahasia kesehatan jiwanya hingga saat ini. Jika ia tidak banyak tertawa dan menanggapi banyak hal dengan tawa, mungkin ia sudah lama menjadi gila.

Mungkin karena Gute begitu sopan, lucu dan agak misterius, Linka merasa tidak ingin mencoret Gute begitu saja dari hidupnya. Kelulusan mereka dari SMU dan tidak lagi berada pada kelas dan universitas yang sama bukan sebuah alasan bagi Linka untuk membiarkan Gute tenggelam begitu saja di balik jarak dan kemunculan orang-orang baru dalam hidupnya. Jadi, itulah sebenarnya alasan utama mengapa Linka memutuskan untuk mengirimi Gute sebuah surat pada suatu hari meski tidak lagi jelas dimana keberadaannya. Hanya untuk sekedar bertanya apa kabarnya, sekarang Gute sedang berada di mana, juga bercerita tentang apa saja yang Linka sedang lakukan dan pikirkan selama mereka tidak pernah bertemu dan tahu kabar masing-masing.

Beberapa hari yang lalu, Linka membaca sebuah surat Gute yang baru saja datang. Sepertinya ini yang kesekian kali, tetapi belum mencapai yang ke seratus. Surat itu diletakkan di meja makan di ruang tengah. Sebagai seorang pengangguran yang sedang menunggu panggilan kerja dan tidak punya banyak hal untuk dikerjakan, sebuah surat dari kawan lama menjadi satu hal yang sangat menyenangkan. Linka membuka dan membacanya dengan antusias.

Gute sedikit bercerita tentang rutinitasnya. Apa saja yang sedang ia lakukan dan usaha-usaha yang sedang ia coba untuk kembangkan. Kali ini Gute bercerita bahwa dia sedang mengembangkan bisnis pernjualan madu, dan ia juga sedang mengembangkan sebuah software komputer yang Linka tidak tahu jelas bagaimana dan apa fungsinya. Lalu ia mengatakan dalam suratnya bahwa seperti surat-suratnya sebelumnya, bersama surat itu ia menyertakan sebuah cerpen karangannya sendiri. Cerpennya kali ini terinspirasi dari kisah seorang sahabatnya yang sudah almarhum, bernama Zecca.

Zecca adalah seorang pemuda yang dulunya ceria. Senang bermain gitar dan bernyanyi. Dikisahkan Gute bahwa dahulu Zecca sering mengajak Gute bermain gitar dan bernyanyi tiap kali Gute disergap kesedihan. Dan Gute ingat, mereka dulu pernah ngamen bersama di kereta api karena mereka berdua dimarahi kondektur kereta sebab mereka sudah nekat naik kereta tanpa membeli tiket. Zecca tetap bernyanyi dan gembira meski ia tidak punya uang, dan merasakan kegembiraan Zecca melalui nyanyiannya, Gute menjadi gembira juga.

Zecca begitu punya semangat hidup. Gute bilang, Zecca memiliki api di dalam hatinya yang sulit padam. Tetapi, kemudian Zecca tidak lagi menjadi Zecca yang bersemangat. Zecca berubah, Zecca menjadi pendiam dan berbeda karena dikecewakan oleh dunia. Dia sudah tidak peduli lagi pada apa yang dia lakukan. Zecca tidak punya cita-cita lagi. Dan beberapa bulan setelah Zecca berubah dan tidak lagi percaya pada semuanya, Zecca tertabrak bus di depan rumahnya. Zecca tidak tertolong dan meninggal. Nyanyian mereka di gerbong kereta ketika di Surabaya itulah kali terakhir Gute melihat Zecca yang penuh semangat. Kenangan tentang Zecca adalah sebuah pelajaran berharga dan Zecca adalah sosok sahabat yang tidak akan pernah bisa Gute lupakan.

* * *

Suatu siang, pukul satu Linka pergi ke warnet di belakang rumah kontrakannya. Ini memang internet cafe terdekat yang selalu menjadi pilihannya jika ia ingin mengirim e-mail atau mengecek inbox e-mailnya, juga chatting dengan teman-temannya di luar kota. Tidak ada satu emailpun dari temannya siang itu. Hanya junk mail saja yang mengisi penuh inbox-nya. Kurang lebih seratusan junk mail. Linka lantas meng-klik satu persatu dan menghapusnya, daripada memenuhi inbox. Tidak ada yang menarik dari internet siang itu. Kecuali sapaan dari seseorang di Yahoo messanger-nya. Seorang kawan yang pernah sangat ia kenal semasa dia kuliah.

