Pisang Super

Setelah beberapa hari  tinggal di rumah kontrakan saya di bulan September, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya mengenai rumah ini. Di belakang rumah saya tumbuh sekelompok  pohon pisang. Ada beberapa yang tumbuh di dalam halaman belakang, juga ada yang tumbuh di luar pagar halaman, berderet-deret pohonnya sampai ke depan rumah bagian samping.

Nah, salah satu dari pohon pisang tersebut berbuah dan buahnya masuk ke teritori halaman belakang rumah saya. Sebagaimana pohon pisang pada umumnya, buah yang dihasilkan oleh pohon pisang itu cukup banyak, ada bersisir-sisir kalau mau dihitung, dan entah karena tanahnya yang cukup subur atau apa, buah-buah di satu tandan tersebut besarnya di luar ukuran buah pisang normal yang biasa saya lihat dijual di pasar-pasar manapun. Yang ini ukurannya panjaaaang…. dan beeesaaaarrrr… 😀

Selama hari-hari tersebut, siapapun yang datang ke rumah saya, selalu tergerak dan tergoda untuk mengunduh buah pisang super tersebut. Tetapi tak ada satupun yang benar-benar tega untuk mengunduhnya. Kan tidak enak rasanya, baru datang dan tinggal sebentar di situ kok sudah nggratil tangannya, kok ya beraninya mengunduh buah pisang yang bukan muhkrimnya ?

Maka tetaplah buah pisang super itu bergelantungan dengan gagah di pohonnya.

***

Berhari-hari saya memikirkan perihal buah pisang ini. Mengenai siapakah yang berhak mengunduhnya. Saya tunggu-tunggu.. kok tidak ada satupun tetangga yang datang ke rumah, untuk mungkin mengklaim buah itu atau setidaknya memberi pesan kepada saya untuk tidak mengunduhnya karena buah itu hak mereka. Saya tunggu terus. Sampai kadang kalau pulang ke rumah, saya berharap buah pisang itu sudah hilang karena sudah ada tetangga yang tanpa permisi sudah mengunduhnya. Bagi saya, jika itu terjadi, maka rasanya justru lebih adil. Tetapi sudah sampai satu minggu, pohon pisang itu tidak juga mengalami perubahan status. Tetap saja buahnya berada di posisi yang sama, makin banyak yang matang, bahkan ada satu-dua buah yang sudah dimakan codot karena matangnya keliwatan.

Saya pikir-pikir, kalau mau dilogika, kan pohon pisang itu letaknya di pinggir jalan, mepet tembok pagar rumah saya, bukan di halaman rumah orang, jadi kemungkinan memang pohon pisang itu tidak bertuan. Dan kalau ditambah dengan fakta bahwa arah tumbuh buahnya yang menjorok ke arah dalam halaman saya, bisa disimpulkan bahwa saya adalah pihak yang berwenang  mengunduhnya. Tapi saya tidak yakin juga dengan kesimpulan awal tersebut karena arah tumbuh buah tidak bisa dijadikan patokan kepemilikan. Sampai pada beberapa hari berikutnya, saya kedatangan kedua orang tua saya. Melihat buah pisang super tersebut, seperti tamu-tamu saya yang lain, mereka bertanya itu pohon pisang siapa. Dan setelah saya ceritakan perihal pohon pisang tersebut, bahwa setelah selama berhari-hari saya menunggu pemiliknya untuk datang mengklaim tapi tak ada juga yang datang, ayah saya teramat sangat tergerak untuk mengunduhnya. Wah.. semangat dong saya ngomporin.

“Iya.. udah ambil aja deh. Lagian juga kalau nggak ada yang ngambil itu buah besok mubazir, busuk sebelum dikonsumsi.” Kata saya. Ayah langsung saja ambil tangga lipat dan menyaut pisau baru dari meja dapur saya. Ibu saya tidak kalah, menyusul di belakang ayah dan mendukung tindak kejahatan tersebut. Wah… saya perhatikan tindak tanduk mereka berdua.. mereka cocok disebut sebagai partner in crime satu sama lain. Sambil memperhatikan mereka gelap-gelap berdua mengunduh buah pisang super, tiba-tiba timbul pikiran bahwa jangan-jangan saya ini juga adalah anak hasil partner in crime ya?? Ha ha ha… Hussh… oh, bapak ibu, maafkanlah anakmu ini, karena punya pikiran yang demikian.

