Perjalanan…

Sudah lama tidak membaca puisi yang nendang macam ini. Padahal ini puisi juga sudah edisi lama. Saya baca lagi kemarin sore, dan tidak ingat bahwa sebelumnya saya sudah pernah membacanya. Sungguh linglung.

Puisi ini dituliskan di tahun saya baru lahir, atau akan lahir (karena tidak tercantum bulan apa puisi ini tercipta). Hmm.. tidak penting, karena sampai 100 tahun ke depan saya rasa puisi ini tetap akan tampak muda.

Membaca puisi ini, kalau lantas dipikir-pikir, tidak dahulu, tidak sekarang, yang namanya pahit getir kehidupan rasanya sama saja. Bagian-bagiannya, partikel-partikel yang menyusunnya. Atau ini hanya karena saya atau setiap kita yang memaknai sebuah puisi secara subyektif?

Terlepas dari hal itu, saya merasakan semacam koneksi antara penulis puisi di bawah ini dengan saya. Saya setuju dan bersorak bagi tiap kata yang dia pilin menjadi kesatuan puisi yang dilabeli “Perjalanan” ini. “Perjalanan”, sebuah term besar yang teramat sering saya geluti, atau setidaknya sebuah hal yang  sadar atau tidak sering saya jadikan latar belakang dari beberapa puisi yang selama ini saya sudah tuliskan. Entah karena apa. “Perjalanan” adalah sebuah magnet dan pusaran yang menarik saya untuk menatap dan menuliskannya kembali. Mungkin karena saya tidak pernah paham kemana perjalanan itu akan membawa saya. Perjalanan adalah sebuah misteri, sebuah rahasia. Dan rahasia adalah salah satu hobi saya 😀

Waduuh.. kan.. ngelantur lagi.. Macam sastrawan beken pidato di mimbar saja. Sudahlah.. selesai bacotnya. Ayo  kita membaca puisi yang hebat ini.

Perjalanan (oleh: Nana Ernawati)

Keberangkatan pada suatu pagi
adalah sapa sebait puisi
dinikmati sambil minum kopi.

Coba katakan,
pagar rumah siapa perlu diperbaiki,
atas gedong siapa harus dirombak.

Aku mengikir luka dengan ujung bayonet,
atas kembaraku,
dari pucuk hati
yang mengucur darah obsesi.

Sampai di mana perjalanan siang hari,
kau dengar ada tembang ‘Dandang gula’
dari balik jendela kaca,
siapa memainkannya,
kau tahu,
anak muda tak pernah yakin,
:aku apa dalam bentuk kelak.

Orang kampung berbincang-bincang bersama,
sore,
hari indah buat main remi atau gobag sodor
siapa bilang, siapa bilang?

Aku terpojok di pinggir sumur,
apa aku mesti merasuk ke dasarnya,
: dialogku dengan Tuhan

Malam adalah kekenesan birahi pelacur-pelacur kelas lesehan,
dilamun orgy bersanggama dengan kunang-kunang
mereka punya harapan
akan matahari
akan bulan penuh.

: aku punya apa,
aku memiliki siapa?

1981

Iklan

2 thoughts on “Perjalanan…

    • Wow.. senang mendapat balasan dari putri penyair yang syairnya saya gemari. Salam kenal ya. Bagaimana kabar ibu sekarang? Sampaikan salam kagum saya padanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s