Cacingan dan Colorless Life (alias CCL)

Sesuai dengan penanggalan kondisi kejiwaan saya, dalam beberapa hari dalam seminggu seperti biasanya saya akan merasa cukup bosan. Dan jika kebosanan ini sudah menukik ke tingkat yang akut, hidup rasanya menjadi tidak ada kejutan dan menarik-menariknya lagi. Posisi tidur kian nomaden, makin tidak punya alasan untuk pulang, tidak punya alasan untuk bangun tidur, bahkan tidak ada alasan untuk tidur karena sulit merasa ngantuk. Nah.. serba salah. Bisa dibayangkan atau tidak? Saya bingung.

Alhasil, saya minum obat cacing satu hari yang lalu. Wadooh… apakah semua ini ada hubungannya dengan keputusan saya meminum obat cacing?  Tentu saja secara redaksional kalimat, hal itu tidaklah ada hubungannya. Tetapi akan saya ceritakan sejarah saya minum obat cacing tempo hari.

Alkisah jauh sebelum hari itu, atasan saya berkata, “Kamu kurus sekali. Lebih kurus dari terakhir saya lihat kamu. Jangan-jangan kamu cacingan.”

Huee… tentu saja saya jawab pertanyaannya dengan, “Tidaklah.. saya tidak cacingan.” Kan tengsin saya, jaman modern begini, kumpeni sudah lama hengkang, masak saya bisa cacingan?

Atasan saya berkata lagi, “Lalu kenapa kamu makan banyak sekali tapi tidak gemuk?”

Wah… kalau itu alasannya lain lagi. Saya bilang sama beliau bahwa kalau sedang ada teman makan, saya memang makannya banyak, tapi saya sering sekali punya waktu sendirian dan kalau sedang sendirian saya cuma makan sedikit sekali. Malah kadang-kadang sehari makan 1kali. Kalau begitu ceritanya, bagaimana saya bisa gemuk? Mendengar penjelasan saya, atasan saya manggut-manggut, dan pembicaraan tentang cacingan selesai.

Tetapi kemarin saya berinisiatif membeli obat cacing dan meminumnya. Dasar pertimbangan dari membeli obat cacing tersebut adalah kemungkinan terburuk bahwa  mungkin saja dugaan atasan saya itu benar. Saya bisa jadi cacingan.

Harapan saya, setelah meminum obat itu saya bisa gemuk karena parasit-parasit apapun bentuknya itu meninggal secara mengenaskan dan tubuh saya bebas dari penjajah.

Hiii!!! Saya jadi ngeri sendiri membayangkan di tubuh saya hidup banyak keluarga cacing yang mungkin jumlahnya sama dengan jumlah penduduk satu kecamatan. Siapa tahu?

Jadi begitulah.. saya minum obat cacing. Saya berharap kegiatan meminum obat cacing kemarin itu bisa membuat hidup saya yang berasa kian membosankan dan colorless ini sedikit mendingan. Setidaknya, karena minum obat cacing adalah kebiasaan di luar rutinitas saya.

Berbicara tentang parasit, kita  tahu yang digolongkan ke dalam parasit itu bukan cuma cacing, kutu, atau jamur. Bentuknya bisa apa saja. Kalau kurang yakin, mari kita tengok kamus besar bahasa Indonesia.

pa·ra·sit n 1 benalu; pasilan; 2 organisme yg hidup dan mengisap makanan dr organisme lain yg ditempelinya; 3 kiasan: orang yg hidupnya menjadi beban (membebani) orang lain;

Nah.. itu adalah satu dari dua arti yang muncul dalam kamus besar bahasa Indonesia. Saya jadi mikir dengan arti nomor 3 yang adalah metafor alias kiasan. Kita bisa menyebut manusia sebagai parasit jikalau manusia itu menjadi beban karena sering atau tidak sering secara sengaja maupun tidak sengaja hidup dari kebaikan orang lain (bahkan kalau sudah keseringan, yang namanya kebaikan bisa berubah menjadi keterpaksaan :p).

Namun sebenarnya tidak mudah untuk begitu saja menempelkan label parasit kepada orang lain. Kadang memang orang yang dilabeli parasit itu sadar bahwa dirinya parasit, dan memang secara sengaja menempel dan memanfaatkan orang lain yang ditempelin. Tapi banyak juga yang sifatnya “freelance”.Heheehe.. maksudnya: tidak menyengajakan dirinya sebagai parasit dan sifat parasitnya hanya kambuhan dan berpindah-pindah. Si manusia parasit menempel tidak hanya pada satu orang tetapi berpindah dari satu orang ke orang lainnya, tergantung orang mana berpotensi untuk dimintai pertolongan.

Nah, parasit freelance ini yang kurang bisa ditebak-tebak, dan kadang malah lebih mengesalkan dan mengejutkan.

Terlepas  dari parasit tetap atau parasit freelance, banyak dari kita yang kadang perlu bantuan orang lain, dan tentu saja kita punya hati nurani yang membuat kita memiliki kesadaran merasa bahwa kita harus menolong orang lain. Tapi.. yang seringkali terjadi adalah timbulnya kecenderungan dari orang-orang yang sering kita tolong itu untuk terlena dan bisa sewaktu-waktu datang dan berharap untuk mendapat bantuan dari kita, daripada belajar mengatasi masalahnya sendiri.

Nah, sehubungan dengan hal ini, saya mengalami proses pembelajaran yang sangat panjang dan lama untuk bisa berkata “tidak”. Saya ini tergolong orang yang lemah hati. Suka merasa bersalah kalau melakukan sedikit kesalahan, takut menyakiti perasaan orang lain, apalagi kalau menolak orang lain yang meminta pertolongan. Beberapa kawan mengatakan saya ini “atos” padahal di dalam hati saya, saya paling nggak bisa bilang “tidak” dan pantang menyakiti perasaan orang lain.

