Wisuda

Saat itu adalah hari ketika saya diwisuda. Suatu hari di akhir bulan Januari 2006. Saya bangun kira-kira pukul lima. Sebentar mandi dan kemudian mendatangi sebuah salon yang tak jauh dari rumah. Saya sudah bikin janji dua hari sebelumnya dengan pemilik salon untuk dimake up dan sanggul untuk acara hari itu. Kata teman, salon yang satu ini patut saya coba karena selain tarifnya jauh lebih murah dari tarif make up wisuda di salon-salon lain, pemiliknya juga ramah dan hasil make upnya tidak mengecewakan. Saya sengaja mencari salon untuk wisuda dengan tarif yang tidak mahal karena saya tidak merasa enak dengan orang tua jika mereka harus membayar mahal. Acara macam ini hanya sebuah seremoni yang mungkin akan membosankan untuk diikuti, hanya sebuah acara untuk penyerahan ijazah. Saya sudah menyelesaikan masa studi dengan hasil yang tidak mengecewakan, itu saja yang paling penting, bukan seberapa wah dandannya, bukan seberapa gemerlap dan mahalnya kebaya yang dikenakan. Oh, pikiran yang mulia sekali ya…? Tampaknya begitu, tetapi tidak kawan-kawan! Pikiran macam ini ternyata pada akhirnya hanyalah prinsip orang bodoh yang terlalu menyepelekan momen yang mungkin akan menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.

Pagi buta itu, saya adalah orang di urutan antrian yang ketiga untuk dimake up. Orang yang pertama, minta dimake up untuk acara pernikahan saudaranya, dan orang yang kedua ternyata adalah mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta yang juga mau diwisuda. Seingat saya, saya membayar Rp 60000 demi make up dan sanggul wisuda saya di salon itu. Murah sekali bukan? Ya, harga yang bagus. Tetapi semoga hasilnya tidak semurah tarifnya, harapan saya waktu itu.

Pada awalnya, karena pagi masih gelap saya tidak tahu sebenarnya secara umum make up yang menempel di wajah saya ketika itu oke atau tidak (hehehe.. memangnya ada pengaruh ya, antara make up jelek sama hari sedang gelap atau tidak?). Awalnya, saya rasa oke saja, tapi kelamaan saya sadar juga kalau saya seperti sedang mengenakan topeng. Lipstick yang menempel di bibir saya rasanya seperti kombinasi antara campuran bedak dengan cat minyak. Warnanya merah jambu agak gelap cenderung ke warna lila cerah…yang.. ah, tidak tahu saya itu warna apa (mungkin yang bisa mengkategorikan dengan tepat itu sebenarnya warna apa, ya cuma sarjana dan anak mahasiswa jurusan seni rupa aja kali ya?). Lalu kulit muka saya seperti dilumuri dengan larutan tapioka kering, ah jelas banget hasilnya: kayak make up ludruk (masih mending kalau di papan depan salon tuh orang tulis: terima make up ludruk. Nah, saya mungkin akan maklum dan nggak bakalan bete dengan hasil make up ini karena tuh tukang make up memang cukup berhasil menciptakan make up ludruk di wajah pas-pasan saya ini). Dan coba kalau kalian saat itu lihat seperti apa wujud kedua alis saya. Sungguh membuat wajah saya tampak menjadi tidak wajar. Tingkat ketebalan, pemilihan warna dan kesannya pada wajah saya sedemikian tidak bisa saya gambarkan dengan kata-kata. Saya heran juga, kenapa begini hasilnya, karena dua orang sebelum saya yang dimake up hasilnya saya lihat bagus-bagus saja. Tetapi kok make up saya tidak ya? Tauk ah, gelap.