Yan: Hoi. Apa kabar Linka?

Linka: Baik. Tumben Yan. Lagi kerja?

Yan : Iya. Tapi santai sih. Kamu sendiri sedang apa? Kerja juga?

Linka : Nanti sore sampai malam jam 12 kerjanya. Sekarang aku lagi cek email aja. Sama cari-cari pola rajutan untuk bikin syal.

Yan : Emang kerja apa? Kok kerja sore sampai hampir pagi?

Linka : Aku buka tempat makan dan minum. Semacam kafe gitu. Sudah hampir setahun ini berjalan.

Yan : Akhirnya kesampaian juga ya, punya kafe. Kamu dulu kan punya kepinginan itu.

Linka: Iya, begitulah. Padahal aku sudah lupa dengan keinginan itu.

Yan : Terus kalau pagi sampai siang kamu ngapain?

Linka : Aku bersih-bersih dapur, belanja, siap-siapkan bahan untuk buka kafe.

Yan : Udah? Gitu aja?

Linka : Ya… kalau nggak gitu ya aku santai. Melakukan hobiku.

Yan : Misalnya?

Linka : Bikin kalung dari batu-batu. Atau ya bikin rajutan. Kalau kalung itu ada yang berminat membeli, ya aku jual, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa.

Yan : Penghasilan kafe bagaimana?

Linka : Ya, cukuplah. Tidak banyak, tapi masih mencukupi. Selama masih bisa dipakai makan dua kali sehari, buatku sudah cukup.

Yan : Kamu nggak kepingin kerja lainnya?

Linka : Nggak. Aku merasa senang.

Yan : Kamu nggak kerja lagi di LSM?

Linka : Nggak. Proyek LSM kemarin lagipula sudah selesai.

Yan: Kamu nggak cari LSM lain?

Linka : Enggak deh. Aku capek melihat sebagian besar orang-orang di situ. Mereka banyak yang terlampau berambisi. Aku sekarang pingin beristirahat dan menikmati apa yang ada saja. Aku capek hati.

Yan : Ya, aku mengerti sih apa yang kamu rasakan dengan orang-orang macam itu. Yang terlampau berambisi. Memang banyak yang begitu. Bersikap peduli, tetapi mereka sebenarnya mencari untungnya sendiri.

Linka : Ya, kira-kira begitu.Sulit cari LSM yang orang-orangnya benar-benar punya maksud tulus. Aku tidak mengatakan bahwa tidak banyak LSM yang tujuan dan kerjanya sungguh-sungguh dan tulus. Ada, tapi jarang.

Yan : Ya memang begitu adanya. Tapi apa kamu tidak ingin mendapatkan yang lebih?

Linka : Tidak. Aku sudah senang dengan yang kumiliki sekarang. Lagipula kalau mengikuti keinginan mendapatkan yang lebih, maka kita tidak akan pernah merasa cukup. Aku berusaha selalu untuk mencukupkan diri, sebab kalau tidak, aku bisa serakah.

Yan : Kamu nggak pingin punya sesuatu yang orang lain juga punya? Misalnya laptop, kamera, tempat tinggal yang lebih baik, tabungan? Semua itu butuh uang kan?

Linka : Tidak. Aku sudah punya semuanya. Aku punya penghasilan yang cukup. Tidak banyak, tapi cukup. Aku bisa makan paling tidak dua kali sehari. Kalau lapar dan sedang tidak ada uang, aku bisa buat makanan dari bahan-bahan yang ada di kafe, aku juga punya dua anjing yang lucu-lucu. Aku punya pacar yang aku sayang dan sayang sama aku. Kalau aku pingin hiburan, aku bisa pinjam film atau ke warnet di belakang tempat tinggalku. Aku bisa santai kalau aku sedang capek. Lengkap. Aku tidak kekurangan Yan. Kalau bisinis ini pun gagal kemudian hari, ya aku tidak akan terlalu ngotot mempertahankannya atau malah menyesal. Aku pasrah saja.

Yan : Oh ya? Beruntunglah kamu karena bisa merasa seperti itu. Hmm… Tidak ada hal lain yang ingin kamu lakukan?

Linka : Ada.

Yan : Apa itu?

