Kisah seekor anjing terbuang yang mirip dengan anjingku..

Suatu sore, aku melihat seekor anjing berkeliaran di depan rumah kawanku. Anjing itu tampaknya tersesat. Sudah beberapa hari orang-orang melihatnya di daerah itu. Tanpa pemilik. Biasanya mereka melihat anjing itu berjalan-jalan menemani tuannya, dan kata kawanku, laki-laki yang biasanya berjalan-jalan dengan anjing itu sudah cukup tua. Aku merasa iba, dan di kepalaku timbul pikiran sedih: mungkin pemiliknya baru saja meninggal, dan orang tua itu tidak punya saudara atau famili dan hanya anjing jantan itu yang dia miliki. Atau jika orang tua itu punya saudara, mungkin mereka tidak mau memelihara anjing itu. Dan setelah orang tua itu dimakamkan, anjing ini pergi berkeliaran tanpa tahu tujuan, hanya untuk mencari tuannya yang hilang.

Sambil berjalan, anjing itu mengendus, dan ia tampak ketakutan. Aku bisa melihat hal itu dari gerak tubuhnya. Ekornya bergerak turun, ujungnya masuk ke arah perut belakangnya. Anjing ini begitu manis, penurut, dan mirip sekali dengan Endut, anjingku yang hilang dicuri orang beberapa tahun lalu. Bulunya coklat muda, dan ada warna hitam di moncongnya, parasnya menyerupai serigala. Semuanya mirip seperti anjingku dulu. Hanya saja dia anjing jantan, sedangkan Endut adalah anjing betina.

Aku jadi punya ide untuk membawanya pulang ke rumah orang tuaku, tempat dimana aku tinggal ketika itu. Mungkin aku bisa bilang kepada mereka, bahwa akhirnya aku menemukan Endut, anjing kami yang hilang. Jika aku bilang kepada mereka bahwa anjing itu adalah Endut mungkin saja mereka percaya dan mau menerima anjing jantan itu. Akhirnya, 2 hari kemudian aku membawanya pulang ke rumah. Aku bawa dia naik becak. Sulit juga, karena dia ketakutan dan hendak melompat keluar becak sepanjang jalan, jadi aku harus memeluknya erat-erat.

Sesampainya kami di rumah, aku bilang kepada orang tuaku bahwa aku menemukan Endut, anjing kami. Tapi mamaku marah-marah. Tidak mau menerima anjing malang itu di rumah kami. Suara mamaku keras sekali sampai banyak tetangga kami mendengar dan anak-anak kecil di kampungku datang dan berdiri di depan pagar rumah kami; menonton mamaku mencaci maki aku dari ruang tamu. Mamaku berteriak, berkata bahwa anjing itu najis, hanya akan mengotori rumah saja. Aku malu sekali, sedih tetapi juga marah. Mamaku sesungguhnya tidak perlu berteriak-teriak sekencang itu hanya untuk bilang “tidak”. Aku belum tuli. Aku masih bisa mendengar. Jika mamaku bilang “tidak” dalam volume normal, aku pasti mendengar. Tidak perlu membuat semua orang di luar rumah kami mendengar dengan nada yang tinggi. Aku merasa sangat dipermalukan. Dan mamaku tidak peduli aku malu atau tidak. Ini menyakitkan.
Aku janji kepada mamaku bahwa aku tidak akan memelihara anjing itu di dalam rumah. Aku akan biarkan dia terikat di luar rumah saja. Aku berjanji akan lebih sering membersihkan rumah. Tapi mamaku tidak mau tahu. Ayahku juga ikut memarahiku karena membawa anjing itu pulang. Aku diam saja. Memunggungi mereka sambil memeluk anjing itu di teras rumah.

Mereka lalu menyuruhku mengembalikan anjing itu ke jalan, membuangnya malam itu juga. Mereka tidak mau ada anjing lagi di rumah. Aku sedih sekali. Aku tidak ingin anjing itu pergi, apalagi jika aku harus membuangnya. Aku tidak punya hati untuk melakukan itu. Anjing itu tidak bersalah, dia berhak mendapat hidup yang lebih baik dan punya majikan. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana sedihnya hidup sebagai gelandangan, apalagi sebagai seekor anjing. Kelaparan, kedinginan, ketakutan, harus mencari makan dari tempat sampah dan kapan saja bisa mati dibunuh oleh manusia rakus yang suka makan daging anjing.