Ketika sampai di rumah sebelum mengenakan kebaya sederhana hasil jahitan sebuah tailor di pasar Terban, saya berusaha menghapus make up yang menurut saya amburadul itu. Sambil menepuk-nepuk muka dengan tisyu yang saya basahi dengan air ledeng saya berpikir, mungkin memang muka saya saja yang tidak cocok dimake up. Tipe wajah yang tidak jelas juntrungannya: muka oriental atau muka jawa. Jadi tukang make upnya bingung, mau diapakan nih muka, jadi hasilnya nggak jelas begitu. Saya jadi malu menatap muka saya sendiri. Tapi, jelas-jelas pagi itu saya memang tidak punya cukup waktu untuk menatap muka saya di cermin lama-lama karena pukul 8 pintu auditorium tempat seremoni dilangsungkan sudah harus ditutup. Semua undangan sudah harus masuk jam segitu. Dan saat itu, sudah pukul tujuh. Sementara mama saya sudah berteriak-teriak dari kamarnya menyuruh saya cepat-cepat turun dari kamar saya di lantai dua (seolah-olah mama saya saja yang mau diwisuda, dan seolah-olah itu acara dia sendiri saja. Lha bagaimana toh, wong yang mau diwisuda saja nggak segitu heboh terburu-buru, kok yang mendampingi lebih ribut?), saya bergerak cepat menghapus garis alis hasil besutan si sutradara make up yang aneh dan berusaha membentuknya kembali dengan garis-garis yang lebih wajar, juga berusaha menutup warna lipstick merah jambu lila cerah yang sudah sedikit tergerus tisyu dengan lipstick saya sendiri. Lipstick Sariayu seri Legong sekian sekian berharga sebelas ribu yang sudah dua tahun lebih saya pakai tapi nggak habis-habis juga (mungkin seharusnya tuh lipstick buluk sebelas ribuan sudah saya buang saja kali ya?).

Bodo amatlah setelah itu wajah saya jadi kayak apa, yang penting saya tidak merasa begitu muka ludruk lagi, walaupun tetap saja buruk rupa. Tapi mau bagaimana lagi? Jika saya punya pilihan untuk tidak hadir, saya pasti memilih untuk tidak hadir di acara sialan itu. Saya mau duduk di depan televisi saja sambil makan kacang dan telo goreng. Tetapi, saya pikir saya harus bertanggungjawab kepada orang tua karena sudah menyerahkan undangan wisuda, karena sudah minta uang sekian ratus ribu untuk mendaftar ikut wisuda, dan karena sudah menghabiskan sekian juta uang mereka untuk kuliah kira-kira lima tahun lamanya, juga karena sudah menghabiskan lebih dari sekian puluh juta karena sudah lahir di dunia, minum berkaleng-kaleng susu, makan berkardus-kardus bubur dan berkarung beras dan segala macam biaya dari mulai pakaian, buku-buku serta seragam sekolah dari saya teka sampai SMU yang harus mereka biayai. Wajib tidak wajib, pokoknya wajib hadir. Daripada mengecewakan orang tua dan akibatnya durhaka lalu masuk neraka.

Akhirnya, dengan perasaan tidak karuan dan kepercayaan diri yang hanya tersisa mungkin 25 % (maaf… belum ada penelitian dan perhitungan statistik atas angka 25 % tersebut, karena pemunculan persen di sini semata-mata untuk kepentingan deskriptif naratif saja. Jadi itu estimasi yang saya karang sendiri. Hehehehe…), saya berangkat juga didampingi kedua orangtua dengan mobil ayah. Di sepanjang jalan, saya masih sibuk membetulkan pakaian dan make up, juga sanggul saya dengan sekenanya. Beruntung bawahan yang saya kenakan sudah berbentuk rok panjang dengan ritsleting, jadi saya tidak perlu repot dan lama mengenakannya karena tinggal dikancingkan saja. Sesampainya di auditorium, saya makin merasa ciut karena wisudawati lainnya tampak tidak seperti saya. Mereka kelihatan cantik, dengan kebaya yang tampak bagus dan tentu harganya mahal. Mungkin sudah dari jauh-jauh hari mereka persiapkan tuh kebaya.

