Cermin dan Diriku yang Lain

Kamu melangkah keluar rumah. Aku mengikutimu dan membukakanmu pintu pagar. Kamu bilang, “Sampai ketemu.”  Kedua matamu mengisyaratkan perpisahan.

Aku tersenyum dan mengangguk. Aku pikir, mungkin ini kali terakhir aku melihatmu, Lelaki. Tapi mungkin juga tidak. Walau begitu, aku tetap melambaikan tanganku padamu. Aku menolak untuk menatap punggungmu yang menjauh, dan memilih untuk membuang pandangan darimu serta menutup pintu. Aku melangkah ke ruang tengah dan terdiam, berpikir: mungkin aku sudah kehilangan.

Ada sebuah cermin besar di sudut ruang. Ukurannya setinggi tubuh manusia dewasa. Kendati aku sudah cukup umur untuk disebut dewasa, cermin itu tetap saja lebih tinggi dari tinggi tubuhku. Aku sering lewat di depan cermin itu, dan sebentar menangkap pantulan tubuhku dari situ. Aku tidak pernah dengan sengaja berdiam di depannya untuk berlama-lama menatap pantulan diriku. Tapi kali ini aku melakukannya. Aku duduk di depannya, memeluk kedua lututku, dan aku tatap wajahku, garis-garis yang membentuk tubuhku, garis-garis hitam rambutku, mataku, titik-titik semu kemerahan solid yang memenuhi bibirku. Aku mencari sesuatu: ia adalah diriku yang lain, sesuatu yang selama ini hanya semacam bisikan di telingaku. Sesuatu yang sering membantah diriku ketika aku begitu parah berkeras pada sesuatu, tetapi ia juga adalah sesuatu yang selalu berusaha menenangkan dan meyakinkanku ketika aku tidak yakin akan sesuatu. Dia adalah sesuatu yang berdiam di kepalaku, di hatiku. Seseorang yang seringkali menjadi musuh tergarang, namun pada saat yang sama juga selalu menjadi teman terbaikku. Aku mencari diriku yang lain. Diri di balik diriku. Ia adalah seseorang yang sangat kukenal, tetapi tak pernah kuhadapi mata dengan mata, wajah dengan wajah, tubuh dengan tubuh. Aku ingin berbicara dengannya secara langsung sambil menatap wajahnya. Bertanya apa maunya, dan lantas jika bisa, aku akan memasukkannya ke dalam sebuah botol dan mengurungnya di sana selama berpuluh-puluh tahun agar dia tidak lagi bisa menyelinap masuk ke dalam otakku dan mengacaukan pikiranku dengan pikiran-pikirannya tentang kemungkinan-kemungkinan dan ketakutan-ketakutan yang mencemaskan.

Sudah lama ada semacam hal yang menjangkitiku. Mungkin semacam virus, sesuatu yang membuat diriku membelah diri menjadi diriku yang lain. Dia seperti amuba saja. Dia mereproduksi diriku menjadi diriku yang lain, lantas diriku yang lain dibelahnya menjadi diriku yang lain lagi. Kemudian dia mengcounter segala sesuatu yang aku pikirkan dan aku percaya sebagai kebenaran tunggal dengan pikiran-pikirannya. Aku kadang menjadi begitu lamban bereaksi karena dia membuatku melakukan kegiatan berpikir berulang-ulang. Aku selalu melakukan konstruksi, lantas diriku yang lain mendekonstruksi yang sudah kukonstruksi di dalam kepala ini. Aku jadi bisa begitu kompromi pada banyak hal karena mereka membuatku berdiri pada banyak sisi tanpa aku sedikitpun bergerak. Kompromi itu melelahkan. Tetapi aku kadang tidak mampu untuk menghentikan diriku untuk berkompromi. Dan ketika saat ketika diriku justru ingin berkompromi, diriku yang lain malah membuatku tidak mampu berkompromi. Sungguh melelahkan mereka semua terkadang. Karena mereka, aku begitu banyak berkompromi terhadap Kehilangan. Dan karena mereka juga, aku pernah begitu berkeras pada sesuatu yang seharusnya tidak aku pertahankan.

Maka, aku mencoba untuk setidaknya mengeluarkan salah satu dari diriku yang lain dari dalam tubuh yang sedang aku tatap sekarang: tubuhku. Aku tatap mataku sendiri lekat-lekat. Aku pikir, mungkin ia akan keluar dari tubuh ini jika aku menangis. Ya, saat ini juga aku sepertinya ingin menangis. Kupikir, ia mungkin akan keluar dalam bentuk liquid, bersama dengan air mataku. Aku mencoba menangis. Ah, sulit. Lantas aku meringis, menirukan ekspresi wajah seseorang yang sedang menangis. Tapi aku tidak juga berhasil mengeluarkan air mata. Aku gagal menangis. Ya, tidak sepenuhnya gagal sebenarnya. Karena aku sedikit berhasil, tetapi hanya dua butir air mata saja pada masing-masing bola mata. Tidak, ini bukan tangisan. Seharusnya ada lebih banyak lagi air mata membanjir. Aku gagal menangis. Gagal.

