Cerita tentang lelaki di kereta yang banyak omong (:bukan keretanya yang banyak omong, tetapi lelakinya)

Saya ingin bercerita tentang pengalaman  yang berkaitan dengan hubungan sosial saya. Saya beberapa kali melakukan perjalanan sehubungan dengan pekerjaan waktu itu, dan keharusan berpindah kota dalam hal ini membuat saya menjadi salah satu pelanggan PT. Kereta Api Indonesia yang setia. Ya, saya selalu naik kereta api (tidak usah ditambahin: ”tut..tut…tut.. siapa hendak turut”) untuk bepergian ke luar kota, dan saya punya banyak pengalaman tersendiri tentang perjalanan saya. Hal yang ingin saya ceritakan dalam tulisan ini adalah pengalaman saya bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dari perjalanan saya selama kereta yang saya tumpangi bergerak menuju kota tujuan. Cerita yang akan saya ceritakan ini adalah salah satu cerita tentang hal tersebut yang paling berkesan dan paling saya ingat.

about to go!Jadi begini ceritanya. Kira-kira 3 bulan yang lalu saya bertemu dengan orang ini. Laki-laki berumur tiga puluhan. Berbadan lumayan besar, alias gempal. Sebab musabab saya berkenal dengan dia berawal dari inisiatif saya untuk membantu perempuan di samping saya menurunkan barang-barang bawaannya keluar dari kereta. Seingat saya, perempuan itu turun di Cirebon.

Waktu yang ditetapkan untuk kereta berhenti di tiap stasiun yang dilewati biasanya sangat singkat sebelum kereta kembali bergerak menuju kota berikutnya. Begitu banyak barang yang dia bawa dalam perjalanan itu sementara dia seorang diri saja kawan-kawan. Maka itu saya pikir saya harus membantunya menurunkan barang-barang bawaannya sebelum kereta kembali bergerak. Nah… waktu saya kembali ke tempat duduk saya semula, betapa kagetnya saya karena tempat duduk yang saya duduki sudah dijajah oleh orang lain. Tapi tampaknya si penjajah ternyata lebih kaget lagi daripada saya. Saya lihat dia merasa tidak enak karena sudah menyerobot tempat duduk saya. Dia pikir saya turun di stasiun Cirebon bersama ibu-ibu yang duduk di samping saya. Dan dia pikir dua tempat duduk itu sudah benar-benar tidak berpenghuni lagi dan tidak akan ada yang protes kalau dia pindah duduk ke tempat yang terang-terang lebih luang itu. Jadi dia kaget karena saya kaget dan karena dia melihat saya kaget dia menjadi lebih-lebih kaget lagi. Tetapi saya mencoba menahan diri untuk tidak menjadi lebih kaget lagi karena dia menjadi lebih kaget daripada saya. Aduh..kok jadi banyak membahas tentang kaget-kaget dan kok jadi banyak kata-kata kagetnya sih?? Ah..goblok banget saya.. kenapa mesti membahas tentang kaget dan menjadi lebih kaget karena ada yang kaget? Dan sebenarnya tidak tahu kenapa, saya sedikit kaget sewaktu tulisan saya sampai di paragraf ini karena saya jadi kebanyakan menulis kata “kaget“. Semoga kawan-kawan tidak ikutan kaget. Halah!!

Ya, kembali ke kondisi cerita saya semula. Jadi, duduklah saya tetap di tempat duduk itu dengan si penjajah tak dikenal tersebut bertengger di sana. Bertengger?? Seperti burung saja dia kedengarannya ya… ha ha ha.. tetapi, walau bagaimanapun, orang ini kan memang punya burung..

Hayooo… jangan mikir yang tidak-tidak lho..orang ini memang punya burung kok.. belakangan dia cerita sama saya kalau dia punya banyak burung piaraan di rumahnya.

Jadi saya cuek saja duduk di tempat duduk semula. Kan itu memang tempat duduk saya. Saya kasih senyum aja itu orang sebelum saya duduk lagi dan tidak sampai 1 menit berlalu, dia memulai percakapan dengan saya (pastinya supaya tidak terlihat terlalu ndlogok alias kemaruk dan tidak tahu diri karena sudah menduduki wilayah yang merupakan hak orang lain tanpa permisi). Dia pertama-tama tanya sesuatu yang saya lupa apa, kemudian dia bilang kalau dia tidak menyangka bahwa saya ternyata tidak turun dari kereta bersama ibu-ibu tadi. Dan minta maaf karena sudah duduk di situ. Saya bilang tidak apa-apa.