Saya lihat mereka semua, saya bandingkan penampilan mereka ke diri saya sendiri. Saya seperti ratu kodok saja jadinya, saking merasa jeleknya. Kebaya mereka dari bahan brokat dengan warna-warna yang bagus, punya saya cuma katun putih. Make up mereka mungkin seratusribuan lebih, dan make up saya enam puluh ribu. Sendal mereka bagus dan matching, sedangkan sendal saya adalah sendal yang sudah lama sekali saya beli tapi belum rusak-rusak juga (saya beli di jaman saya masih SMU jadi pasti modelnya juga baheula). Hik… rasanya ingin sedikit menangis. Terlebih setelah saya sadar bahwa saya lupa mengenakan anting-anting. Saya serasa datang telanjang pagi itu. Lengkap sudah alasan saya untuk menangis. Tapi tidak… saya kuat-kuatkan untuk terus jalan ke ruang auditorium. Tidak apa-apa memakai kebaya yang biasa saja karena toh juga ditutup dengan toga. Toga saved me! Tidak apa juga jika tidak memakai anting-anting karena pandangan orang pasti akan lebih tersita ke topi wisuda yang lebar daripada ke arah telinga. Toga hat saved me!

So, saya menandatangani buku prensensi, lalu penerima tamu memberi saya buku wisuda sebagai kenang-kenangan (di buku ini terpampang seluruh biodata wisudawan dan wisudawati, ringkasan dari skripsi-skripsi terbaik dari wisudawan/wati dari tiap fakultas (tentu saja tidak ada ringkasan skripsi saya di situ, karena saya pinpinbo dan tulisan saya tidak bagus), juga teks pidato rektor etc). Sementara itu, orang tua saya menandatangi buku tamu dan mereka kemudian diarahkan ke bagian tempat duduk khusus pendamping wisuda di ruangan besar itu, duduk bersama para pendamping wisuda. Saya lalu duduk di antara wisudawan dan wisudawati lainnya, yang sebagian besar saya kenal dan juga kenal saya. Mereka tidak mengatakan apapun yang menyangkut dengan penampilan saya pagi itu. Mungkin mereka tidak peduli dengan penampilan saya juga, sebab mereka sudah keblinger dengan kerennya penampilan mereka sendiri, tapi mungkin juga mereka sadar kalau saya amburadul, hanya saja mereka masih cukup sopan untuk tidak bilang terus terang ke saya kalau saya tampak amburadul. Kami saling sapa, lalu berbincang tentang foto-foto yang terpampang di buku wisuda dan teman-teman saling melontarkan komentar terhadap tampang teman-teman di foto itu.

“Hihihi…” salah satu teman yang tepat duduk di sebelah saya terkikik.

“Ada apa je?” tanya saya kepadanya.

“Coba kamu liat fotomu Bak, “ katanya, “ kalau di acara ini ada award untuk penampilan rambut paling berantakan, kamu pasti pemenangnya.” Lanjut dia sambil terus ngikik sambil menunjukkan foto saya di buku tebal itu.

“Hihihi…..iya ya?” saya meringis sambil mengamati foto saya sendiri di buku itu. Rambut saya yang panjang dan yang ikalnya saya banggakan itu tampak tidak terkuncir dengan rapi. Membuat wajah saya kelihatan seperti orang yang baru bangun tidur dan belum mandi. Sialan, batin saya. Iya juga ya. Hahahaha…. teman saya benar. Saya layak dapat award. Belum lagi kalau dia benar-benar mengamati penampilan saya sekarang. Bukan cuma rambut saja yang berantakan di saya kawan, semuanya berantakan, dari atas sampai bawah. Saya serasa mau pulang saja, kabur…..! Padahal acaranya baru dimulai beberapa menit lagi. Ah, semprul! Saya berharap jadi laki-laki saja pagi itu, supaya saya tidak perlu dandan, sanggulan, berkebaya, bersendal tinggi dan tidak perlu menyesal karena lupa pakai anting. Menjadi perempuan seringkali merepotkan. Maka bagi kalian para lelaki, pada banyak kesempatan kalian memang sangat beruntung, dan di saat lainnya adalah keberuntungan bagi kami para perempuan. Cuma, pagi itu, bagiku kalian para lelaki sangat beruntung. Aduh, capek, muter-muter lagi deh nulisnya. Sori.

