Misteri Tanda Tangan Slompret. (translation: The Mistery of “Slompret” Signature)

Halo kawan-kawan, kali ini saya ingin berbagi cerita perihal tanda tangan.

Kabarnya, tanda tangan bisa menunjukkan jati diri si pemilik, sifat-sifat dan kondisi si penanda tangan sewaktu tanda tangan itu dibuat. Ada studi khusus yang mempelajari perihal tulisan dan tanda tangan. Biasa disebut graphology. Dalam Wikipedia, ini yang saya temukan sebagai penjelasan singkat tentang graphology.

Graphology is the study and analysis of handwriting especially in relation to human psychology. In the medical field, it can be used to refer to the study of handwriting as an aid in diagnosis and tracking of diseases of the brain and nervous system.

Nah, lanjut prolog; saya memiliki kebiasaan membuat tanda tangan yang berubah-ubah. Ya tidak sepenuhnya berubah 100%. Maksud saya, tanda tangan saya selalu sama dari tahun ke tahun, tetapi coretannya tidak selalu persis. Kadang ada garis kecil di bawahnya, kadang ada lekukan “L” latinnya di bawah, Kadang huruf “B” nya gendut, kadang kurus, dan kadang juga secara keseluruhan garisnya mawut atau tajam. Tetapi selalu ada kesamaan dalam tiap tanda tangan saya. Paling tidak, garisnya selalu tebal dan pasti, dan terbaca: “Bakti” dalam huruf latin ala tulisan tangan saya.

Pokoknya, kalau mau diamati, perubahan coretan dan garis dalam tanda tangan saya sangat bebas, fleksibel, dan sesuai dengan mood dan kondisi kejiwaan saya. Kalau saya sedang gugup, tanda tangan saya bisa kelihatan kurang indah, kadang garisnya terhenti di tengah-tengah, dan lain-lain. Singkat kata, kelihatannya berantakan. Dan sebaliknya, kalau sedang merasa percaya diri dan pikiran saya sedang baik-baik saja, tanda tangan saya bentuknya kelihatan jauh lebih beres. Hmm.. mungkin saya keliwat ekspresif, jadi tanda tangannya tidak pernah sama. Atau ini hanya persoalan kebiasaan saja? Ah, saya tidak tahu pasti. Silahkan membuat analisa masing-masing perihal perubahan garis tanda tangan saya. Siapa tahu, bisa membantu saya mencari jawab dari misteri tanda tangan ini. Misteri Tanda Tangan Slompret. Dan inilah sebab saya beri judul tulisan ini demikian, dan anda akan tahu sebab apa saya beri tulisan ini judul itu.

Lanjut ke cerita saya lagi.

Meski demikian, saya tidak pernah memandang bahwa kebiasaan membuat tanda tangan yang fleksibel dan situasional ini sebagai sebuah masalah. Sampai pada suatu hari, satu tahun yang lalu saya dibuat duduk selama nyaris setengah jam dan dipaksa latihan membuat beratus tanda tangan oleh seorang customer service sebuah bank.

Waktu itu awalnya saya mau membuka rekening di bank terkenal tersebut. Mbak customer service meminta saya mengisi sebuah formulir. Biasa, isian tentang data diri. Semuanya lancar saya isi, sampai pada bagian akhir dari pengisian formulir, si customer service berkata kepada saya, “Maaf mbak, ini tanda tangannya kok nggak sama dengan yang ada di ID ya?”

“Oh, nggak sama? Memang harus persis seperti itu ya? Benar-benar persis??”

“Iya. Harus persis sama.”

“Wah, padahal saya nggak pernah bisa bikin tanda tangan yang benar-benar persis tuh”

“Oh, kalau nggak bisa bikin tanda tangan yang sama ya berarti belum bisa bikin rekening di bank dong!” jawabnya dengan tegas. Tidak ada sopan-sopan dan manisnya pula ketika dia mengatakan itu kepada saya.

Wah.. saya langsung menelan ludah yang seketika itu rasanya kecut. Mulai menciut hati saya, dan saya merasa mulai gugup. Saya lumayan tersinggung sebenarnya karena saya pikir, bagaimana mungkin bank sebesar ini memperkerjakan seseorang yang tidak becus sebagai customer service. Sikap ramah dan kooperatif yang menjadi syarat utama seorang customer service saja dia tidak punya. Tapi saya tidak punya pilihan. Saya harus tabah disikapi judes macam begini. Tidak bisa mundur, saya waktu itu memang perlu membuka rekening baru di bank yang itu untuk keperluan transfer gaji.

“Jadi, gimana mbak? Saya harus buat tanda tangan yang sama persis dengan yang itu?” tanya saya sambil menunjuk ID saya yang tergeletak di meja.

“Ya iya. Itu sudah peraturannya. Kalau tetap belum bisa bikin tanda tangan yang sama ya sudah, latihan dulu saja.” Dia serta merta mengeluarkan selembar kertas hvs ke atas meja, “Ini, coret-coret di sini saja.” Lanjutnya dengan muka tak bahagia.

