Penulis Paper Bayaran

Hari ini saya buka salah satu page blog saya : http://multiply.com/mail/updates/mimpikubulatbulat/2#_mainfilter. Perhatian saya tersita dengan beberapa obrolan dari pemilik blog di situs yang sama tentang seseorang bernama Ririn. Sedikit usut, saya jadi tahu bahwa si Ririn yang dibicarakan ini adalah seorang perempuan muda usia 21 tahun yang bercita-cita menjadi bintang. Dan belakangan ia menjadi marak dibicarakan karena si Ririn ini melakukan aksi sebar pamflet di jalanan dan tempel-tempel pamflet di tembok-tembok kota Bandung yang kurang lebih isinya: alamat Facebook, Youtube iklan obat sakit kepala yang dibintangi olehnya (saya kunjungi Youtube dan ternyata ada juga beberapa video lain yang dia ambil tentang dirinya), dan nomor telepon Ririn kalau-kalau ada yang menawarkan untuk casting. Lalu ada foto Ririn di pamflet.

Saya juga sempat mengunjungi blog Ririn: http://rindumenujubintang.blogspot.com/. Silahkan deh, pelajari sendiri dengan meng-klik blognya (ps: tidak perlu terlalu keras dipelajari karena tidak akan keluar dalam ujian :p). Eh, iya.. ada satu hal yang menurut saya patut dipertanyakan ketika pertama klik link blog Ririn di atas. Ada content warning yang memperingatkan bahwa isi dari blog itu adalah untuk orang dewasa saja. Hmm.. ah, ternyata tidak ada adult content-nya tuh. Biasa aja. Mungkin Ririnnya sendiri kali ya yang pasang warning itu. Atau sebelum bikin blog memang sudah ada niat untuk posting adult content? Hmm.. by the way. Itu tidak lagi penting. Klik aja bahwa anda tahu konsekuensi dan sudah cukup dewasa untuk lihat isi blog itu. Beres.

Lanjut tentang obrolan di multiply, lalu pembicaraan tentang Ririn  ini melebar dan beberapa orang jadi menyinggung nama seorang perempuan cantik lainnya yang melakukan tindakan serupa dengan Ririn untuk mengiklankan dirinya. Namanya Sarah Aprilia. Bukannya nyata-nyata bertujuan ingin terkenal sebagai bintang, Sarah Aprilia mengiklankan dirinya sebagai guru les privat untuk anak sekolah: http://www.bloggerceria.com/2009/09/profil-dan-foto-sarah-aprilia-guru-les.html.

Beberapa hal bisa dicatat dari dua fenomena di atas. Pertama, dua wanita muda tersebut memang cantik, dan konon berbakat. Kedua, mereka punya purposes tertentu, yaitu ingin dengan cepat menyebarkan informasi mengenai diri mereka untuk tujuan-tujuan tertentu; Sarah ingin laris dapat panggilan sebagai guru les privat, dan Ririn ingin bisa jadi aktris yang ngetop. Setidaknya itu beberapa hal yang bisa dengan mudah dibaca di permukaan.

Sedikit menambah opini yang beredar mengenai fenomena di atas, saya pikir, cara-cara penyebaran informasi diri melalui pamflet, poster, video di situs-situs yang mudah diakses publik bukanlah fenomena baru. Metode ini sudah dikenal sejak manusia modern menemukan sistem penyebaran informasi/advertise dengan cara yang paling sederhana. Nah, salah satu sistem penyebaran informasi yang cukup sederhana, efektif dan cepat adalah pengumuman dalam selebaran, dan metode penyebaran informasi kain berkembang dan makin banyak ragamnya sesuai dengan perkembangan media informasi.  Yang kemudian menjadi heboh terkait dengan fenomena dua perempuan muda yang cantik dan berbakat di atas adalah adanya pergeseran dalam obyek penyebaran informasi. Tadinya, orang-orang terbiasa dengan metode penyebaran informasi produk, dan metode penyebaran informasi mengenai jasa tanpa merujuk satu individu. Individu biasanya beriklan tentang dirinya dan dianggap lumrah dalam konteks politik.

