Tiga Hari

Sudah sejak tiga hari yang lalu, saya pulang ke rumah kontrakan saya di dekat Kasongan. Dan selama tiga hari berturut-turut itu pula saya tidak keluar rumah. Saya sengaja melakukannya; tidak keluar rumah kontrakan selama tiga hari, karena saya sedang malas. Lebih tepatnya, saya sedang bingung mau pergi ke mana dan nginap di rumah siapa atau ngelayap kemana karena sebelumnya saya sudah dua hari tinggal di rumah orang tua dalam rangka sakit dan bingung (bingung mau tidur dimana), dan beberapa malam sebelumnya saya sudah menginap di kantor karena saya malas mau bermalam di rumah kontrakan dan malas datang ke rumah orang tua saya. Lho?

Nah, waktu saya sedang bingung mau ke mana, saya teringat: kan saya punya kontrakan. Berhubung saya punya kontrakan, kenapa tidak bertapa di dalam kontrakan sendiri saja? Toh sudah kurang lebih satu minggu kontrakan saya biarkan tak berpenghuni alias suwung. Haaaa…. ide yang bagus!

Hmm saya yakin, pasti banyak yang ngatain saya bodoh dengan ide berdiam diri di rumah kontrakan, karena apa gunanya mengontrak rumah kalau tidak ditinggalin?? Atau.. mungkin ada yang berpikir: “kok bisa punya cara berpikir yang awut-awutan gitu ya, nggak jelas akar persoalannya.”

Bodo amatlah kawan-kawan.. Saya sendiri aja bingung kok membaca kalimat di atas. Jadi, lebih baik teman-teman tidak perlu ikutan bingung karena saya sedang tidak ingin membuat sebuah club. Club bingung.

Singkat kata, daripada ide kalimat yang membingungkan itu menjadi lebih panjang daripada satu paragraf, saya akan ceritakan kisah saya selanjutnya tentang rencana bermalam dan ngendon tiga hari di rumah kontrakan saya sendiri. Nah, saya sudah persiapkan segala sesuatu untuk sukses menjalankan acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari”, dari mulai membeli berbagai macam bahan makanan siap/cepat dikonsumsi yang terdiri dari buah-buahan, roti, selai, kopi, susu, butter, mie instan (saya benci mie instan, tapi kali ini saya sediakan juga), dan telur. Adapun bahan makanan lain seperti minyak goreng, gula, teh, bawang putih dan bawang merah, sebelumnya sudah tersedia di rumah kontrakan, jadi saya tidak perlu membeli lagi. Beras.. Hmm.. saya tidak sedia beras. Tahu nggak kenapa sebabnya? Ya, karena saya bukan seorang penjual beras. Selain itu, percuma rasanya punya stok beras karena saya tidak piara ayam, dan saya tidak punya rice cooker untuk mengubah beras menjadi nasi.Kalau ada yang bilang: “kenapa nggak masak nasi pakai dandang atau panci?”, akan saya jawab: “Cerewet ah, namanya aja lagi males!”

Nah, selain menyetok bahan makanan untuk tiga hari, berhubung salah satu tetangga saya yang bernama Pak Sobary mempunyai bisnis sharing internet di perumahan, saya daftar deh jadi salah satu anggotanya. Sebulan bayar Rp 150.000, pendaftaran awal Rp 25.000. Total biaya Rp 175.000. Wah..senangnya hati saya. Apalagi setelah tahu bahwa koneksi internet yang digalakkan oleh ‘Pak Sobary and Crew’ itu lumayan cepat; melebihi kecepatan koneksi internet mobile 3.5 G boss saya yang  sebulannya bayar Rp 1,656.000 (berhubung saya dan boss jengkel karena bayar mahal tapi koneksinya kayak tempe gembus, belakangan saya down grade aja itu internet yang providernya sebut “super heavy” menjadi “heavy” saja, bertarif Rp 500.000 per bulannya. Yee.. kerenan koneksi internet yang baru saja saya miliki ini dong. Wek!). Nah, kawan-kawan, saya ulangi lagi bahwa saya sangat senang karena keanggotaan saya sebagai pelanggan internet di perumahan dimana kontrakan saya berada, membuat saya lebih optimis bahwa saya bisa melangsungkan acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari”.  Saya akan benar-benar tidak keluar rumah selama tiga hari. Bahkan saya tidak perlu ke kantor, karena saya bisa bekerja di rumah dengan fasilitas internet. Tataratat ta taaaaaat…. Terima kasih Pak Sobary.. 🙂

Maka, acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari” tersebut dimulai. Hmm.. tidak diawali dengan doa memang, tapi saya berharap bahwa acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari” tersebut kelak bisa menyaingi karya film Miles Production, yaitu “Tiga Hari Untuk Selamanya”. Amin.

