Belasungkowo

Kakak dari teman saya beberapa hari yang lalu dikabarkan telah meninggal dunia karena sakit keras. Teman saya ini adalah teman yang bisa dibilang pernah dekat dengan saya. Katakanlah, nama teman saya ini Lola. Lola sendiri ketika itu mengabarkan kepada saya bahwa dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di kota Yogya karena dia harus pulang ke kota Anu dalam waktu yang tidak bisa ditentukan untuk merawat kakaknya.

Sebenarnya saya kurang setuju dengan keputusannya untuk resign dari pekerjaannya karena belum tentu dia akan lama berada di kota Anu, mengingat kakaknya menurut saya tidak akan bisa bertahan lama dari sakitnya. Bukannya saya kejam, tetapi saya mempertimbangkan sejauh apa tingkat penyakitnya, dan menurut saya siapapun akan mustahil bisa bertahan lama dari kondisi semacam itu, terlebih jika sakitnya sudah menahun dan stadium akhir. Tetapi, bukan persoalan resign-nya Lola dari pekerjaannya yang menjadi fokus tulisan saya kali ini, melainkan persoalan berdukacita.

Jadi pada suatu pagi di minggu lalu, Lola sms saya dan mengabarkan bahwa abangnya telah meninggal dunia pukul sembilan pagi itu. Jujur, saya tidak terlalu suka dengan sesuatu yang berbau dukacita atau belasungkawa. Ya, siapa sih yang suka? Tetapi yang saya maksud di sini, saya tidak mudah tergerak atau tersentuh dengan peristiwa meninggalnya seseorangnya teman, misalnya kakaknya, kakeknya, neneknya atau anggota keluarga manapun dari siapapun. Termasuk pun anggota keluarga dekat saya sendiri. Saya cenderung adem ayem saja dengan hal ini. Jadi, pagi itu saya sempat berpikir juga: harus dengan kalimat seperti apa saya balas sms Lola?

Umumnya, menelepon keluarga yang berduka atau menelepon teman saya yang sedang berduka untuk mengucapkan belasungkawa adalah yang paling baik dan sopan. Tetapi bagi saya tidak begitu. Bagi saya, meneleponnya jelas akan mengganggu jalannya  kesibukan persiapan pemakaman yang sedang berlangsung. Datang ke acara pemakaman juga tidak mungkin karena jauh. Tapi jika bisapun saya mungkin memutuskan untuk tidak datang, kalaupun datang, mungkin saya hanya bertahan di sana dalam hitungan menit. Akhirnya, saya pilih untuk mengirim sms saja. Tapi, saya malas mengirim sms yang isinya demikian: “Turut berduka cita atas meninggalnya abang Lola. Semoga Lola dan keluarga senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan untuk bla bla bla…. “ ya seperti basa basi yang biasa orang-orang kirimkan dalam kartu ucapan turut berduka cita bagi upacara-upacara kematian dengan penuh perasaan seolah pengirimnya juga demikian berdukacita. Maka saya memutuskan untuk menulis demikian:  “Semoga Lola dan keluarga tabah. Maaf karena aku tidak bisa menemani Lola.”

Terlalu singkat dan kurang menunjukkan perasaan turut bersedihkah? Mungkin iya. Tapi itu kalimat paling jujur yang bisa saya katakan dan kirimkan.

Lalu, beberapa hari kemudian saya dapat sms dari teman saya yang juga di Yogya: Bakti, aku baru dikasih tahu kalau abangnya Lola sudah meninggal kemarin.

Lalu aku jawab: “Iya mbak, sudah meninggal.”

Itu saja. Aku tidak ada kalimat lain buat menjawab smsnya selain kalimat di atas. Habis saya mau bilang apa lagi?

Beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum berita kematian abangnya Lola, saya juga dikabari oleh salah seorang kawan bahwa ayah dari kenalan saya yang adalah seorang film maker sekaligus publishis film (kenalan sayalah yang film maker dan publishis film, sedangkan Alm Ayahnya kalau tidak salah adalah seorang PNS) meninggal dunia dan teman saya yang menyampaikan kabar duka ini baru saja kembali dari acara pemakaman tersebut. Saya dengan kenalan saya ini sudah cukup lama tidak bertemu. Dan saya sendiri sudah kehilangan nomor handphone-nya, jadi saya tidak tahu harus mengirimkan pesan turut berduka cita melalui apa. Tetapi lantas saya pikir-pikir, kalaupun saya punya nomor handphone dia, mungkin saya juga tidak akan mengirimkan apapun dalam rangka turut berduka cita.

Datang ke pemakaman untuk menunjukkan rasa duka cita dan mengirimkan pesan turut berduka cita memang sudah menjadi sebuah kebiasaan umum. Hal ini pada hakikatnya dilakukan dalam upaya untuk menunjukkan rasa empati. Jika hubungannya dengan empati, tentunya ada satu kesungguhan dari diri pribadi seseorang bahwa memang seseorang itu benar-benar merasa terhubung dengan kesedihan yang ditimbulkan oleh kematian seseorang itu. Tetapi yang saya rasakan dan temukan pada banyak acara kematian adalah banyak dari tamu yang datang  semata-mata atas nama kewajiban sosial.

Ketidakhadiran pada acara kematian menyebabkan timbulnya perasaan tidak enak karena takut dianggap tidak peduli, lantas ujung-ujungnya dibilang tidak setia kawan atawa terlalu cuek. Dan lebih jauh lagi, mungkin ada semacam konsekuensi sosial jika tidak datang. Ya sama sih dengan di atas: jadi bahan omongan karena dituding tidak sopan, tidak punya kepedulian sosial, etc. Jadi, inilah sebabnya mungkin banyak di antara kita kemudian lebih memilih untuk mengenakan topeng sosial itu demi nama baik kita secara sosial.