Linka : Aku pingin mencari pola rajutan supaya aku bisa membuat rajutan yang bagus.

Yan : Hahaha…. Wah, sudah setenang itu ya hidupmu?

Linka : Tenang bagaimana maksudmu?

Yan : Sampai-sampai kamu bisa merajut. Merajut kan butuh ketenangan, kesabaran dan ketelitian. Aku sih nggak bisa melakukan itu. Bukan karena aku laki-laki. Kalaupun aku seorang perempuan, aku juga tidak yakin aku akan bisa merajut.

Linka : Kenapa tidak? Ini tidak sulit kok.

Yan : Entah, tapi aku tidak bisa. Kamu hebat aja.

Linka : Hebat bagaimana? Aku rasa ini biasa-biasa saja.

Yan : Kamu hebat, bisa hidup seperti itu. Aku nggak bisa. Belum bisa berpikir seperti kamu. Belum bisa berpikir untuk mencukupkan diri. Di awal tahun ada seseorang yang mengatakan hal yang persis sama seperti yang kamu pikirkan dan katakan di atas: kita harus mencukupkan diri. Kalau nggak begitu, apa yang sudah kita peroleh tidak akan pernah cukup.

Linka : Oh ya? Siapa yang bilang itu sama kamu?

Yan : Saudaraku. Dan itu seperti jadi pesan terakhirnya. Karena setelah ketemu aku dan bilang hal itu, dia meninggal.

Linka : Masak?

Yan: Ya. Kecelakaan motor. Dia meninggal seketika.

Linka: Oh, maaf soal saudaramu itu. 

Yan: Ya. Santai saja. Tetapi yang menjadi pertanyaanku, kenapa dia mengatakan pesan terakhirnya itu ke aku? Kan aku jadi penasaran. Ada apa sebenarnya? Apa maksudnya? Kenapa setelah mengatakan pesan itu tidak lama kemudian dia mati? Dia masih sangat muda.

Linka : Tidak tahu Yan. Mungkin dia sudah menemukan semacam pencerahan dan dia ingin kamu juga merasakan hal yang sama. Beberapa orang sampai usia tua masih diperbudak oleh ambisinya dan karena itu hidup mereka tidak pernah tenang. Menurutku saudaramu itu sudah menemukan apa makna hidupnya dan dia sudah tenang. Tidak tahu benar atau tidak, tapi beberapa orang bilang bahwa orang-orang yang diambil nyawanya ketika usia mereka masih muda biasanya orang-orang yang baik. Kecuali mereka mati karena bunuh diri.

Yan : Ya mungkin memang begitu.

Linka : Tapi aku tidak berharap untuk mati sekarang. Lagipula aku juga bukan orang yang baik. Aku sedang berusaha menjadi orang baik. Aku ingin hidup tenang saja.

Yan : Ya, semoga umurmu panjang.

Linka : Aku tidak minta umurku panjang Yan. Jika memang sudah saatnya diambil nyawa kita, ya ambil saja. Daripada hidup berlama-lama tapi tidak punya arti lagi.

Yan : :) . Aku sendiri merasa cita-citaku belum tercapai, jadi aku berharap umurku masih panjang untuk bisa mencapai cita-cita itu.

Linka : Kamu ingin kedudukan yang lebih baik dan gaji yang besar dalam pekerjaanmu? Semua orang ingin itu.

Yan : Ya, kurang lebih begitu. Kalau kamu bagaimana? Apa cita-citamu?

Linka : Kamu ingin jawaban yang seperti apa? Cita-cita yang bagaimana? Sejenis cita-cita seperti insinyur, dokter atau pilot?

Yan : Entahlah. Terserah kamu. Apa cita-citamu?

