Puisi Lama dan Long Lost Friend..

Suatu hari  saya sekali lagi mengutak atik Google. Mencari-cari sesuatu yang mungkin tersisa dari nama saya: bwidiarti (ya gusti.. aih aih.. kok narsis ya? Pede amat!!)

Klik, klik, klik… eh, tidak disangka saya menemukan blog misterius yang saya rasa tidak pernah saya buat. Sudah lama sepertinya pemiliknya tidak lagi pernah mengunjunginya. Tapi kok ya tetap ada ya? Dan saya menemukan tulisan lama saya tercantum di situ. Dan ada sebuah komentar dari sesorang misterius yang pernah membeli buku kumpulan puisi indie saya yang saya terbitkan dengan semangat DIY (!!! YEAH!!) di awal tahun 2004. Kok bisa ya puisi saya ada di situ? Heran.

Hmmm.. ini dia tulisan lama saya.. Sebenarnya saya malu menunjukkannya karena nada puisi saya cadas dan keras. Hmm.. kata lainnya adalah: aneh dan tidak senonoh… Ha ha ha ha… Ya maklum, saya saat itu sedang berada pada jaman kegelapan dan sedang menendang-nendang tembok untuk berusaha keluar dari sebuah proses yang melelahkan.

Mengingat masa-masa ketika puisi-puisi yang saya tulis dibuku kecil tersebut terlahir, saya seperti dihadapkan pada diri saya sendiri. Diri saya yang lebih muda. Dan saya senang bisa merunut akar diri saya sehingga menjadi manusia yang sedang berhadapan dengan monitor kumputer dan mengetik kata demi kata ini, saat ini. Saya. Bakti.

Cukuplah saya untuk banyak bicara. Ini dia puisi tersebut:

Eksistensi = eksis = Keberadaan = TAIK ?

January 24, 2007, 8:39 am

Eksistensi (dan) TAIK =

Tak pernah meraih yang pernah terasa diraih

Tidak pernah datang ke tempat yang pernah dirasa didatangi

Punya cita-cita yang ternyata tak pernah bisa diwujudkan

Membuat bahagia yang ternyata tidak pernah bahagia

Sebuah omong kosong besar ada didalam dirimu

Seperti juga sebuah kenaifan ada padaku

Terpeleset ke dalam ruang tubuh kita masing – masing

Menciptakan angan-angan dan sebuah dunia yang ideal

yang katamu penuh kolektivitas dan kataku penuh perhatian

Kita tidak mau keluar dari sana karena kita sombong

Merasa eksis pada diri sendiri

Orang lain cuma sampah…padahal kita juga sampah

Tapi dunia macam apa yang bisa diciptakan kecuali dunianya sendiri?

Aku tau aku TAIK

tapi aku tau aku mau jadi apa

Sebuah cita-cita sederhana yang tidak sederhana, kataku

Aku pernah punya cita-cita: bikin tatto “TAIK” di jidat

Biar semua orang bisa baca dan supaya aku tidak bisa bohong

Berkata pada orang bahwa aku bukan TAIK

Ada yang berkata, kita semua pake topeng

Dan kini aku sadar mengapa sepertinya aku melihat orang-orang pake topeng

Semua karena mereka memang pakai topeng

Semuanya dilakukan karena pamrih

jika bukan materi, ya eksistensi….

Eksistensi TAIK!!!

Yogyakarta, 5 April 2003

by Bakti Widiarti. “pokoknya Cinta Taik”

***

Di bawah puisi tersebut tertera sebuah komentar:

Puisi bagus, liar, manteb aku suka..uda tiga taon bukumu baru aku baca!wuakakakak..
jujur aja, judul buku indie kamu jg gw bangets.sukak..sukak.^^.
Kosong bukannya tidak berarti
Kosong adalah inti dari sejuta arti
Cantik bukan berarti tidak seperti taik
Cantik adalah inti dari sejuta TAIK!
wuakakakakak…

hmmmm btw kamu cantik ga?

Fandy 01.24.07 @ 9:02 am

Saya sudah cukup terkejut dengan keberadaan puisi lawas saya di blog yang tak dikenal tersebut, tetapi saja jadi lebih terkejut lagi ketika membaca komentar seseorang misterius tersebut terhadap puisi saya. Saya tidak menyangka bahwa ada manusia yang suka dengan tulisan gila saya. Dan tentu saja, saya merasa senang dan sangat dihargai.
Alhasil, karena penasaran dan ingin sekali mengucapkan terima kasih, saya coba telusuri siapa gerangan orang yang bernama Fandy ini. Dan akhirnya saya menemukannya melalui internet juga. Saya temukan alamat emailnya, dan akhirnya saya tambahkan dia di daftar teman-teman saya di Yahoo messenger. Saya sapa beliau dan dia bertanya siapa saya. Ya saya jawab saja, bahwa saya adalah bakti, si penulis puisi yang beberapa tahun lalu puisinya dia komentarin. Saya bilang terima kasih atas komentarnya.
Fandy berkata bahwa dia tidak percaya bahwa saya adalah benar-benar penulis puisi yang menurut dia adalah salah satu puisi kesukaannya (waduh.. saya GE ER, terima kasih Fandy). Tapi, setelah kami berkenalan lebih jauh, dia percaya juga.
Situasi yang lucu, karena ketika kami percakap-cakap untuk pertama kalinya via internet, aku merasa sepertinya kami sudah kenal lama dan akhirnya kami bertemu lagi. Dia juga mengatakan hal yang sama. Kami seperti long lost friend. Waktu berlalu, dan saya sempat naksir juga jadinya sama beliau. Tapi.. singkat cerita, begitulah akhirnya kami menjadi berkawan dan kadang jika sama-sama sedang peduli, waras tidak waras kami akan saling menyapa melalui dunia nirlaba.. walah.. dunia maya maksudnya!!
Kadang-kadang kami bertengkar alias berbeda pendapat juga tentang apa saja, tetapi di situlah saya pikir letak serunya.
Terima kasih kawanku Fandy.. Kamu aneh karena menyukai puisi saya. Tapi justru karena itu, saya menjadi senang.
Ya, jadi begitulah kisah tentang puisi lama saya dan seorang kawan yang saya temukan dari puisi tak senonoh tersebut. Selamat malam saudara-saudaraku..
Semoga hidup kalian berkelanjutan, gempa tidak sering mengguncang dan tsunami tidak segera datang.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s