Dia lalu cerita bahwa dia baru saja lolos dari kecelakaan seminggu yang lalu. Nyaris modar dia, karena kalau tidak menghindar waktu dia nggeletak di jalanan, mungkin kepalanya sudah digasruk sama roda truk.. uk! Wah, sangar.

“Wah… mas ini beruntung ya, masih bisa menghindar. Celetuk saya.” Dia mengiyakan, lalu dia mulai bicara ke sana ke sini tentang dirinya, cerita tentang bisnisnya di masa lalu yang sukses besar dan kemudian karena kekurangajaran satu orang dia kehilangan semuanya. Tuh partner bisnis yang dia percaya ternyata korupsi. Ah, bukan cerita baru sih kalau topiknya korupsi.

Tapi karena bisnis dia yang sukses tersebut, dia menjadi kenal dengan banyak orang-orang penting dan bla bla bla… semua orang hormat dengan dia dan bla bla bla..saya sampai tidak punya kesempatan untuk bicara tentang diri saya. Tapi dia juga tidak tanya sih, jadi saya juga enggak berniat cerita tentang diri saya. Lagipula buat apa? Cerita tentang diri sendiri kepada orang asing. Nggak penting. Hehehehe..rima yang bagus! Orang asing…nggak penting..ing!

Saya terus mendengarkan dia dan dia terus bicara. Dia bercerita bahwa sekarang bisnis baru dia sudah mulai menanjak. Dia tuh bisnis opak. Dia buat sendiri, packaging opaknya sendiri dan dia distribusikan sendiri. Kemana-mana dia keliling naik motornya untuk mendistribusikan barang tersebut (eit… jangan ditambahin kata “haram” di antara kata “barang” dan “tersebut”, entar jadi “barang haram tersebut” karena tidaklah mungkin opak menjadi barang haram… Seperti facebook yang konon pernah dituding sebagai haram. Hahahaha…walah ngelantur lagi deh saya).

DSC02917

Lanjut…!!

Dia bilang dia tidak mau lagi bekerjasama dengan orang lain karena dia sudah tidak percaya lagi sama yang namanya partner bisnis. Saya nyeletuk, “Wah…bener itu mas…susah memang cari partner bisnis.” , dan dia teruskan lagi bicaranya, seolah-olah dia tidak mendengarkan celetukan saya sebelumnya. Sebenarnya kepala saya sudah pusing dan saya sudah mulai sangat mengantuk. Dia terlalu banyak bercerita dan tidak peduli apakah orang lain mau tanggapi atau tidak. Biasanya kalau sudah begini, saya senyum-senyum saja sambil sekali dua kali nyeletuk sekenanya. Tapi biarpun saya bilang saya nyeletuk, saya enggak nyangka kalau celetukan saya selalu pas, jadi tuh orang makin seru ceritanya. Wah.. capek saya dengernya. Kapan ya nih orang selesai ngoceh? Sepanjang jalan dia cerita melulu!

Dia tuh sadar dirinya enggak ganteng, jadi dia cerita kalau istrinya di rumah tuh cantik banget, kulitnya putih, bla bla bla, biasalah seperti lelaki Indonesia pada umumnya kalau bercerita tentang wanita cantik, dan pakai ditambah-tambahin kalau istrinya tuh naik mobil segala. Istrinya kayalah…. baik hatilah….jadilah dia heran kenapa istrinya mau sama dia, karena istrinya cantik, pinter, kaya. Wah saya pikir beruntung bener mahluk jelek satu ini. Udah badannya gede, mukanya banyak bekas jerawat, item, mulutnya nggak bisa diem, pernah sial karena bisnisnya kolaps dan barusan ditabrak orang, nyaris modar disamber truk, motornya ringsek dan ditahan polisi, tapi di rumah dia di Bandung istrinya cantik dan kaya dan baik hati. Wah… ya sukur deh..saya pikir, dunia ini memang adil. Orang yang sial tuh nggak sial-sial banget ternyata.

