Who the fuck are u?!

Halo.. saya menulis lagi setelah beberapa minggu merasa tidak punya sesuatu untuk ditulis meski ada keinginan untuk menulis. Mungkin itu namanya masa pengendapan alih-alih menyebutnya sebagai mentok, bosan dan statis ya? Hmm.. whatever lah. Hope you’re all OK.

Dan keadaan saya?

Saya baik-baik saja, masih dengan  emosi yang fluktuatif meski mungkin bagi banyak orang saya terlihat dingin karena emosi saya kelihatannya flat saja. Hmm.. selama itu saya masih tetap berusaha membalikkan keadaan yang rasanya membosankan meski outcome-nya membuat isi kepala saya malah jadi berantakan. Ha ha ha..

Begini, mumpung saya sedang in the mood, saya lagi-lagi mau cerita soal pengalaman bertemu orang baru. Tepatnya: pengalaman bertemu dengan orang baru berkelamin perempuan yang kurang lebih sebaya dengan saya dalam situasi tertentu. Halah.. apa itu?

Jadi begini saudara-saudara.. saya punya pengalaman yang berulang dan ulangan-ulangan kejadian itu kurang lebih berpola sama, sehingga saya menarik beberapa kesimpulan sementara. Tapi, sebelum saya ceritakan tentang apa kesimpulan awal saya atas kejadian-kejadian itu, marilah anda simak kisah saya berikut ini. Sebab adalah tidak mungkin anda membaca kesimpulan saya tanpa tahu duduk perkaranya. Entar anda saingan sama kambing congek dong.. he he he. Dang ding dung dong..

Saya mulai dengan cerita kunjungan saya ke Padang dua minggu yang lalu. Pada sebuah pagi yang indah tapi acak adut (lha Padang tuh indah tapi acak adut sih.. gimana ya? Habis gempa gitu…) saya bertemu dan berkenalan dengan seorang Cheko, bernama Pete. Blond, dan sebagaimana manusia western pada umumnya dia punya hidung mancung (yang notabene tentu saudara-saudara tahu, hidung semacam ini banyak digilai oleh rata-rata pemuda-pemudi di negeri ini).

Dia bekerja di salah satu NGO tentunya, majoring di disaster response. Sudah berbulan-bulan dia tinggal dan bekerja di Padang sesuai dengan kontrak kerjanya dengan agensi yang mengontraknya. Waktu itu kami ada di satu-satunya kafe paling lumayan di Padang. Saya yakin pasti ada yang lebih oke daripada kafe ini, hanya saja nyaris semua tempat nongkrong di kota ini sudah hancur karena gempa, hanya kafe satu ini saja yang tersisa. Ada sih, tempat lain yang masih berdiri dan beroperasi, hanya saja kualitasnya lebih payah. Jadi, ini adalah satu-satunya tempat nongkrong yang banyak didatangi para orang kaya, anak muda berdompet tebal dan para aktivis NGO. Kopinya not bad, banyak sofanya (di ruangan kafenya, bukan di dalam kopinya :p), arsitektur art deco, dan tersedia koneksi internet wifii. Hmm.. bagi pemilik kafe ini, bencana yang menghancurkan lebih dari separuh kota ini membawa keberuntungan ya.

Anyway, waktu saya dan Pete mengobrol, muncul seorang perempuan muda, melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia bersepatu boots dari bahan velvet warna abu, hot pants warna abu tua, rambut agak merah dan tampak tidak sehat– tanda pelurusan dan pewarnaan, giginya berkawat, kulit putih dan wajahnya bermake-up.

Dia langsung menghampiri Pete dengan mimik penuh perhatian dan ramah. Pete langsung menyapanya. Mereka berpelukan. Saling menanyakan kabar masing-masing. And so on..sebagaimana layaknya orang yang lama tidak bertemu. Selesai basa-basi Pete mengenalkan perempuan itu kepada saya. Dia memalingkan wajahnya dari Pete ke saya. Saya sudah siap-siap menyalaminya, tersenyumlah saya.

Dia menatap saya.

Wuah…. kok mimik mukanya langsung berubah ya?

Saya masih mencoba tersenyum, dan dia mulai tampak berusaha tersenyum. Tapi senyumnya tidak lepas, tertahan… seperti orang yang sedang menahan kentut saja. Saya pikir waktu itu.. apa mungkin dia sedang menahan hasrat ingin ke toilet? Ataukah.. dia jadi ingin ke toilet setelah dia menatap muka saya? Hik… saya jadi merasa khawatir dengan tampilan saya waktu itu. Jangan-jangan memang menyebabkan perut mulas. Ah… sudahlah..

Maka, dengan sederet pikiran itu di kepala saya (dan tentu dengan segala sesuatu yang ada di kepalanya yang saya tidak tahu apa), kami bersalaman. “Bakti.” saya menyebut nama saya waktu telapak kami bertemu. “……” tidak ada balasan dari perempuan muda ini.