Demikianlah akhirnya pohon pisang itu berubah status. Dan hasil dari pengunduhan malam itu dibagi dua. Seperempat tandan saya berikan kepada orang tua saya, dan sisanya lagi saya taruh di teras halaman belakang rumah, sebagai suplai makanan cadangan kalau perut sedang lapar dan tidak ada sesuatupun yang bisa dimasak.

Tapi, berhubung buah pisang itu besar-besar, kalau makan setengah saja rasanya udah kenyang. Alhasil, makin banyak yang matang tetapi pisangnya belum habis-habis juga. Ya bagaimana bisa menghabiskan sendiri? Jumlah pisang yang saya miliki di teras belakang rumah hasil pengunduhan itu  ada 6 deret,  alias 6 sisir. 1 sisir terdiri dari kurang lebih 10 sampai 12 buah. Itu sih sama dengan harus menghabiskan jatah pisang untuk 6 keluarga, dan hal ini adalah mission impossible. Kecuali saya adalah orang utan atau monyet. Nguukk.. nguuk…!!

Saya pikir daripada pisang-pisang ajaib itu menjadi busuk tanpa termakan, saya punya ide cemerlang. Saya berikan beberapa sisir pisang tersebut untuk kawan saya, dan untuk pembantu atasan saya. Nah, lumayan jumlahnya sudah berkurang dua sisir walaupun yang tersisa juga masih buanyakk!! Masih ada 4 sisir. Maka, saya putuskan untuk melanjutkan kegiatan amal tersebut keesokan paginya sebelum saya berangkat ke kantor. Saya berpikir untuk memberikan satu sisir pisang lagi kepada tetangga sebelah kiri rumah saya, ibu-ibu perempuan Belanda yang adalah majikan si anjing yang bernama Patrick. Saya  sudah kenal dengan beliau dan menurut pengamatan saya orangnya memang baik.

Jadi, saya bungkus itu pisang dengan plastik dan akan saya bawa keluar, ke arah rumah tetangga sebelah. Tapi, begitu saya buka pintu gerbang rumah, niat saya berubah.

Nah, saya belum cerita ya, bahwa di depan rumah saya tiap pagi ada seekor mbak-mbak berbadan gempal yang rutin menggelar dagangan sayur mayur.  Dan tiap pagi juga, atas keberadaan si tukang sayur yang mangkal itu artinya beberapa ibu juga tiap pagi akan nongkrong di gardu depan rumah saya itu. Nah, tiap pagi selalu terdengar suara mereka yang sedang ngobrol tentang apa saja, bikin saya selalu terbangun karena suara mereka selalu terdengar sampai ke kamar depan tempat saya biasa tidur. Kadang, selain mendengar suara mereka cekakak cekikik, ada juga suara osrak osrek sapu lidi yang beradu dengan sampah daun dan konblok jalan di depan rumah. Saya jadi tidak bisa tidur lagi deh.. (ya seharusnya sih kalau buat orang normal memang itu jam bangun pagi, tapi saya kan punya sifat keturunan kampret alias manusia malam, tidak bisa tidur jika belum pukul 12  malam, atau kadang malah sering baru bisa tidur setelah pukul 3 pagi. Jadi, sori ya kalau saya harus bangun jam 7 atau 8 pagi. Saya ogah!!).

Anyway, saya malah jadi tergerak untuk memberikan pisang itu kepada mbak penjual sayur. Saya pikir, kan tujuannya juga sama, supaya pisang di rumah  jumlahnya berkurang. Daripada repot mengetuk rumah tetangga, lebih baik kan diberikan kepada orang yang jelas-jelas ada di depan mata. Plus, saya berharap, kalau saya berbuat baik sama tukang sayur ini, saya bisa sedikit memberi kesan baik di mata dia. Hitung-hitung, kalau suatu hari saya digosipin, ya dia nggak tega-tega amat nggosipinnya karena dia pikir saya pasti orang baik. HA HA HA HA…. Nice strategy!! Plus, si tukang sayur sedang sendirian, jadi saya merasa nggak rikuh.

Nah, saya kasihin tuh pisang. Dia bilang terima kasih. Lalu saya masuk lagi ke dalam rumah, bersiap berangkat kerja. Sebelum kemudian saya dengar mbak tukang sayur itu memanggil saya dari halaman rumah saya: “Mbaak… mbaak..”

“Ya sebentar, “ jawab saya. Saya lalu keluar. “Ada apa mbak?” tanya saya.

“Maaf mbak, mau tanya. Ini pisangnya dapat dari mana ya?”

TENG TONG!!! Kok nanyanya gitu ya??

Saya jawab, “Dari halaman belakang mbak. Kenapa?” Saya tersenyum, berusaha tetap tenang dan innocent.