Aku lantas mencoba untuk mengeluarkan gumaman-gumaman panjang. Aku dorong punggungku ke depan, ke belakang, ke depan, kebelakang; seperti seorang cacat mental ketika sedang kesal atau tidak nyaman dengan sesuatu. Aku pikir mungkin salah satu dari mereka atau malah semuanya dari diriku yang lain tertarik untuk keluar dari tubuhku bersama gumaman panjang itu. Mereka mungkin saja tertarik keluar melayang bersama gumaman dan berekreasi ke sudut-sudut ruangan. Hinggap merayap bersama laba-laba atau mungkin tertarik untuk bermain cahaya lampu. Aku harap.

Sambil terus mendorong punggungku ke depan dan ke belakang, serta bergumam panjang aku tatap diriku dengan kombinasi gerakan itu. Aku begitu serupa dengan seorang penderita tuna laras. “Ya Tuhan, aku begitu tuna laras sekarang!” teriakku dalam hati, sementara di saat yang sama diriku yang lain berpikir, “Hahaha… bodoh sekali. Apa yang sedang kamu coba lakukan? Sesuatu yang kamu cari tidak akan keluar dari tubuhmu!” dan sesuatu yang lain dari dalam kepalaku berteriak, “Oh, apa yang sedang kaulakukan, kasihan sekali dirimu. Lantas kamu mau bersedih atau tertawa….?” Dan sesuatu yang lain mencemoohku seperti sesuatu yang lain sebelumnya: “Kok aku jadi nyaris geli sendiri dengan yang sedang kamu lakukan ya? Hentikanlah!”

Suara-suara dari diriku yang lain terus terngiang, menjadi satu dengan gumaman-gumaman panjang, gerakan tuna larasku, dan bekas dua butir air mataku yang tadi mengalir. Aku mendengarkan mereka berceloteh tentang apa yang sedang aku lakukan, tetapi aku sekaligus mengabaikannya. Sungguh. Aku sedang merasakan sesuatu ketika itu. Tetapi aku tidak tahu apa namanya. Entah. Aku sudah lupa. Sudah lama aku tidak merasakan hal-hal. Aku merasakan semuanya sebagai satu. Tidak ada kebahagiaan yang sangat. Tidak juga ada kesedihan yang terlalu. Tidak ada ejekan yang menyakitkan, juga tidak ada pujian yang begitu terlalu menyenangkan.

Aku ketika itu memikirkan sesuatu sembari mendengar dan melihat tubuhku sendiri. Sudah lama juga aku tidak menulis. Menceritakan sesuatu. Mungkin sesuatu semacam kenyataan yang aku selipkan di dalam sebuah cerita yang kutambahi sedikit di sana sini dengan imajinasi yang sedemikian rupa agar terkesan begitu dramatis, meledak-ledak agar aku mempunyai semacam pembenaran atas sesuatu yang salah yang telah terjadi atau tengah terjadi; alih-alih menghindarkan diriku dari perbuatan gila dan tidak masuk akal. Aku kini lebih memilih untuk diam dan merenungkan semuanya dengan diriku sendiri. Dengan diriku sendiri, bukan dengan orang lain. Berbicara dengan orang lain hanya akan menciptakan parade omong kosong dan bumerang. Aku sudah berhenti dengan kegiatan mencari-cari alasan dalam rangka mencari pembenaran atas keputusan-keputusanku. Aku berhenti beropini tanpa diminta dan aku berhenti percaya pula pada pendapat orang-orang. Aku berhenti menulis ketika sebelumnya aku berhenti membaca lebih dulu. Aku berhenti percaya pada para pengarang dan penulis. Kata-kata mereka seperti sampah yang mengotori kepalaku saja. Aku malas melihat lembaran-lembaran kertas yang ditumpuk, dijilid dan menjadi sesuatu yang bernama buku. Aku tidak lagi menyentuh buku-buku. Bagiku melihat bereksemplar-eksemplar buku seperti melihat sekian hektar hutan rimba yang pohon-pohonnya ditebangi atas nama industri. Menatap tumpukan buku-buku baru seperti menatap kehancuran. Aku jadi sedemikian membenci penulis, maka aku tidak ingin melakukan apa yang mereka lakukan: menulis. Aku lantas mengosongkan pikiranku. Aku tidak lagi membiarkan diriku bahagia, juga tidak membebaskan diriku untuk jatuh pada kesedihan. Tetapi aku tidak bisa berhenti untuk terus berpikir. Dan inilah isi kepalaku: jatuh menjatuhkan antara dua hal. Ketika aku mencoba membangun sebuah keyakinan akan sesuatu, maka sesuatu yang lain menumbangkannya kembali. Aku lantas membangunnya kembali, tetapi lantas aku tumbangkan kembali. Bangun, lantas tumbang, demikianlah seterusnya.