Terus dia cerita lagi, lanjut tentang istrinya yang cantik. “Tapi saya sudah menikah dengan dia 9 tahun, belum juga dikaruniai anak. Istri saya sudah bilang kalau dia membolehkan saya untuk punya istri lagi supaya saya bisa punya anak. Tapi saya sih tidak tega sama dia. Kasihan, masak dia saya duain.”

“Ya sabar mas, entar juga kalau Tuhan mengijinkan pasti dikasih.” Kata saya. Padahal di kepala saya tuh kalimat itu ada terusannya : “ya mungkin mas belum dikasih anak supaya rejekinya dibagi ke orang miskin yang banyak kenal dengan mas. Lha katanya mas banyak uangnya. Atau malah sebenarnya kalau dikasih anak sekarang, kasihan anak mas dong (hayo..anak mas atau anak mami ? Pilih snack mana yang paling kamu suka!).. soalnya mas bisnis barunya kan masih merangkak. Ntar kalau uangnya kurang gimana? Emangnya biayain anak manusia tuh murah ya? Kan butuh susu, baju, biaya kesehatan, entar juga biaya sekolah, dan lain-lain. Apa dikau nggak takut tuh anak dikau ntar nyesel dilahirin di dunia mas?”. Gitu deh pikir saya.

Terus dia melanjutkan kalimatnya, “Ya saya pikir kayaknya saya belum dikasih momongan juga karena saya mungkin disuruh bagi rejeki juga ke anak orang lain yang kurang beruntung.”

Nah tuh…pinter juga lo mas. Hehehehe…..

“Ya saya sih ada kenalan di Garut, perempuan, udah punya anak, janda, cerai sama suaminya. Karena dia dulu dibohongi sama suaminya. Suaminya tuh punya AIDS. Tapi untungnya dia enggak ketularan. Dia punya anak satu, sekarang sering ketemu dengan saya, saya biayain semua kebutuhannya. Susunya, bajunya, udah mau masuk TK juga, saya kasih biaya sekolahnya. Anaknya manis, kata orang malah mukanya mirip saya daripada bapaknya, panggil saya juga “Ayah”. Janda ini nggak secantik istri saya di rumah sih, tapi orangnya baik hati. Mau bantu-bantu saya distribusi opak. Kemana-mana naik motor berdua.”

Wah..buset!! Saya heran sukamaju. Wakakaka… heran sukamaju…Maaf, “heran” saya sambung sama “sukamaju”. Sebenarnya dua kata itu memang tidak nyambung, tapi “sukamaju” itu tiba-tiba saja ada di kepala saya, jadinya saya sambung saja dengan “heran” karena saya amat sangat heran melebihi heran itu sendiri, jadinya dia sukamaju deh.

Heran, terang saja saya heran sukamaju. Soalnya nggak mungkin ada orang yang hidup bertahun-tahun sama penderita HIV, malah udah jadi AIDS, berhubungan seks (saya nggak yakin mereka pakai kondom tiap kali berhubungan seks), tapi nggak ketularan HIV. Wanita itu mungkin cuma bisa selamat tak tertular HIV dengan kekuatan bulan atau kekuatan setan. Eh, enggak, maksud saya, hal ini hanya bisa terjadi karena keajaiban dan keberuntungan super dahsyat. Atau, itu perempuan sebenarnya sudah terjangkit HIV, hanya saja belum ada reaksi yang benar-benar tampak karena paling tidak perlu waktu lima tahun bagi virus HIV untuk berinkubasi, dan pengetahuan dia tentang HIV AIDS hanya sedikit, jadi dia menyimpulkan bahwa dia tidak terjangkit HIV karena dia tidak merasakan sakit di tubuhnya. Atau perempuan itu bohong sama laki-laki yang sedang bicara di samping saya tersebut soal status kesehatan dia, supaya laki-laki ini tetap mau menyantuni dia dan anaknya. Mungkin dia pikir cerita tentang mantan suaminya yang menipu dia plus cerita HIV benar-benar adalah cerita yang hebat dan membuat orang lain trenyuh, apalagi bagi lelaki tak beranak ini.

