Penelepon yang Aneh

Hari ini saya ditelepon oleh seseorang yang selalu saya hindari. Sebagai informasi, saya tidak menghindari dia karena dia punya penyakit kulit, tetapi karena dia suka memaksakan keinginannya sendiri. Kalau saya terima telepon dia, dia pasti dalam dua jam ke depan akan terus bicara di telepon tanpa putus bercerita tentang hal yang sama. Tentang masalah yang sebenarnya tidak perlu dibuat panjang. Berputar-putar arah pembicaraannya seperti gangsingan. Kalau saya mencoba meluruskan dan menuntun dia ke arah pemecahan yang gamblang, dia pasti akan membelokkannya lagi. Dia seperti berpikir bahwa persoalan dia adalah persoalan paling berat di antara semua persoalan umat manusia di dunia. Saya capek. Dia membuang energi saya. Jadi saya stop menerima teleponnya.

Tapi pagi ini ada penelepon tanpa ID. Wah, karena saya pikir bisa saja telepon itu penting berhubungan dengan pekerjaan saya, saya angkat. Wah…menyesal saya (walaupun saya benci penyesalan). Tidak seharusnya saya angkat karena saya jadi harus berurusan lagi dengan dia atas nama kesopanan. Dia tanya apakah saya sakit karena suara saya serak. Saya jawab saja iya, karena saya kecapekan.

Dia bilang,”Wah.. sulit sekali ya ketemu dengan mbak Bakti. Padahal sudah dari bulan apa ya itu.., saya telpon juga nggak diangkat. Aku pingin banget sharing sama mbak padahal.”

Saya jawab kalau saya sekarang bahkan sulit dapat waktu bertemu teman-teman baik saya karena pekerjaan saya ada dua. Kalau saya ada waktu luang pasti saya pakai untuk istirahat. Saya bilang bahwa saya sedang dalam program menabung demi cita-cita menyewa rumah untuk diri saya sendiri, karena itu saya pakai sebagian banyak waktu saya untuk bekerja.

Lalu dia menyahut, “wah..satu rumah buat mbak Bakti sendiri? Mau mandiri ceritanya ya?”

Saya jawab, “Ya.. harus dong. Kita harus mandiri.”

Dan ini kata-kata aneh dari dia yang selanjutnya meluncur, “Wah.. gitu ya? Mandiri. Kayak orang bule aja mandiri.”

Ya ampooon… emang yang mandiri itu cuma bule ya? Bukankah semua orang harus mandiri? Duh.. rasanya saya pingin melempar pot bunga beserta tanah-tanahnya dan juga semak-semak (kalau bisa saya lempar sapi yang biasa makan semak-semaknya sekalian aja deh).

Saya tidak mengerti bagaimana jalan pikiran dia. Kalau jalan pikiran bisa diluruskan dengan seterika, mungkin sudah saya temui dia dari dulu dan saya seterika saja itu isi otaknya dengan derajat yang paling tinggi biar nggak kusut lagi.

Ya.. mungkin dengan teknologi seterika uap panas bagi otaknya, saya bisa membantunya menyelesaikan masalahnya sendiri.

Hmm… sudah ya kawan-kawan.. saya mau pergi ke rumah si penelepon tadi, berbekal seterika. Saya mau seterika otaknya! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s