Akhirnya, saya pasrah saja. Saya latihan membuat tanda tangan sesuai suruhannya. Satu, dua, tiga, empat, lima, dst. Sama, nggak sama, kurang coretan di sini sedikit, di sana sedikit, gagal lagi, bikin lagi, wah.. tidak sadar ternyata sudah ada 3 lembar hvs penuh dengan berbagai macam tanda tangan saya. Semuanya serupa tapi tak sama. Aduh, makin gugup saya. Belum lagi melihat pandangan mata mbak customer service yang judesnya amit-amit itu. Hanya dengan melihat tampangnya, rasanya saya makin tidak percaya kalau saya bisa berhasil membuat tanda tangan yang sama. Jangan harap anda berada dalam posisi saya saat itu karena rasanya seperti sedang dihukum membuat 300 tanda tangan, dan balik lagi ke jaman SD. Ya, saya merasa seperti anak SD yang ingusan, dipaksa duduk dan dihukum karena tidak becus mengerjakan sesuatu. Harga diri saya yang mungkin nilainya tidak seberapa itu seperti sedang diinjak-injak. Membuat saya yang berbadan kecil ini merasa makin kecil lagi.

Sambil mencoret-coret kertas hvs dengan berpuluh tanda tangan berikutnya, saya berpikir: bagaimana mungkin seseorang ditolak membuat rekening bank hanya karena tanda tangannya tidak sama persis dengan yang tertera di ID? Padahal jelas-jelas, foto yang ada di ID itu memang sama dengan muka si calon nasabah. Apakah ini merupakan ekses dari semakin bertuannya teknologi modern dan komputerisasi di berbagai bidang, terutama perbankan? Sampai-sampai kreativitas dan fleksibilitas yang sifatnya sangat manusiawi jadi tidak dihargai lagi, malah kalau bisa dihilangkan. Penyeragaman digalakkan. Yang tidak sama, minggir aja, jangan harap dapat tempat. Karena yang nggak serupa itu dianggap menyulitkan, tidak bisa dikontrol. Out of the box, tidak bisa dikategorikan. Unidentified walking object. Etcetera, etcetera. Saya merasa jengkel dua kali lipat jadinya dan merasa terasing. Berapa banyak manusia yang sudah berhasil menjadi customer di bank ini, maka sebanyak itu juga manusia yang geraknya sudah serupa robot-robot: pencetak tanda tangan yang selalu serupa. Seperti mesin.

Saya bergidik. Ngeri. Membayangkan di kiri kanan saya saat itu sebenarnya manusia-manusia yang sudah berhasil dirobotkan sedang bersliweran. Wajah mbak customer service di depan saya, tiba-tiba makin terlihat jahat. Seperti antek-antek setan saja wajahnya. Glek..tambah kelu lidah saya. Jari-jari saya makin dingin.

Sepuluh menit kemudian, si mbak customer service judes itu berkata, “Gimana kalau mbak latihan dulu di rumah? Kalau sudah bisa membuat tanda tangan yang sama terus, baru datang lagi ke sini.” Dia menyerahkan formulir yang masih kosong dan senyumnya yang manis itu seolah berkata: “Silahkan pulang. Tidak ada gunanya kamu duduk di sini terus. Kemungkinan keberhasilan kamu kecil. Kamu memperlambat kerja saya.”

Saya tersenyum padanya. “Oh.. ok. Saya kembali lagi kapan-kapan.” Wajahnya masih judes, serupa istri yang kehidupan seksnya tidak bahagia. Dengan perasaan jengkel yang tertahan plus ngeri dan merasa shock dengan keterasingan yang saya rasakan, saya ambil formulir itu, dan saya melangkah pergi meninggalkan bank itu. Wah.. saya ditolak.

Dengan perasaan yang masih sama, saya melaju bersama motor saya ketika serta merta saya punya ide bagus pergi ke bank yang sama tapi berbeda alamat. Saya pergi ke branch alias cabang bank itu, di jalan Ahmad Dahlan. Dan ajaib, tidak sampai 1 jam, saya sudah berhasil membuka rekening di bank tersebut padahal tanda tangan yang saya bubuhkan di formulir calon nasabah tetap tidak terlalu sama dengan tanda tangan yang tertera di ID saya. Ha ha ha…

Saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya sistem banknya yang bocor atau sumber daya manusianya yang mengada-ada ya?

Sampai saat ini, saya masih menjadi nasabah bank tersebut. Dan saya masih terus memproduksi tanda tangan yang “serupa tapi tak sama” jika diminta untuk membubuhkan tanda tangan. Saya juga masih sering gugup jika berhadapan dengan customer service dimanapun dan lebih gugup lagi jika dimintai tanda tangan (bukan cuma oleh customer service). Dan saya tenyata juga masih sempat kesulitan untuk membuka rekening di bank lain karena kreativitas dalam tanda tangan saya yang munculnya tidak bisa ditebak-tebak itu.

Hmmm… oalah.. memang, tanda tangan yang slompret. Atau.. sistem banknya yang slompret??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s