Nah, jadi berdiamlah saya di rumah kontrakan saya selama tiga hari penuh. Saya mandi teratur. Makan juga teratur. Minum juga teratur. Nyuci baju, bersih-bersih lantai, nyuci piring, berhasil pasang aqua galon di dispenser (tadinya saya pikir saya harus tinggal dengan seorang laki-laki untuk saya peralat sebagai “mesin pengangkat aqua galon ke dispenser”, ternyata saya nggak butuh amat untuk memperkerjakan lelaki sebagai alat pengangkat dispenser karena ternyata saya bisa melakukannya sendiri he he he :p). Selain aktivitas-aktivitas itu, nginternet juga jalan terus, kerja bikin invoices, dan kalau bosan, aktivitas tersebut saya selingi dengan menonton dvd dan film dokumenter dari Google.

Saya tidur pada pukul dua pagi dan saya bangun kira-kira pukul tujuh pagi. Melirik jam di handphone sebentar, lalu tidur lagi sampai jam sembilan. Jam sembilan selama dua hari itu saya dengar rutinitas yang seperti biasa terjadi di depan kontrakan saya, berupa: sekumpulan ibu rumah tangga pada jongkok di jalanan cerita ini itu.. macam arisan saja. Saya bisa mendengar mereka khasak khusuk suaranya campur aduk satu sama lain. Saya terganggu. Tapi saya tidak peduli, toh saya tidak akan keluar rumah dan menampakkan diri saya di hadapan mereka pagi itu karena saya sedang melancarkan acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari”. Tapi, walaupun saya tidak sedang melancarkan acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari”, saya juga ogah menampakkan diri di depan ibu-ibu tersebut. Tidak ada kepentingan dan tidak ada keinginan. He he he..

Akhirnya, setelah tiga hari ngendon di dalam rumah, saya pagi ini keluar rumah. Saya mau ke kantor. Setelah hujan pagi hari reda, pukul 10 lewat beberapa menit saya membuka pintu gerbang rumah dan mengeluarkan motor saya. Beruntung, karena hujan turun dengan deras, penjual sayur di depan rumah sepertinya sudah hengkang dan tidak ada satu bijipun ibu-ibu yang jongkok di jalanan depan rumah (hmm.. waktu mengetik kalimat barusan, saya membayangkan ibu-ibu yang biasa ngumpul di situ lagi pada jongkok, mainan neker alias kelerang. Huwahahahahaah.. Gubrak..).

Pas saya mau berangkat, eh.. baru terlihat, ternyata si penjual sayur ada di dalam pos ronda yang juga ada di depan rumah saya. Nangkring dia di dalam situ. Kasihan.. saya sapa saja dia, “Eh, mbak Djum.. .kehujanan ya?”

“Iya… Mbak ada di rumah toh? Saya pikir nggak pernah ada di rumah.”

“Iya. Saya ada di rumah kok. Sudah tiga hari di dalam terus. Saya nggak keluar.”

“Ooh.. kok kelihatannya nggak pernah ada orangnya.”

Saya tersenyum. Pikir saya: “Emang mesti sliwar sliwer biar dilihat kalau saya ada di rumah, gitu ya? Apa perlunya?” Lalu saya pamit sama dia. Baru saja mau jalan, dari arah depan, ada seorang perempuan naik motor menghadang saya. Berjilbab, ada tahi lalat di dekat bibirnya. Tapi meski dia punya tahi lalat di dekat bibir, dia tidak semanis Cindy Crawford tentu saja.

“Mbak… situ tinggal di sini ya?”

“Iya. Ada apa mbak?”

“Kok nggak pernah lapor?”

“Lapor? Saya kan sudah ijin Pak RT.”

“Oh, ya kan belum lapor sama yang dari satu blok.”

“Oh, harus begitu ya? Kan saya nggak tahu. Saya jarang di rumah.”

“Kan namanya ke tetangga. Harus bayar uang kebersihan, uang untuk lampu jalan, dan lain-lain.”

“Oh gitu. Tiga bulan yang lalu saya sudah bayar uang sampah kok mbak dengan bapak yang suka ngambil sampah di sini. Saya malah sudah bayar untuk tiga bulan.”

“Bapak yang mana?”

“Saya lupa namanya, tapi nama saya sudah dicatat.”

“Oh, itu beda mbak. Ini biaya kebersihan, bukan sampah.”

“Lho, beda ya? Ya kan saya nggak tahu, karena saya nggak selalu ada di rumah.”

“Oh, situ orang tuanya ada dimana?”

“Orang tua? Oh.. orang tua saya ada di Blunyah Rejo, di Jogja sana.”

“Situ single atau udah nikah?”

“Saya single.”

“Di situ tinggal sama siapa?” dia ngelirik langsung ke lengan saya waktu dia tahu saya ada tato di situ. Mukanya tambah nggak enak dilihat. Senyumnya sinis.