Yah, begitulah. Acara berlangsung seperti acara-acara wisuda biasanya. Sambutan, pidato, penyerahan ijasah, choir time, dan lain lain sampai selesai. Saat selesai, terjadilah kerumuman. Semua orang berdiri, lalu berjalan keluar, sebagian antrian macet karena beberapa wisudawati bergerombol saling memberi selamat dan asyik mengobrol dengan seru. Saya berjalan keluar lekas-lekas, di celah-celah orang-orang yang berdiri saling himpit di ruangan itu. Saya tidak bisa menemukan orang tua saya. Saya lantas memutuskan untuk berdiri di tangga depan kampus, sisi paling pinggir dari jubelan orang-orang. Saya lihat ke segala arah. Wisudawan dan wisudawati sebagian besar melepas toganya, berkumpul bersama keluarga dan saudara-saudaranya, berfoto, beberapa orang memberi mereka karangan bunga tanda ucapan selamat. Semua tampak sangat bahagia. Senyum dan tawa dimana-mana. Dan saya terus menatap mereka sambil berdiri di tangga itu, sendirian. Saya berpikir: kenapa saya merasa demikian sendiri dan hilang? Bukan karena saya tidak bisa menemukan kedua orang tua saya yang mungkin sedang terjebak kerumunan di dalam gedung atau mereka sendiri sebenarnya sedang mencari saya saat itu. Saya merasa hilang oleh karena sesuatu yang lain. Saya benar-benar sendiri dan hilang.

Saya sebenarnya beberapa kali melihat ayah dan mama di antara kerumunan, tapi saya tidak ingin memanggil mereka dan saya tidak ingin mereka melihat dan menemukan saya. Entah. Saya hanya ingin menghilang. Saya tidak ingin orang-orang melihat saya karena saya saat itu membenci diri saya dan di saat yang sama saya merasa kehilangan diri saya. Saya diam di situ cukup lama, sampai orang tua saya menemukan saya. Saya kemudian mengajak mereka untuk langsung pulang, tetapi ayah saya menyuruh saya berfoto di depan gedung sebagai kenang-kenangan. Saat itu, seperti acara wisuda di tempat-tempat lain, banyak tukang foto dari studio foto sesuatu yang berkeliaran menawarkan jasa, dan ayah saya berkeras agar kami berfoto bersama. Saya mencoba menolak, tetapi lama-lama saya merasa sangat bersalah karena menolak untuk tidak berfoto. Ayah tampak begitu berkeras, jadi aku iyakan saja. Ya sudah, saya, ayah dan mama berfoto, lantas si tukang foto mengambil satu lagi foto: saya sendiri tanpa ayah dan mama. Saya berani sumpah, senyum saya tidak tampak bahagia saat itu. Ayah lantas membayar biaya foto tersebut dan berpesan agar keesokan harinya saya mengambil foto-foto itu. Saya diam saja, seperti saya yang biasanya.