“Oh.. anu mbak.. itu, saya soalnya dipesenin sama tetangga yang rumahnya sebelah sana itu lho mbak. Ini kan pisangnya ibu itu.”

“Oo.. gitu ya, lha habis saya nggak dikasih tahu kalau pisang itu ada yang punya. Saya pikir daripada busuk kan mending diambil. Ya maaf ya mbak.”

“Iya, kemarin katanya kalau pisangnya sudah mateng saya dititipin suruh ngambil. Sebenernya mau dibawa ke Medan, tapi waktu mau diambil sudah nggak ada.”

Hihihi.. saya merasa lucu. “Oh, gitu. Kapan berangkat mudiknya? Biar saya antar pisang-pisangnya ke rumah ibu itu sekarang.” Kata saya.

“Oh, nggak usah aja mbak, soalnya sudah berangkat mudik kemarin sore.”

“Oh gitu ya? Ya udah deh.. Kalau gitu sampaikan maaf saya sama ibu itu ya kalau mbak ketemu. Kalau saya tahu pisangnya ada yang punya, pasti langsung saya kasihkan. Tapi itu juga masih banyak kok mbak di belakang. Silahkan diambil aja semua.” Lanjut saya sambil mengajaknya ke teras belakang. Langsung saya suruh dia angkut pisang-pisang itu. Mukanya kelihatan rikuh dan tidak enak karena sudah masuk-masuk ke rumah saya dan menanyakan status pisang.

“Maaf lho ya mbak.. saya masuk-masuk soalnya saya juga sudah dipesenin.” Kata dia lagi.

“Ya udah mbak, nggak papa.”

Dia lalu keluar rumah saya. Dan saya sibuk lagi bersiap untuk pergi. Tapi tidak sampai dua menit, dia datang lagi.

“Mbak… besok nggak usah bilang ke ibu itu aja ya soal pisang ini. Soalnya nggak enak juga kan mbak.. “

“Oh.. ya udah mbak, iya saya nggak akan bilang apa-apa deh.”

“Bener ya mbak?”

“Iya.. “

Begitulah.. saya jadi berpikir setelah mbak tukang sayur itu datang ke rumah, menjelaskan status pisang itu dan meminta saya supaya tidak bilang kepada “pemilik pisang” yang kabarnya berpesan kepadanya untuk mengambil pisang. Kenapa saya tidak boleh bilang kepada si pemilik pisang jika pisang itu saya yang mengambil kalau memang benar itu pisang si tetangga? Lagipula saya perhatikan kalau dari luar pisang itu tidak akan bisa kelihatan kalau berbuah, soalnya letaknya benar-benar di dalam halaman belakang saya, terlindungi pagar tembok. Saya jadi curiga, jangan-jangan cerita itu cuma dikarang sama si mbak tukang sayur supaya dia bisa dapat semua pisang itu secara gratis, lantas pisang-pisang itu dia jual. Kan lumayan, satu sisir bisa dihargai 12ribu atau malah lebih karena pisang itu juga besar-besar. Bisa dapat untung banyak dia, apalagi waktu itu seminggu sebelum lebaran.

Wah, saya jadi sedikit jengkel. Kenapa mesti berbohong sama saya? Kalau dia minta semuanya saja, tanpa embel-embel cerita bahwa pisang itu ada yang punya, saya juga pasti akan berikan pisang itu kok. Tapi.. ya dasar orang maunya sopan dan terkesan tidak rakus, ya saya maklumi sajalah kelakuan si tukang sayur. Namanya juga usaha.

Tapi, sejak kejadian itu, saya tidak pernah mau membeli sayur dagangannya. Biarpun Cuma beli kentang seharga RP 500 perak.

Dan sewaktu pohon pisang di luar rumah dua minggu yang lalu roboh karena hujan dan batangnya ambruk ke dalam halaman depan saya sehingga  membuahkan panen pisang yang kedua bagi saya, saya diam saja dan langsung membawa pisang itu keluar rumah untuk saya bagikan kepada kawan, orang tua dan pembantu atasan saya. Ogah saya pasang pengumuman dan bilang sama si tukang sayur soal robohnya pohon pisang itu. Ntar saya dikibulin lagi sama dia dan ujung-ujungnya saya dia buat merasa bersalah karena terkesan dituduh ngambil yang bukan haknya.

Ah, kejamnya..

Oh.. pisang super…  Rasamu memang nikmat dan mengenyangkan, tetapi perjuangan mengunduhmu sungguhlah rumit dan politis..(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s