Aku sedih sekali, tetapi aku tidak tahu harus bagaimana. Sementara mamaku terus marah-marah dan berteriak, dan banyak orang di kampung kami mendengarnya. Aku ingin mamaku berhenti berteriak-teriak dan diam. Juga, aku ingin anjing ini tetap tinggal di rumah, tetapi mamaku tidak kunjung berhenti berteriak. Tidak akan diam, sebelum anjing ini pergi.

Akhirnya aku putuskan untuk pergi malam itu dari rumah, dengan anjing itu. Aku bawa dia berjalan keluar kampung. Aku tidak membawa apapun bersamaku, selain anjing itu, dan seuntai rantai yang melingkar di lehernya.

Aku berjalan tanpa punya tujuan. Terus berjalan. Terus berjalan, sampai ke jalan besar, sampai ke kampung tetangga di seberang jalan besar. Aku galau. Aku menahan tangis. Tapi aku tidak mungkin menangis di jalan. Situasi ini sudah cukup berat dan aneh, aku tidak mau membuat situasi menjadi lebih aneh dengan menangis. Orang-orang di jalanan pasti bertanya-tanya apa yang terjadi dan aku bisa menjadi sumber tontonan.

Lalu aku berjalan masuk ke satu kampung. Aku ingat, beberapa kali aku lewat kampung itu jauh sebelum hari itu, ada sekumpulan anjing yang biasa berkeliaran, dan sepertinya mereka punya majikan. Aku berhenti, aku berpikir, dan tak lama kemudian di jalan utama kampung itu akhirnya aku lepaskan rantai yang kulingkarkan pada lehernya. Aku harap dia akan menemukan anjing lain di kampung itu, atau menemukan orang yang cukup baik hati untuk memeliharanya. Entah. Siapa tahu.

Dia mengendus tanah beberapa detik setelah rantai di lehernya aku lepas, dan tak lama kemudian dia berjalan setengah berlari lebih jauh. Aku sedih sekali melihat dia pergi. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku membalikkan badanku.. aku pergi.

Aku tidak percaya bahwa aku sudah melakukannya. Aku melakukan satu hal yang sangat aku benci. Aku membuangnya.

**
Aku berjalan. Lebih jauh dari rumah, terus menjauh. Aku tidak membawa apapun. Uang seribupun tidak. Aku butuh jalan yang jauh untuk kulalui. Dan itupun tidak cukup jauh buatku untuk berjalan dan bisa memaafkan diri sendiri karena sudah membuang anjing itu. Aku sangat marah, sangat sedih. Aku tidak bisa kembali ke rumah orang tuaku malam itu. Mungkin jika aku punya pilihan, aku tidak akan kembali ke sana lagi, sampai kapanpun. Aku tidak mau. Aku tidak mau lagi tinggal dengan mereka. Mereka membuat aku malu di depan banyak tetangga, dan mereka membuatku melakukan satu hal yang kejam dengan membuang anjing itu di jalanan. Aku merasa, aku adalah anjing itu saat itu. Aku gelandangan, tidak punya rumah, ketakutan, marah, dan sedih. Aku adalah anjing itu.

Tengah malam, aku pulang ke rumah orang tuaku. Letih, masih dengan kemarahan dan sedih. Dan tengah malam itu semua buku di rak yang mengatakan bahwa anjing itu najis dan umat manusia tidak akan selamat jika tidak menyembah dia, serta tetek bengek ajaran cinta kasih, berhamburan ke lantai. Menjadi serpihan. Semua yang tertulis di buku-buku itu adalah onggokan omong kosong.

Sudah 4 tahun berlalu sejak malam itu, tetapi aku masih menangis jika teringat pada kisah anjing malang ini. Aku juga tidak tahu apakah aku sudah memaafkan diriku sendiri karena sudah membuangnya. Sulit.

Sejak malam aku membuangnya, dia tidak lagi pernah terlihat. Tetapi, bayang-bayang anjing jantan yang aku beri nama Broni itu masih tinggal di dalam kepalaku, seperti juga bayang-bayang Endut, anjing betinaku yang 7 tahun lalu menghilang pada suatu pagi dan tidak pernah kembali.

Jogjakarta, 12:52- 1 November 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s