Beberapa orang mengatakan aku banyak berubah. Mereka bilang aku lebih diam, seperti ada tembok yang sengaja aku ciptakan di antaraku dan mereka. Dan mereka bilang aku kehilangan diriku yang begitu brilian dan percaya akan sesuatu. Aku semacam mengalami degradasi dari diriku yang dulu mereka kenal. Aku bukan diriku lagi. Tapi benarkah demikian? Aku tidak percaya apa kata mereka tentangku. Aku sendiri tidak tahu sejauh mana kecerdasanku, dan aku kadang bisa sangat terkejut dengan kebodohanku. Yang artinya, aku pun belum selesai memahami diriku sendiri. Mengapa lantas mereka berkata bahwa mereka sangat mengenalku hingga mereka bisa berkata bahwa mereka sangat mengenalku? Ini non sense. Aku tidak sesederhana itu. Aku sangat berlapis. Hanya satu lapis saja aku menampilkan diriku pada mereka dan mereka bilang aku berubah, tidak lagi seperti aku yang mereka kenal. Tapi, persetan dengan salah atau benar. Aku tidak lagi menyoal yang mana yang salah dan yang mana yang benar. Itu tidak penting. Seperti tidak lagi penting bagiku apakah sedang bahagia atau tidak. Aku sudah lepaskan itu semua. Semuanya sama saja. Kalau aku memutuskan untuk tidak punya persoalan, maka aku tidak akan punya persoalan. Bahkan ketika sewajarnya aku bersedih karena sesuatu yang tidak bisa aku hindari telah terjadi tetapi aku memutuskan bahwa aku akan merasa bahagia, aku akan merasa bahagia seketika itu juga. Sungguh. Sesederhana itu. Dan sesuatu yang sesederhana itu tidak jauh berbeda dengan sesuatu yang begitu rumit. Semua sama saja. Demikianlah segala sesuatu diciptakan bukan? Segala sesuatu sederhana dan rumit, tergantung di mana kita memilih untuk berdiri.

Yang hendak aku sampaikan adalah: sakit atau tidak sakit, sekarang atau besok, sendiri atau bersama. Aku masih akan tetap hidup dan aku masih akan tetap merasa bahagia karena aku memilih untuk begitu. Aku tidak bisa berlari dari tetap untuk hidup.

Dan kamu, Lelaki. Juga sesuatu yang sederhana, tetapi juga begitu rumit. Aku percaya sesuatu di dalam dirimu lebih besar dari yang dapat aku lihat. Aku percaya yang kamu katakan adalah yang sejujurnya kamu rasakan, tetapi aku juga percaya bahwa ada kemungkinan semua itu tidak benar karena mungkin esok hari kamu tidak akan tahu sejauh mana segala sesuatu akan membawamu dan kamu harus memutar arah, berganti haluan untuk tetap sampai ke tujuanmu semula. Dan aku tidak mencari sesuatu untuk dipersalahkan atas kenyataan apapun. Tidak ada penyesalan. Yang harus terjadi, terjadilah. Mungkin aku hanya dilatih untuk lebih kuat menghadapi sesuatu yang lebih kencang akan menghantam. Aku percaya pada mimpi-mimpimu. Dan aku percaya pada mimpi yang sedang aku ciptakan untuk aku percayai. Aku ingin juga mempunyai impian dan percaya pada impianku seperti kepercayaanmu pada impianmu.

Semakin kita mendaki, maka semakin juga kencang angin itu. Aku harap kamu selalu terus punya sesuatu untuk berpegang, supaya kamu tidak jatuh dan kalah dengan angin kencang. Tetapi jika kamu jatuh, cepatlah bangun, jangan terlalu lama tersungkur.

May be we are in different ways, but i’ll meet you somewhere we’ll never know.

It’s a nice way I think to wake up with you.

And it’s a nice way I separated from you.

Sudah. Aku menyerah untuk berkeras pada diriku yang lain untuk keluar dari diriku yang sedang menatapku di cermin besar itu. Aku hentikan gerakan tuna laras dan gumaman-gumaman panjang idiotik itu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa melepaskan sesuatu yang sangat aku kenal di dalam diriku dari diriku-diriku lainnya. Mereka adalah diriku sendiri. Akan selalu begitu. Aku kini menatap wajahku. Dan perlahan, aku sedikit demi sedikit menemukan garis-garis wajahmu Lelaki, pada garis-garis wajahku, pada lekuk-lekuk tubuhku, pada bibirku, pada kedua bola mataku.

Tidak. Kamu tidak pergi jauh. Kamu masih di sini, menemaniku duduk dengan kedua lutut terpeluk. You are me, I am you.

1 – 2 Agustus 2008. Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s