Bertemu Mantan Pacar (dan perasaan-perasaan yang lucu).

dance butoh2

Saya sudah tahu kalau malam itu pasti saya akan bertemu dengan dia. Dia mantan pacar saya. Sudah hampir 2 tahun saya tidak berjumpa dengannya. Terakhir kami berkontak, itu 1 tahun yang lalu sepertinya. Ketika itu dia bertanya kabar melalui sms dan saya jawab dengan kalimat yang wajar dan sopan sebagaimana halnya kami adalah teman biasa untuk mengantisipasi terjadinya keberlanjutan hubungan yang tidak diinginkan paska putus hubungan (biasanya pasangan yang pernah bersama dan sedang dalam masa transisi untuk berstatus single akan punya kecenderungan untuk menjalin hubungan lagi dengan mantan pacarnya, dan hal ini cukup membuat bingung dan repot. Hal inilah yang saya hindari. Maka, celah sekecil apapun pasti saya tutup daripada ujung-ujungnya membuat sakit diri sendiri dan mantan pacar).

Tapi waktu itu saya rasa kami memang sudah menjadi teman biasa, kendati kadarnya sebiasa apa saya sendiri kurang bisa memastikan. Tidak ada skala dan ukuran yang bisa digunakan untuk memastikannya. Apalagi sejak kami tidak pernah bertemu, akan semakin sulit dipastikan.

Saya tahu, sebenarnya beberapa waktu lalu saya rindu dengannya. Paling tidak, rindu menatap wajahnya yang lucu dan imut-imut. Rindu bercakap dan bertukar kabar, kendati sebenarnya saya takut juga kalau terjadi percakapan mendalam sebab saya sampai saat ini merasa tidak nyaman jika ada seseorang menanyakan kabar saya juga menanyakan apa saja yang terjadi dalam hidup saya apalagi kalau orang yang menanyakan hal itu adalah mantan pacar saya. Saya ingin menyimpan semua cerita hidup saya rapat-rapat di dalam kotak atau saya tulis saja cerita-cerita itu di kertas dan saya lipat saja cerita-cerita tentang hidup saya itu lalu saya masukkan ke dalam kantong baju saya sendiri sampai menjadi buluk (dan biasanya saya sampai eneg sendiri atau melupakannya sama sekali).
Entah.. mungkin karena saya takut dikritik dan dikenai penilaian. Bagi saya persoalan tentang hidup saya dan juga pilihan-pilihan yang saya buat adalah otoritas penuh milik saya dan pihak lain tidak punya hak untuk mengganggu gugat, mengkritik apalagi menyalahkan, kecuali saya sendiri yang minta pendapat. Hidup-hidup saya sendiri kok.
Saya tidak tahu sejak kapan saya sedemikian tertutup, mungkin karena saya sudah keliwat sering dihakimi, dikontrol, atau bisa jadi karena memang saya saja yang terlahir sebagai manusia keras kepala dan anti kritik. Wah… untung saya bukan presiden. Sebab kalau saya menjadi presiden, kemungkinan besar saya akan menjadi seorang diktaktor. Tapi siapa juga yang mau jadi presiden?
Presiden?? Takut…

Jadi, benar.. malam itu saya bertemu dengannya secara tidak sengaja. Saya sendiri sudah bersiap-siap untuk menerima bahwa konsekuensi datang ke acara seni macam itu, pasti salah satunya adalah secara tidak sengaja bertemu dengan dia. Tidak apa-apa.. Justru mungkin perjumpaan itu yang saya cari. Hidup saya sudah cukup membosankan dan monoton akhir-akhir ini. Saya perlu kejutan yang menyenangkan untuk membalik keadaan itu. Jadi, perjumpaan dengannya bisa menjadi sebuah semi kejutan yang berwarna.

Saya tengah berjalan keluar lokasi pementasan waktu itu bersama seorang kawan ketika lambat laun sosoknya menyeruak. Seketika itu tubuhnya seperti jadi pusat seluruh jagad aktivitas manusia di tempat yang luasnya lumayan besar jika dijadikan lapangan sepak bola tingkat kecamatan itu. Dia masih terlihat seperti dulu, imut-imut kalau tidak mau dibilang ganteng. Tubuhnya masih tegap dan terlihat indah seperti dulu. Dia adalah salah satu laki-laki paling cantik dan indah yang pernah saya temui dan saya senang dia masih seperti itu.