Pada beberapa acara kematian yang pernah saya datangi sebelumnya, terus terang selama acara berlangsung saya sendiri merasa berpura-pura. Saya memasang wajah prihatin untuk menunjukkan bahwa saya peduli dan benar-benar ikut bersedih atas kehilangan yang diderita oleh orang-orang yang ditinggalkan. Bahkan, sayapun pernah ikut dalam antrian doa, lalu berpura-pura tunduk kepala, komat kamit berdoa di depan jasad ibu dari teman saya (yang notabene tidak pernah saya temui dan saya kenal semasa hidupnya). Aneh.. aneh sekali rasanya. Dan sejak saat itu saya tidak lagi berminat datang ke acara kematian. Kalaupun saya datang ke satu acara kematian, itu karena saya memang kenal dengan almarhum/mah yang meninggal. Tapi hal itu juga tidak cukup membuat saya tergerak. Sejauh yang bisa saya ingat, setiap keluarga besar saya tertimpa musibah kematian, saya pun juga tidak merasa tergerak.

Mungkin kedengarannya saya tampak sangat dingin dan tidak berperasaan, karena saya tidak sedikitpun menangis karena mereka meninggal. Kakek, nenek, budhe, sepupu. Belum ada yang saya tangisi. Saya bukannya bangga atas ini, karena ini bukan sesuatu yang layak buat dibanggakan. Kalau menang Miss Universe, mungkin saya boleh bangga. Tapi kalau hanya karena tidak menangisi keluarga dekat yang meninggal.. hehehe, ini bukan sebuah prestasi dong. Saya jadi ingat, beberapa bulan yang lalu, Pakde saya yang adalah seorang pengusaha bunga di kota ini meninggal. Saya lantas pamit dengan teman satu kontrakan bahwa saya mau layat.

“Layat siapa Bak?” tanya teman saya.

“Pakde.” Jawab saya singkat.

Wajah teman saya kemudian sedikit terkejut dan dia bertanya, “Lho, iya toh Bak? Kok bisa?!”

“Ya bisa aja no mbak. Wong sudah tua.”

Kematian adalah sebuah proses. Jika memang sudah saatnya nyawa diambil, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya. Kalau sudah mati, ya sudah. Kematian adalah hal natural dan biasa terjadi sebagaimana kelahiran. Toh, saya meyakini bahwa ketika sesuatu itu mati, sesuatu yang dinamai kehidupan itu tidak berhenti begitu saja: akan bertransformasi ke bentuk yang lain. Ya, bersedih itu wajar. Apalagi bagi seseorang yang dekat dengan seseorang yang ditimpa kematian dan hal ini sifatnya sangat personal bagi diri tiap orang. Menunjukkan empati dalam bentuk belasungkawa ada baiknya selama memang hal itu membantu seseorang yang bersedih karena kehilangan atas peristiwa kematian tersebut. Hal yang saya pikir di sini tentang acara kematian adalah adanya kerumunan. Buat saya hal ini tidak efektif dan kadang useless. Kadang kedatangan untuk menunjukkan belasungkawa jadi tidak berarti karena keberadaan sanksi moral. Banyak orang datang ke acara kematian dan pemakaman untuk menghindarkan dirinya dari prasangka sosial, untuk menunjukkan belasungkawanya kepada publik, bukan lagi kepada person yang berduka.

Belasungkawa saya rasa tidak perlu ditunjuk-tunjukkan dengan sengaja hanya agar orang tahu bahwa kita ini peduli dengan kehilangan yang ditimbulkan oleh peristiwa kematian. Atau mungkin memang saya saja yang sakit karena berpendapat demikian ya? Ini mungkin karena saya saja yang alergi dengan acara berbau kematian.

Beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja berkesempatan berjumpa dengan teman saya yang film maker di sebuah acara Festival Film di Taman Budaya Yogyakarta. Wajahnya tampak lebih cerah dari terakhir kali saya melihatnya (kurang lebih pertemuan terakhirku dengannya terjadi di awal tahun 2008, bahkan itu jauh sebelum ayahnya meninggal). Kami saling sapa, lalu sedikit mengobrol tentang khasiat liburan panjang terhadap kesehatan jiwa. Di sela percakapan kami, saya teringat dengan peristiwa kematian ayahnya yang sudah berlalu. Lantas saya bilang kepadanya, “Oh iya, Cep. Sebelum aku lupa, aku mau menyampaikan sesuatu ke kamu.”

“Ya.. Apakah itu?”

“Aku mau bilang, bahwa aku minta maaf karena aku tidak bisa hadir di saat-saat dulu kamu sangat bersedih.”

Mendengar kata-kataku, wajahnya tampak lebih cerah lagi, dan ini membuat aku merasa lebih … apa ya? Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana saya merasa bahagia karena melihat binar mata dan senyumnya yang begitu lepas saat itu.

“Tidak apa-apa. Tidak jadi soal. Terima kasih Bakti.”

“Aku benci mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan berduka cita. Itu bukan keahlianku. Jadi hal itu tadi adalah sesuatu paling tulus yang bisa aku katakan padamu mengenai dukacitamu.”

“Iya, sama. Aku juga benci dengan sesuatu yang berhubungan dengan itu. Dukacita.” Kami sama-sama tersenyum.

Dan seperti kata vokalis Dream Theater:

“And if I die tomorrow, I’ll be alright because I believe

That after we’re gone, the spirit carries on….”


Written on  18 August 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s