Linka : Aku menonton sebuah film berdasarkan memoir seorang penata rambut berlisensi yang bukunya sendiri sudah aku baca sebelum menonton filmnya. Judulnya “Running With Scissors”. Di film itu, Augusten, si penulis, harus menjalani hidup yang tidak seperti kebanyakan orang alami. Sejak kecil ia diterlantarkan oleh ibunya. Ibu Augusten, bernama Deirdre, bercita-cita menjadi seorang seniman sastra. Deirdre ingin menjadi seorang penulis puisi terkenal dan karena obsesi akan impiannya itu, ia menjadi gila, hingga menelantarkan keluarganya. Terutama Augusten. Deirdre tidak mampu menjalankan perannya sebagai ibu karena terlampau obsesif dan kecanduan obat penenang, dan karena itu Augusten sejak usia awal belasan dititipkan kepada keluarga psikiater yang ternyata memiliki kebiasaan-kebiasaan hidup abnormal. Dalam perkembangan berikutnya, di tengah-tengah kegilaan para anggota keluarga angkatnya, Augusten membangun mimpinya untuk menjadi seorang penata rambut. Dan dalam salah satu adegan di film itu, ibu angkatnya yang bernama Agnes (istri si dokter jiwa) mengatakan kepada Augusten bahwa adalah bagus memiliki sebuah mimpi, karena mimpi membantu kita melewati masa-masa sulit. Lalu Augusten bertanya kepada Agnes, ibu angkatnya: “Agnes, apa impianmu?” Agnes menjawab bahwa ia tidak tahu apa impiannya. Ia tidak punya cukup waktu untuk berkhayal mempunyai impian. Ia dulu terlalu sibuk bekerja agar suaminya yang dokter kejiwaan bisa melanjutkan sekolah, ia terlalu sibuk membesarkan dan mengurus anak-anaknya. Dan Augusten berkata, bahwa mungkin itulah impian Agnes yang pernah Agnes miliki, itulah cita-cita Agnes. Memiliki sebuah keluarga, dan itu tidak buruk.

Yan : Aku tidak mengerti maksudmu Linka.

Linka : Kadang orang berpikir bahwa cita-cita itu adalah sesuatu yang tinggi. Sesuatu yang berada di luar diri kita, yang harus kita raih, kita kejar. Sesuatu yang tinggi dan dapat kita banggakan di mata orang lain. Tapi kadang kita tidak sadar, bahwa cita-cita tidak selalu harus setinggi itu. Cita-cita tidak harus sedemikian menyiksa diri kita.

Yan : Hmm…. Ya, mungkin sekarang aku mengerti maksudmu. :)

Linka : OK. :) itu saja yang bisa kujawab dari pertanyaanmu soal impianku Yan. Sekarang ini aku hanya ingin hidup damai dan tenang.

Yan : OK.

Linka : Aku harus pergi Yan.

Yan : Kenapa buru-buru?

Linka : Aku cuma menjatah tujuh ribu saja untuk online. Ini sudah hampir tujuh ribu. Lagipula kalau lama-lama kan pemborosan namanya. Sayang, kan dunia sedang krisis energi.

Yan : OK deh.. Sampai ketemu lagi. :)

Linka : Ya. Sama-sama. :)

Yan : Pembicaraan ini mencerahkan. Terima kasih Linka. :)

Linka : OK. Sama-sama. See you.

Linka sign out, melangkah ke kasir internet cafe itu, lalu pulang ke kontrakannya. Ia lantas bekerja dari sore sampai malam hari seperti biasa. Dan esok hari, seperti itulah lagi rutinitasnya. Terus menerus. Menjalani rutinitas yang rutin.

Di balik kacamata Linka, dengan kehidupan yang terus menerus seperti itu dunia rasanya tidak bulat seperti yang Copernicus katakan. Ternyata dunia yang ia pertahankan untuk ia tinggali adalah sebuah tempat yang datar alias flat sebagaimana yang dipercayai oleh para pemuka agama dan ahli filsafat di jaman purba. Semuanya hambar dan tidak berasa, sebuah kehidupan tanpa keinginan. Semuanya begitu rutin dan lamban dalam kehidupan Linka, sampai pada suatu hari, seseorang yang tak pernah Linka duga datang ke dalam hidupnya. Mengetuk pintu rumahnya yang sunyi dan dingin. Ia membuat Linka terbangun.

Lelaki itu bernama Titen. Ia datang tiba-tiba tanpa peringatan seperti hujan yang datang tanpa mendung. Sebenarnya Titen adalah seseorang yang Linka kenal sebelumnya. Mereka berdua kenal satu sama lain karena diperkenalkan oleh seorang kawan. Titen dan Linka tidak benar-benar saling mengenal dengan baik sebelumnya. Mereka tidak pernah mengobrol. Jika mereka bertemu dan mengobrol, itu bukanlah sebuah obrolan yang mendalam dan pertemuan mereka selalu merupakan pertemuan mereka di antara teman-teman lainnya. Pertemuan-pertemuan mereka di masa lalu lalu adalah pertemuan-pertemuan yang sambil lalu.