This is the culture of spectacle. Dalam era the culture of spectacle, setiap individu memiliki akses dan hak untuk melakukan usaha-usaha menarik perhatian massa untuk menjadi tontonan dan bahan perbincangan dengan tujuan-tujuan tertentu. Memangnya lukisan, film, ludruk atau bentuk-bentuk teater panggung saja yang tergolong tontonan? Tidak. Sejauh obyek-obyek dapat ditangkap secara visual (maupun tidak, dan hal tersebut dapat direkonstruksi secara abstrak dan bisa dimaknai) maka sebuah tontonan telah tercipta.

Nah, budaya menciptakan tontonan dan kegemaran akan tontonan ini sebenarnya sangat banyak bisa kita temukan. Misalnya, di mall-mall, banyak orang sengaja berpakaian glamor dan berusaha tampil sekeren-kerennya, sebab mereka sadar bahwa mereka akan dilihat dan dengan sengaja juga mereka mempertontonkan penampilan mereka sembari mereka berjalan di selasar mall atau ketika duduk makan siang pada sebuah resto di dalam mall. Nah, itu tontonan yang sifatnya live. Kita juga bisa menemukan banyak tontonan tidak live melalui internet. Banyak sekali situs pertemanan di internet dimana setiap orang bisa menampilkan profil dirinya dari mulai nama, hobi, opini, update kejadian daily life termasuk foto-foto dan status. Semuanya seperti deretan etalase saja, pemiliknya siap mempertontonkan dan ditonton dengan kepentingan mereka masing-masing.

Fenomena pamflet dan video Youtube yang digencarkan oleh Ririn dan Sarah mungkin bukan lagi sesuatu yang mengejutkan jika kita sebelumnya menilik beberapa fenomena serupa. Tidak terjadi di Indonesia memang, tetapi memang ada fenomena yang nyaris serupa, yakni beberapa orang yang pernah memposting video-video tentang diri mereka. Misalnya seorang make up stylish yang bernama Chris Crocker. Dia adalah seorang gay yang banyak dibicarakan bukan karena dia jembar-jembar iklan tentang dirinya sebagai seorang make up styilish atawa karena dia gay, tapi dia ramai dibicarakan karena dia posting video dimana dia sedang menangisi nasib Britney Spears idolanya karena tertimpa banyak masalah pribadi dan mengutuk siapa saja yang memojokkan Britney. Ada lagi beberapa orang yang rajin posting segala sesuatu tentang dirinya, tapi.. namanya saya lupa. Salah satu dari beebrapa orang itu yang saya ingat adalah seorang laki-laki muda berusia 18, dan bercita-cita menjadi aktor juga.

Nah begitulah.. menyambung fenomena Ririn dan Sarah..banyak antara kita yang jadi terkejut karena memang belum banyak orang yang cukup percaya diri untuk memulai tindakan-tindakan yang termasuk dalam spectacle ini, kecuali masih dalam taraf tindakan-tindakan yang massive seperti halnya menggabungkan diri dalam satu komunitas pengguna situs pertemanan dan beramai-ramai memajang etalase diri untuk mempertontonkan dan ditonton orang lain. Hmm… ya, namanya manusia-manusia dalam kultur komunal 🙂

Dan tidak ada yang salah dengan semuanya, sejauh merasa terhibur dan menghibur, dan sejauh kepentingan mereka masing-masing terakomodasi. Dan, tidak lupa, di dua penghujung paragraf ini, saya ingin mengucapkan selamat berjuang kepada mbak Ririn. Saya suka gaya anda… 🙂

Hmm.. pikir-pikir, saya jadi punya ide untuk bikin pamflet dengan foto saya, ntar saya sebarin ke kampus-kampus dan saya bayar orang buat tempel poster dan pamflet saya di tempat-tempat umum.

Isinya: Menerima pesanan membuat paper alias tugas menulis, bagi mahasiswa jurusan Ilmu Sosial dan Politik. Harga nego, sesuai dengan kesulitan topik. Call me: 08172xxxxx. Ini fotonya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s