“Sendiri. Tapi nanti bulan April saya ada teman. Saya sering pergi. Kadang nggak pulang. Makanya kalau ada undangan juga saya kan nggak tahu karena kalau saya pergi tidak ada orang di rumah. Ya kalau memang harus bayar, kapan dan dimana, biar saya datang sekalian terus bayar.” Saya kasih senyum ke dia. Cuek saja saya.

“Ya lewat sms juga bisa. Nanti ketemu kalau sudah sms.”

“Oh gitu? Nomor mbak aja ya?”

“Iya.”

Lantas saya catat nomornya. Namanya Titik. Iya, Titik. Bukan koma. Setelah mencatat namanya dan basa basi sedikit tapi tegas, saya pergi. Dia juga memutar arah motornya kembali ke rumahnya. Oh, ternyata rumahnya adalah rumah paling pertama dari kompleks perumahan ini. Rumahnya masih baru..dan dia juga masih baru tinggal di situ, tapi duluan daripada saya. Bodo amat. Saya muak lihat gayanya. Kayak Polwan saja dia. Pertanyaannya menginvestigasi seolah-olah saya ini kriminal maling ayam yang ketangkep aja. Saya sudah bilang sama pak RT kalau saya tinggal di situ. Pak RT saja adem ayem nggak cerewet dan sok kayak situ, tapi situ yang bukan RT aja kok sewot? Saya disuruh lapor.. lapor… Emangnya saya KOPRAL?!!

Bayar ini kek, itu kek.. Pungli ya? Preman kali gayanya.

Selama perjalanan ke kantor, saya berpikir. Heran. Saya nggak pernah keluar, nggak pernah mengganggu orang-orang di lingkungan saya. Tapi kok orang-orang pada melihat saya dengan curiga ya? Apa karena saya perempuan yang tinggal sendirian? Apakah karena saya terlihat melakukan semuanya sendiri, dan ini tampaknya tak wajar? Atau karena saya beraktivitas di rumah terus dan tidak berisik sehingga tampak macam teroris? Teroris.. apa mungkin saya ada tampang teroris ya? Mungkin mereka pikir jaringan teroris itu mengubah strategi operasinya, mereka sekarang menggunakan cewek-sewek imut untuk melancarkan operasinya, karena cewek imut jauh dari kecurigaan sangkaan sebagai subyek yang terlibat dengan jaringan teroris. Hmm.. muter-muter ya kalimatnya? Ho oh. Bodo ah.. 😀

Yang bener aja!!!

Inilah hal yang saya kurang sukai dari tinggal di perkampungan atau perumahan yang dekat kampung atau hmm.. bisa tidak ya dibilang perumahan yang kampungan?? 😀

Selalu ada kewajiban-kewajiban sosial yang dibuat-buat. Ada prasangka-prasangka dan kontrol sosial yang keliwat melanggar batas privasi individu.

Kalau saya lihat-lihat, saya ini adalah tipe manusia yang senang berstatus invisible. Tidak suka keramaian. Urusan saya ya punya saya saja, dan saya tidak akan mengganggu orang lain. Saya mau pulang seminggu sekali, ya urusan saya. Saya mau diam-diam saja di rumah, urusan saya. Saya mau nggak buka pintu depan tapi pintu belakang saja, itu juga urusan saya.

Saya bayar sewa rumah, saya bayar listrik, saya bayar PDAM. Saya bayar rekening telpon saya sendiri. Semua rutin tiap bulan. Saya manusia bebas. Kok Mbak Titik itu sewot lantas nanya-nanya saya macam Polwan? Petugas sensus saja tidak segalak Mbak Titik itu. Walah..

Cukup antisosial kah saya?? Ember.

Lama-lama saya pikir saya paling cocok saja tinggal di tempat sangat privat yang bernama apartment. Hua ha ha ah ah…

Hmm… begitulah akhir dari acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari”. Akhir dari acara tersebut membuahkan keinginan untuk urun pulang lagi ke kontrakan hari ini.

Malam ini, saya mengunjungi orang tua saya.  Apakabar Mum.. Dad.

Ngomong-ngomong, saya sudah gatal-gatal alergi sejak 5 hari lalu, dan saya punya ide untuk minum CTM. Saya pikir, mungkin saya bisa tidur lelap setelahnya. Tahu bahwa saya sedang gatal-gatal, Ayah ngotot membelikan saya CTM.

“Untuk persedian 3 hari.” kata Ayah.

Wah, bagus itu.. pikir saya. Karena acara selanjutnya yang bisa saya adakan setelah acara “Ngendon di Dalam Rumah Kontrakan Selama Tiga Hari”, adalah acara “Minum CTM dan ngantuk selama Tiga hari.”

Saya pikir, kedua acara itu mungkin akan bisa sejajar atau dibandingkan dengan karya film Miles Production, “Tiga Hari Untuk Selamanya”. Amin.

Salam…

Iklan

2 thoughts on “Tiga Hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s