Tetapi kali ini tidak ada teman-teman di antara Linka dan Titen sehingga Titen berkesempatan mengobrol dengan Linka berdua saja karena teman-teman mereka sedang tidak berada di dalam kota, dan pertemuan itu merupakan sebuah ketidaksengajaan. Dalam pertemuan yang sangat singkat itu, Titen dan Linka merasakan sebuah hal yang sangat berbeda. Mereka menemukan bahwa mereka saling menyukai.

“Kamu berbeda, Titen.” Kata Linka di tengah-tengah makan malam itu.

“Berbeda? Berbeda bagaimana maksudmu?”

“Entah. Kamu lebih menarik dari sebelumnya.” Linka tersenyum.

“Oh ya?”

Setelah makan malam, mereka berkeliling kota dengan motor Titen. Lantas Linka mengusulkan agar mereka mengobrol saja di beranda kontrakan Linka. Titen menyetujuinya.

“Kenapa kamu merasa aku berbeda Linka?” Tanya Titen lagi ketika mereka telah duduk di kursi beranda. Jarum jam telah menunjukkan pukul sebelas. Tidak ada seorangpun lewat di jalan depan rumah itu, membuat pembicaraan mereka menjadi kian personal.

“Ya. Mungkin karena aku tidak pernah berdua saja mengobrol dengan kamu sebelumnya. Tapi aku percaya dan sudah menduga bahwa kamu bukanlah orang yang seperti teman-teman katakan.”

“Memangnya mereka bilang apa tentang aku?”

“Hmm… kamu mudah jatuh cinta. Kamu suka dengan banyak perempuan, dan… masih banyak lagi hal lain yang mereka katakan tentang kamu.”

“Ah, apa yang mereka bilang tentang aku itu tidak benar. Banyak teman bilang ke aku, kenapa kamu begini, kenapa kamu begitu, tapi aku tidak mengerti apa sebenarnya yang mereka katakan karena aku memang tidak seperti yang mereka kira. Mungkin karena aku tidak banyak komentar dan menanggapi apa yang mereka bilang tentang aku, jadi mereka terus menerus hidup dengan prasangka itu tentang aku.”

“Ya. Mungkin. Dan aku percaya, kamu tidak seperti yang mereka katakan Titen. Mungkin perempuan-perempuan itu saja yang genar dekat-dekat denganmu, dan aku yakin kamu tidak enak untuk mengatakan terus terang bahwa kamu tidak suka mereka. Kan?”

“Linka….”

“Hmm?”

Tiba-tiba saja Titen mencium Linka. Linka terkejut, tetapi ia membalas ciuman Titen juga. Lalu mereka berciuman. Tetapi kemudian Linka menepis pelukan Titen dan menghentikan semuanya.

“Titen… Sepertinya kita salah melakukan ini.”

Titen diam saja, mencoba untuk meraih Linka kembali dan memeluknya. Tetapi Linka terus berbicara. “Kamu tahu kan, Marischa teman kita? Linka terus berusaha menjauhkan tubuh Titen darinya.

“Iya, aku tahu.”

“Kamu harusnya tahu juga kalau dia suka kamu sejak dulu.”

“Iya.. lalu bagaimana? Aku tidak pernah tertarik sama dia.”

“Tapi apa jadinya kalau dia tahu apa yang sedang kita lakukan sekarang. Aku sudah mengkhianati Rischa. Kamu juga.”

“Ya sudah… maafkan.” Titen bergerak menjauh. Kembali ke jarak yang semula ia miliki di sofa beranda itu, tidak terlalu dekat dengan Linka.

“Kamu tahu tidak? Dari pertama aku melihatmu dulu aku tahu kalau aku sudah suka sama kamu. Tapi aku tidak pernah menghiraukan perasaan suka itu, karena aku tahu Marischa suka sekali dengan kamu.”

Mata Titen membinar, seperti tidak percaya dengan didengarnya, “Linka, kenapa dulu kamu tidak bilang kalau kamu suka aku?”

Linka menggelengkan, “Buat apa aku bilang? Toh aku masih punya pacar juga waktu itu. Dan aku tidak mau pertemananku dengan Rischa hancur.”

Titen diam. Hanya menatap Linka. Ia meraih tangan Linka dan menggenggamnya. Sementara Linka menatap wajah Titen. Matanya menunjukkan kesedihan dan kebingungan.