Maka serta merta, daripada berjalan menjauh atau berbelok arah, atau berjalan mundur atau bahkan menyamping (hahaha.. emangnya undur-undur dan kepiting??), saya malah mempercepat langkah saya ke arahnya dan segera saya hampiri dia. Saya panggil namanya dan saya salami dia. Dia tampak terkejut tapi tidak ada jeda dan jarak yang cukup bagi dia untuk merasa terkejut karena saya sudah benar-benar ada di depannya; tersenyum manis dan antusias.
Kendati secara tampilan dia masih seperti yang dulu, saya bisa melihat jelas perubahan yang terjadi padanya. Hal yang paling dapat dilihat adalah dia sekarang merokok, dan saya lihat sepertinya dia sudah sangat akrab dengan batang imut bernikotin itu karena dia tampak sangat fasih menghisap dan menghembuskan asapnya.
Maka salah satu kabar tentangnya yang selama ini hanya saya dengar dari simpang siur cerita teman-teman telah terkonfirmasi: mantan pacar saya sekarang merokok (padahal saya sekarang sudah berhenti merokok).

Asap tembakau itu mengurangi sedikit “imutness” di wajahnya. Mungkin perasaan yang timbul ketika melihat mantan pacarku yang merokok juga dirasakan oleh mantan pacarku yang pertama ketika dia dulu melihat aku akhirnya memiliki tatoku untuk pertama kalinya. Dia bilang kalau aku tidak imut lagi karena aku bertato (persetanlah dengan definisi “imut” yang dia maksud, saya akan tetap bertato, walaupun orang pikir saya imut atau tidak. Menjadi imut toh tidak terlalu penting).

Rasanya seperti dihadapkan pada sebuah kenyataan visual yang paradoksal: mantan pacarku yang imut, tengah merokok. Dan sebatang rokok yang tampak tinggal setengah batang itu hanya sedikit hal yang menandai perubahannya. Dia kini tampak lebih keras seperti batu cadas. Garis-garis di raut mukanya lebih garang dari sebelumnya, ketika terakhir kami masih bersama. Terlihat jelas bahwa dia kini adalah seseorang yang tersakiti dan sedang berusaha melawan rasa sakit itu. Rasa sakit yang belum selesai. Tapi, bukan masalah bagi saya antara dia yang merokok dan wajahnya yang imut. Atau apapun dalam diri dia yang berbeda saat ini. Bagi saya, sesuatu yang ada dalam dirinya sekarang justru membuat dia semakin indah dan menarik. Dan dia akan selalu imut di mata saya.

Saya masih suka senyumnya, dan saya juga masih suka sesuatu yang ada di balik garis-garis wajahnya. Juga rasa sakit yang dia simpan di balik matanya yang membuatnya makin terlihat kuat dan lebih dari sekedar indah.

Anyway, saya ajak dia bicara. Saya bilang padanya bahwa saya mendengar kabar dari kawan-kawan bahwa dia akan pergi merantau ke Jakarta untuk bekerja di sebuah pabrik di sana. Dia jawab, “Enggak. Nggak jadi.”
“Syukurlah…” kata saya dalam hati. Saya merasa bersyukur bukan karena saya senang dia tidak jadi pergi, tapi karena saya merasa dia pasti akan lebih bahagia jika tetap di Jogja. Tetap menjadi sesuatu yang dia cita-citakan kecuali dia sudah memiliki cita-cita yang berbeda dari sebelumnya.

Lalu sebelum saya pergi, saya undang dia untuk datang ke acara makan malam yang akan saya adakan 2 hari setelah malam itu. Entah.. saya merasa bahwa makan malam itu akan lebih lengkap jika dia hadir. Mungkin karena saya pikir malam itu akan menjadi malam yang seru dan akan lebih seru jika dia bisa ada di dalamnya. Akan menjadi sebuah restart yang baik bagi kami sebagai kawan. Jauh dari itu.. mungkin lebih dari sekedar kawan, karena dia pernah menjadi bagian dari hidup saya. Dan saya tidak ingin dia hilang begitu saja.

Semua yang saya lihat dalam beberapa detik malam itu pada dirinya membuat saya ingat, mengapa saya pernah mencintainya.

Mungkin, saya akan tetap terus mencintainya. Dia adalah salah satu orang paling baik di dalam hidup saya.

Selamat malam mantan pacar, terima kasih sudah membuat malam saya berwarna.

Yogyakarta, 26 Oktober 2009

Iklan

3 thoughts on “Bertemu Mantan Pacar (dan perasaan-perasaan yang lucu).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s