Pete bilang kepada saya, “Icha ini adalah penyanyi paling top di Padang,” tentu saja dengan bahasa Inggris, karena Pete belum bisa berbahasa Indonesia. Saya manggut-manggut, masih dengan senyum dan tatapan mata terkonsentrasi pada si penyanyi paling top se Padang itu.. Jadi namanya Icha, saudara-saudara.

Si Icha terseyum pada Pete, dan menyahut, “Ah, no Pete, not really…”, dia menyentuh lengan Pete dengan (mungkin) lembut. Ahaii…saya menangkap basah raut wajahnya yang menyiratkan rasa bangga dan malu dan ah.. apalah yang lain itu. Yang jelas tidak perlu menjadi seorang rocket scientist untuk tahu bahwa dia suka dengan Pete dan dia merasa sangat tersanjung bahwasannya Pete memujinya sebagai penyanyi paling top se Padang. Tapi demi keanggunan dan mungkin atas nama kesopanan, dia tidak begitu saja mengiyakan dan berterima kasih atas pujian itu; sebuah strategi yang lumrah dan mudah ditebak. He he he..

Dari yang saya baca dari tatapan Icha kepada saya ketika itu adalah kurang lebih pertanyaan tentang siapa saya, bagaimana saya bisa kenal dengan Pete dan status hubungan saya apa, saya ini kerja apa, darimana asal saya, apakah saya punya maksud tertentu terhadap Pete. Yah, begitu deh.. Saya membaca kekhawatiran di matanya. Mungkin dia pikir saya saingannya. Waduh.. saingan apa ya? Secara tampilan saja saya sudah berbeda dari Icha. Saya tidak pandai menyanyi, saya kecil, pendek, saya tidak sedang pakai boots, tidak pakai hotpants, saya tidak punya kawat di gigi saya, saya berpakaian sesuai dengan adat Padang (berusaha mengikuti kaidah kesopanan ala daerah yang berkultur muslim: rok panjang sampai ke mata kaki, kaos hitam pas badan dengan leher sabrina lengan tanggung (semuanya saya dapat dari toko baju loak :p)), rambut saya juga lagi acak-acakan dan tidak jelas lagi modelnya–panjang enggak, pendek juga enggak.

Kejadian perkenalan saya dengan Icha ini, membuat saya kembali teringat beberapa hal serupa yang saya alami dari pengalaman-pengalaman saya berkenalan dengan perempuan-perempuan muda sebangsa dan setanah air yang berada dalam situasi yang sama. Beberapa perkenalan dengan perempuan muda lainnya ketika saya berada atau masuk ke dalam sekelompok orang asing yang sedang bercakap-cakap, membuat saya menerima sambutan tidak hangat, penolakan, dan judgement look dari beberapa perempuan muda itu. Saya tidak tahu, apakah tatapan dan penolakan yang saya terima ini juga berlaku pada perempuan lain jika saja mereka yang berada pada posisi saya ketika itu.

Hmm, by the way, saya ternyata baru menyadari bahwa di tengah-tengah proses menulis tulisan ini, saya malas untuk memaparkan analisa saya terhadap sekumpulan fakta perilaku yang saya alami mengenai hal tersebut. Sehingga, saya juga tidak akan membuat kesimpulan. Maka itu, saya bebaskan teman-teman semua membuat analisa dan kesimpulan sendiri dan seperti yang pada umumnya terjadi di forum dengan asas demokrasi, kita semua berhak punya pendapat. Oke? Oke!

Keesokan harinya, sehari setelah kejadian di atas, saya diajak Dave, bos saya untuk sarapan bersama di kafe paling mendingan di Padang itu, dimana saya diperkenalkan dengan Icha. Nah, pagi itu saya memutuskan memakai sepatu boots keren saya (siapa yang sangka sepatu itu cuma  berharga Rp 50,000 dan loak? ;p). Pete sudah ada di sana, selesai sarapan dia.  Pete menyapa kami, dan mengobrol sebentar dengan Dave sebelum dia memutuskan untuk pergi. Dia pamit sama Dave, lalu pamit ke saya. Sewaktu dia hendak berbalik ke arah pintu, saya lihat dia menatap saya, dari atas ke bawah dan berhenti tepat di sepatu saya. Dalam detik yang sangat cepat itu, saya menangkap kesan tatapan matanya agak terguncang. Hmm…mungkin dia terkesan dengan sepatu boots saya ya? Ha ha ha.. mengingat hal ini, saya jadi merasa geli sendiri karena ingat bahwa satu hari sebelumnya dia tampak begitu akrab dengan penyanyi paling top se Padang, dan Icha si penyanyi top itu bersepatu boots.

Saya jadi berpikir: “Mbak Icha.. seharusnya anda merasa khawatir pada keberadaan saya di antara Pete dan anda, hanya pada saat saya bersepatu boots.”

Wah.. seharusnya, judul tulisan ini bukan “Who The Fuck Are U?”, tapi.. “What Kind of Boots Girl Are U?!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s