“Kenapa Linka?” Titen bertanya dengan risau.

“Kamu sudah menciumku.”

“Iya.”

“Bagiku, hal ini adalah sebuah hal yang besar Ten.”

“Lalu?”

“Aku tidak ingin hal ini terjadi kecuali ada sesuatu yang pasti.”

“Ah, maaf Linka. Tapi aku tidak bisa memberikan kepastian apapun.”

Linka mengangguk. “Ya aku tahu. Toh kamu sebentar lagi akan pergi jauh juga Titen. Kamu akan pergi lama.”

“Ya. Tidak ada yang aku pikirkan lebih sekarang kecuali cita-citaku. Aku sudah lama ingin ke melanjutkan sekolahku di Jerman Link. Aku ingin memperdalam ilmuku. Aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi di bidangku.”

“Ya. Aku tahu. Aku tidak akan menghalangimu. Maka aku tidak akan menuntut apapun.”

Mereka berpandangan, dan mereka saling tahu bahwa mereka tidak bisa menahan sesuatu yang ada di hati mereka masing-masing. Mereka berpelukan.

“Apa cita-citamu Linka? Kamu masih ingin menjadi penulis?” Titen bertanya pada Linka ditengah-tengah pelukan itu. Linka menggelengkan kepalanya.

“Tidak tahu Titen. Aku lelah bercita-cita.”

“Tidak. Kamu tidak boleh lelah. Aku mau kamu menjadi seseorang yang besar. Jadilah penulis seperti yang kamu cita-citakan dulu.” Titen mengecup kening Linka. Dan tanpa sepatah katapun, saat itu Linka kembali berniat bahwa ia akan kembali kepada cita-citanya. Untuk cita-cita itulah ia akan terus hidup.

Telah seminggu lebih Titen meninggalkan Indonesia. Dan Linka merasa bahwa ia tidak bisa terus menerus menjalani rutinitasnya yang datar. Linka memutuskan bahwa ia akan berubah. Ia menggunakan setengah dari tabungannya di bank untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Linka memutuskan untuk meninggalkan kafenya dan menyerahkan semua asetnya kepada orang lain. Ia merasa lelah, sunyi, dan sendiri jika ia terus menerus berada pada posisi yang sama. ia memberikan dua anjingnya kepada orang lain yang lebih menginginkan mereka dan lebih bisa merawat mereka. Ia memutuskan untuk lepas dari ikatan-ikatan yang ia ciptakan sendiri. Hal-hal yang menjauhkan dia dari cita-citanya. Ia lantas memutuskan untuk pergi, melihat sisi lain dari hal-hal yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Kehidupan di kota lain, aktivitas orang-orang dan cara hidup mereka. Linka pergi jauh dari tempat dimana selama ini ia bersembunyi dan mengurung diri. Ia pergi jauh dan menemukan sudut-sudut pemandangan kota dari sisi yang berbeda. Linka merasa sangat bahagia dan tidak menyesal atas apapun yang hilang dan telah ia berikan dalam hidupnya. Hidupnya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya. Ia pergi sendirian. Tetapi ia tidak merasa sendiri.

* * *

Satu bulan setelah perjalanan itu berakhir, Linka kembali ke kota kelahirannya, pulang ke rumah orang tua yang sudah ia tinggalkan selama kurang lebih satu tahun. Dan ia menerima sepucuk surat dari Gute. Gute bercerita tentang almarhum Zecca. Gute berkata bahwa sebenarnya Zecca mati bukan karena bus yang menabraknya. Zecca sudah mati jauh sebelum itu. Zecca dahulu adalah seorang yang bersemangat. Seorang yang memiliki api yang sulit dipadamkan di dalam hatinya. Dan saat ketika Zecca kehilangan semangat hidup itulah, Zecca mati. Saat itulah hidupnya terenggut. Linka membaca lagi paragraf kedua surat Gute:

Kalau Linka pernah baca bukunya Muhidin M dahlan—judulnya “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta”—juga kurang lebih ceritanya seperti itu. Di akhir buku dia punya sikap kayak sahabat Gute itu: udah nggak percaya siapa-siapa, nggak percaya apa-apa lagi di dunia ini, udah nggak percaya harapan lagi, dan lagi yang menurut Gute itu yang membunuhnya—bukan karena tertabrak bus di depan rumahnya.