Tapi saya sadar, saya tidak bisa selamanya bilang “ya”. Saya harus berani berkata “tidak”, dan harus lebih mementingkan kepentingan pribadi lebih dulu. Bullshit-lah pelajaran PMP yang menanamkan ajaran: “Kita wajib mendahulukan kepentingan orang lain, daripada kepentingan diri sendiri.” Buat saya, tidak boleh begitu terus-terusan, karena kalau begitu terus ceritanya, bagaimana saya bisa maju?

Setiap kita harus membangun batasan. Kita tidak bisa selamanya berkata “ya”. Kita tidak bisa selamanya mengandalkan bantuan dari orang lain. Kita harus berdiri sendiri, dan berusaha menyelesaikan masalah kita sendiri.

Dan inilah yang saya lakukan. Saya berusaha untuk tidak merepotkan siapapun, berusaha mengerjakan semuanya sendiri, dan meminimalkan keluhan. Sebab saya tidak ingin direpotkan siapapun, tidak ingin dikerjai siapapun, dan tidak ingin keliwat banyak mendengarkan keluhan tentang hidup orang lain.

Namun, kawan-kawan.. resiko besar yang mungkin saya hadapi adalah hidup saya terancam kian sepi dari lalu lalang manusia. Aktivitas menjadi monoton dan saya kian kurus karena sedikit makan, sebab kurang punya cheerleader di meja makan. Tetapi saya juga merasa bimbang untuk membuka pintu menerima kehadiran manusia lain di dalam hidup saya, karena proses pembelajaran saya yang panjang mengajarkan saya untuk lebih baik meminimalkan kehadiran manusia lain dalam hidup saya, daripada saya menjadi korban pemanfaatan.

Hmm… situasi yang rumit. Mungkin bicara saja untuk memberikan saran kepada  saya untuk lebih terbuka pada orang lain memang mudah.. tapi.. itu kan hanya teori saja. Pengalaman adalah guru yang paling berharga kawan, jadi preklah dengan teori.

Sambil menulis tulisan ini, saya jadi teringat sedikit kejadian yang terjadi siang ini. Alkisah ada seorang kawan yang menelepon saya, untuk pinjam uang kesekian kalinya dan semuanya tidak pernah kembali. Nah, biasa, yang terjadi pada awalnya jika saya mendapat telepon semacam ini adalah: jengkel. Kenapa selalu saya yang jadi korban pemalakan? Apakah karena saya lemah hati  dan selalu memberi harapan?

Entahlah.. pokoknya saya sebel aja. Sampai misuh-misuh nggak karuan, bukannya diam dan prihatin karena kawan saya yang mau mengutang itu sedang tertimpa kesialan. Tidak lama kemudian, teman saya Benedicto Hadi telpon. Hmm.. langsung deh, saya semprot dia dengan kekesalan saya. Dianya yang maklum dengan sifat mulut saya yang “atos” tur cerewet, menanggapi dengan santai, dan alhasil dia membuat saya sedikit riang dengan celetukannya yang tidak bermutu.

Lalu saya bilang, “Sapto, ayo kita nonton!”

Sapto, “Kapan?”

Saya, “Sekarang! Pokoknya sekarang!”

Sapto menjawab, “Aduh, iya ini baru pulang dari ngajar, makan 40 km dari sekolah, rumah, ke Jogja. Capek tahu.. Lagian muridku sedang ujian.”

Saya, “Lho, yang ujian kan muridmu, bukan kamu!!”

Sapto, “Oooo… GOBLOK!!”

“Hahahaha….. ” saya ketawa, dikatain goblok sama Sapto, “Ya udah, besok. Habis muridmu ujian.”

Sapto, “Ya udah, ketemuannya di mana?”

Saya, “Ya di ambarukmo plaza aja lah..”

Sapto, “Ya, pokoknya aku nggak usah tahu rumahmu, kamu juga nggak usah tahu dimana rumahku. Yang penting kita tahu dimana lokasi hotel tempat kita check-in.”

HWAHAHAHAHAHA.. oalah.. Saptoooo…!!! Bisa aja! Saya nggak jadi marah deh.. 😀

Saya jadi berpikir. Sebenarnya kejadian seburuk apapun, semenjengkelkan apapun, yang hadir dari luar diri saya, dan misalnya berasal dari orang lain, pasti akan selalu memberi kontribusi yang cukup berarti bagi kehidupan saya. Sebab ketika saya sudah keluar dari hal tersebut, atau tidak lagi berbenturan dengan orang lain,  kehidupan yang terlihat membosankan dan colorless itu tidak akan sedemikian colorless lagi..

Tapi, saya tetap akan terus mencoba  untuk tidak ditemplokin parasit dan tidak menjadi parasit. Amin!!

Sapto… berjanjilah bahwa kau tidak akan menjadi parasit. Nanti mukamu tidak berbeda lho dari muka cacing..

Aku  tahu, mukamu memang jelek, tapi setidaknya, jangan sejelek muka cacing 😀

Nanti kamu beli pop corn-mu sendiri ya kalau kita di bioskop…

Kita bisa menyebut manusia sebagai parasit jikalau manusia itu menjadi beban karena sering atau tidak sering secara sengaja maupun tidak sengaja hidup dari kebaikan orang lain (bahkan kalau sudah keseringan, yang namanya kebaikan bisa berubah menjadi keterpaksaan :p).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s