Setelah itu kami bergerak keluar dari halaman kampus. Saya menyeberang jalan di depan kampus, ke arah mobil-mobil terparkir. Dan beberapa detik berikutnya telinga saya menangkap sebuah suara. Seseorang memanggil saya dari seberang jalan. Saya menoleh. Kekasih saya ternyata sudah ada di seberang jalan, sedang menatap saya dan tersenyum. Saya tersenyum balik padanya. Tetapi senyum saya berubah menjadi sebuah tangis tertahan. Saya begitu sedih saat itu. Lebih sedih lagi dari sebelumnya. Saya tidak ingin dia melihat saya seperti saya yang ada di hari itu. Saya tidak tampak cantik seperti yang lain. Saya kacau sekali. Bukan lagi kacau karena bagaimana saya terlihat. Bukan lagi persoalan make up ludruk atau baju kebaya yang tidak tampak menawan. Ya, tentu juga karena itu, tetapi hati saya sedang benar-benar hancur dengan pemandangan orang-orang yang begitu bahagia. Keluarga-keluarga yang berkumpul dan tampak bahagia seakan-akan mengejek saya, menunjukkan kepada saya apa-apa saja yang tidak lagi saya rasakan dan saya miliki. Dan saat itu, kekasih saya hanya bisa melihat saya dari seberang jalan, terpaku sambil menatapnya sembari menahan tangis di antara lalu lalang orang-orang. Momen itu, serupa sekali dengan adegan-adegan film India kesukaannya, adegan dimana sepasang kekasih saling tatap dari seberang jalan tanpa bisa berkata-kata dan hanya isyarat mata saja yang bisa terbaca. Tidak, saya tidak menyama-nyamakan kondisi saat itu dengan adegan film India dengan maksud melucu. Memang itu yang terjadi, dan ini tidak lucu. Ini ironis sekali.

Setelah beberapa saat kami bertatap, akhirnya saya lambaikan tangan padanya, dan saya masuk ke mobil ketika ayah menghampiri.

Kami meninggalkan kampus, dan di dalam mobil orang tua saya tidak tahu, bahwa diam-diam saya menangis. Saya membuang pandangan ke arah jalanan. Sepertinya saya dejavu. Saya pernah seperti ini sebelumnya: menangis dalam diam saat mobil sedang melaju. Ya, saat itu 10 tahun yang lalu, beberapa hari sebelum saya akan dibaptis di gereja. Saya kembali kehilangan diri saya yang lain, seperti ketika 10 tahun yang lalu.

Sesampainya di rumah, saya membersihkan wajah saya dari make up, dan saya menemukan satu hal lagi yang sangat bodoh: sepanjang acara wisuda berlangsung, dari awal samapi akhir, ternyata saya lupa tidak menutup retsliting bawahan dari kebaya saya. Ya Tuhan… mengapa bisa demikian? Beberapa jam kemudian, kami sekeluarga pergi makan besar di sebuah rumah makan: saya, ayah, mama dan adik (kakak tidak ikut karena kakak di luar kota). Ayah yang memaksa kami semua untuk makan bersama demi merayakan kelulusanku (sesungguhnya aku juga tidak ingin ada acara seperti ini, tetapi lagi-lagi aku merasa bersalah jika menolak). Dan acara makan bersama hari itupun diramaikan oleh kesunyian dan kekikukan di antara kami. Saya bukan tipe perempuan yang suka menyesal, tapi saya menyesal kami sudah makan bersama. Karena kecanggungan dan kesunyian yang tercipta di antara kami membuat hari dimana saya diwisuda menjadi semakin tidak indah untuk diingat.

Jika kawan-kawan ingin melihat bagaimana buruknya penampilan saya ketika wisuda, saya hanya bisa meminta maaf karena sampai saat ini saya tidak pernah mengambil foto-foto wisuda itu. Saya tidak suka momen itu diabadikan, maka saya tidak ingin mengambil, melihat dan menyimpannya. Itu hari yang sedih buat saya. Mengingatnya saja saya sudah cukup sedih, apalagi jika saya melihat foto dimana momen itu diabadikan.