Kalau Linka pernah nonton film judulnya “Pan’s Labyrinth”, kisahnya benar-benar tragis. Nonton itu kayak mau nangis tapi saking pahitnya nangisnya kesangkut di tenggorokan.

Dan sampai sekarang prinsip itulah yang selalu Gute pegang. Meski Gute Cuma bisa bertahan hidup dengan mimpi-mimpi konyol, harapan-harapan kosong, tapi itulah yang membuat Gute tetap hidup. Pernah Gute dulu cerita ke Linka, Gute mengalami masa hidup yang flat, Gute hampir saja punya sikap hidup seperti sahabat Gute itu. Hasilnya nggak jelek: Gute jatuh dari motor. Ujung alis sebelah kanan dijahit 5 kali, sebelumnya arteri Gute di”klep” dulu karena darahnya nggak mau berhenti keluar. Sampai sekarang masih ada bekasnya kok. Kalau kita ketemu, nanti aku tunjukin, OK? Hehehe…

Yah.. kalaupun ada seseorang yang dari dulu selalu kupercaya untuk berbagi harapan juga advice jujurnya, itu adalah Linka. Dan mengingat kalau sampai saat ini Gute masih bisa menulis untuk dia, itu anugerah: It’s a gift. Dan itulah hidup. Thanks…

Gute MB.

Linka tertegun. Gute begitu menyadarkannya akan apa yang pernah terjadi padanya. Beberapa bulan yang lalu, bahkan lebih dari setahun ini, Linka tidak percaya pada siapapun lagi, dan Linka juga tidak percaya pada apa-apa lagi di dunia ini. Ia berhenti membaca buku-buku, ia tidak percaya pada para penulis dan ia berhenti menulis. Ia berhenti membaca berita-berita di koran, berhenti menonton televisi, dan ia tidak mendengarkan siapapun tentang apapun. Ia hidup hanya untuk hidup. Ia bernafas, tetapi tidak tahu untuk apa ia bernafas. Ia menghapus cita-citanya. Dan sejak saat itu, ia merasa hidup seperti mayat.

Ia juga lantas teringat pada pembicaraannya dengan Yan melalui internet. Dia sadar, bahwa ia tidak jauh berbeda dari saudara Yan yang telah almarhum karena kecelakaan motor. Seperti Zecca, juga saudara Yan, Ia sudah mati lebih dulu. Seperti yang telah terjadi pada Gute pada satu waktu yang telah lalu, sebelum lantas Gute terjatuh dari motornya dan harus kehilangan banyak darah dari arterinya yang terkoyak.

Linka tersadar, bahwa yang terjadi pada saudara Yan itu bukan karena saudaranya tercerahkan dan telah menggapai hidup tenang. Semuanya terjadi karena ia telah menyerah pada hidup dan karena itulah ia terenggut dalam kecelakaan motor di awal tahun ini. Ia tidak mau menyelamatkan nyawanya sendiri untuk terus hidup, maka itu, tidak ada yang dapat menyelamatkan nyawanya lagi di dalam kecelakaan itu.

Merenungi hal ini, Linka merasa telah sangat diberkati. Linka merasa bahwa ia sangat beruntung. Sebab Linka telah dihidupkan kembali dari kematiannya. Seperti yang pernah Gute alami, Linka tidak harus mengalami kematian dua kali. Ia hanya mati harapan, tetapi tidak mati nyawa. Cerita-cerita yang dituturkan orang-orang di sekelilingnya telah menuntunnya kembali dari kematian, dan mereka telah membuat semangatnya kembali berdetak. Dan Linka akan terus hidup. Meski hanya memberi nafas pada harapan-harapan kosong dan percaya pada impian-impian konyol seperti yang juga Gute percayai dan Gute katakan di dalam suratnya.

Sejak saat itu, Linka tidak pernah lupa akan cita-citanya dan ia bertekad bahwa ia akan terus berusaha menggapainya. Cita-cita adalah sesuatu yang menghidupi Linka, dan karena Linka percaya padanya maka Linka bisa terus hidup.

Yogyakarta, 27 Agustus 2008

*untuk Gute (terima kasih Gute ) , Andrianus Dian Susanto (Yan), dan seseorang dengan separuh namaku.

Iklan

2 thoughts on “4 Kematian; 2 Kematian dan 2 Kelahiran Kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s