Hari itu adalah salah satu hari yang terburuk dalam hidup saya. Dan saya tidak akan pernah melupakannya. Terkadang, saya masih menangis jika mengingat hari itu. Tetapi, setidaknya ada satu hal penting yang bisa saya petik: lebih baik membayar mahal, atau tidak usah membayar sama sekali. Datanglah dengan percaya diri dan penampilan yang bagus, atau tidak usah datang sama sekali. Hehehehehe…..

Yogyakarta, 19-20 Agustus 2008

Iklan

6 thoughts on “Wisuda

  1. salam kenal nona bakti..
    kebetulan saya sebentar lagi mau wisuda juga.. makanya saya cari2 pengalaman lewat dunia maya, dan menemukan blog km ini..

    terus terang saya pun penganut prinsip yg sama dengan kmu, wisuda g bgtu penting, apalagi skripsi sy msh acak-acakan skrg dan sbntr lagi pendadarn, bnr2 tidak pny waktu untuk mengurus keperluan wisuda..

    tp membaca tulisan kamu, hati saya tergerak. glek!! jg begitu.,.
    terima ksih ud ngebagi pengalamannya..
    beruntung bs nambah ilmu,,

    bhwa: wisuda itu sepenting nilai kelulusannya.

    akan saya urus dr sekarang,..

    tengkyuu sekali^^

    • Halo Miranti.. senang sekali tulisan ini bisa bermanfaat dan saya lebih senang lagi Miranti bisa mengambil satu kesimpulan yang bisa membantu Miranti. Saya tidak pernah berpikir bahwa tulisan-tulisan saya akan memberi manfaat spesifik, tapi saya terkejut juga dengan outcome-nya. Terimakasih ya..
      Iya.. pengalaman wisuda adalah salah satu pengalaman yang akan kita ingat seumur hidup. Jadi.. persiapkanlah meski pada awalnya terlihat tidak penting 🙂

      salam metal 😉

  2. habisnya tulisan kmu bagus, sistematis,. enak dibacanya.. bikin penasaran..
    saya sampai ngbaca berulang-ulang..
    ngerasain apa yg km rasain saat kejadian,. klo saya pasti udah nangis, biar sekalian luntur make up sy, dianggepnya org terharu wiuda pdhl hati dongkolnya minta ampun.. hihihi..

    apalagi ngebaca kalimat yg terakhir..

    saya yakin banyak yg baca tulisan ini tp g ksih komentar krn mgkin mrsakan hal yg sama atw lgsg buru2 nyiapin segala sesuatunya.. saya jg gt si, tp milih komentar dl krn bnr2 kasih inspirasi..
    ^^

    • Aduh.. makasih sekali lagi.. Kadang saya pikir tulisan saya terlalu panjang dan bikin orang jadi malas membacanya. Ya kan emang kejadian nangis tuh pas wisuda.. tapi pas udah kelar. Kacian ya… hwaaa… ha ha ha..
      Semoga wisudamu sukses ya 😉

  3. hay mbak..ikutan sedih baca tulisanmu..
    hmmm, kalo boleh tw dl km nyalon di daerah mana tuh mbak??
    soalana aku juga di jogja trus bntar lg juga mw wisudaa…
    puyeng e nyari salon buat make up yg bagus @.@

    • Halo Jane…
      Waw… kalau mau nanya tentang make wisuda dimana yang bagus.. jelas-jelas salah dong kalau nanya ke saya. Hahaha… kalau momen wisuda saya bisa diulang kembali, saya pasti akan datang ke salon yang paling bagus dan mau bayar mahal 🙂

      Di Jogja sekarang kan banyak tuh salon salon bagus. Yang biasanya saya datangi di Ambarukmo Plaza tuh Candra Gupta.. tapi ini lumayan mahal. Potong rambut sekitar 100ribu. Kalau mau yang lumayan bagus tp ga mahal, datang ke ke salon Aling di sebelah Jogjakarta Plaza Hotel.

      Semoga menemukan tempat yg oke ya.. sukses buat wisudanya!! 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s