Jadi kalau mau dirunut, beginilah kemungkinan yang bisa terjadi:

  1. janda itu bohong tentang cerita mantan suaminya yang terjangkit HIV karena mantan suaminya tidak setia dan sering jajan, supaya ada cerita hebat yang membuat laki-laki ini bersimpati padanya.
  2. adalah benar bahwa mantan suaminya terjangkit HIV karena tertular dari PSK yang sering digaulinya, tapi janda ini tidak tertular HIV karena selama bertahun-tahun mereka berhubungan seks dengan kondom (yang saya pikir hal ini tidak mungkin terjadi karena jumlah orang yang benar-benar sadar akan manfaat kondom masih sedikit).
  3. adalah benar bahwa mantan suaminya terjangkit  HIV, lalu mereka bercerai tapi dia tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa dia sudah terjangkit HIV karena tidak merasakan sakit apapun.
  4. adalah benar bahwa mantan suaminya terjangkit HIV, mereka bercerai dan janda ini sudah menjalani tes HIV dan positif terjangkit juga, tetapi dia tidak menerima kenyataan dan berbohong pada lelaki di samping saya bahwa dia tidak punya HIV supaya lelaki ini mau menyantuninya dan anaknya karena takut kalau-kalau ia jujur tentang status kesehatannya, lelaki ini tidak akan mau membiayai hidupnya dan anaknya.
  5. tidak ada satupun kemungkinan yang benar di atas. Karena lelaki di samping saya ini mengarang semua cerita tentang keberadaan perempuan itu, juga cerita tentang dia yang menyantuni anak dan mantan istri orang. Dia mengarang cerita ini supaya dia terdengar hebat di telinga saya.

Nah… silahkan anda pilih salah satu dari beberapa pilihan di atas, dan jawaban dikirim selambat-lambatnya 10 hari dari cerita ini anda baca. 3 pemilih pertama yang menjawab dengan benar: kalau laki-laki akan saya jadikan pacar saya, kalau perempuan, akan saya jadikan saudara saya. Ha ha ha…. kayak model sayembara jaman dulu aja… kalau laki-laki dijadikan suami, kalau perempuan dijadikan saudara. Kalau tidak mau saya jadikan pacar atau saudara saya, maka akan saya jadikan pembantu saya. Haa… siapa yang mau ya?

DSC02964

Oke, saya teruskan ya cerita tentang dia. Jadi dia meneruskan ceritanya, dan saya sudah mulai mencium bau-bau ketidakberesan dalam ceritanya. Dan saya benar. Tanpa saya korek-korek, atau tanpa saya sogok dengan uang receh, dia cerita kalau dia sebenarnya menikahi perempuan yang janda beranak satu ini secara siri. Nah loh!! Ketahuan kan..pasti dia sekarang mau pamer sama saya kalau jelek-jelek begitu dia punya istri dua. Dan benar kan… saya tadinya pikir ini laki-laki pasti tidak beres, seperti laki-laki maruk pada umumnya: kalau bisa beristri lebih dari satu, tuh perempuan manapun yang mau pasti diperistri aja. Dia bilang, “ya orang bilang macem-macem yang negatif tentang beristri lebih dari satu ya saya sih enggak peduli. Kan menyantuni orang lain yang memerlukan di dalam ajaran agama adalah sebuah ibadah juga. Itung-itung kita membantu orang lain, apalagi kalau orang itu baik hati (maksudnya, istri mudanya itu baik hati, jadi patut diperistri dan disantuni), dan saya juga menghindari zinah.” Lanjutnya.

Waduh… apa lagi ini? Zinah… Saya tiba-tiba jadi ingat salah satu lirik lagunya Slank:

“Zinah pergi… tinggalkan rumahnya…”

“Zinah pergi….tinggalkan rumahnyaaa…iya iyaaaa…aaaaw…..”

Hahahaha…bukan ya? Itu Gina ding… bukan Zinah..

Saya pikir, persetan dengan istilah zinah, karena kadang itu adalah alasan yang dibawa-bawa laki-laki atau siapapun untuk menjadi pembenaran demi menikahi siapapun: menghindari zinah. Ya kalau tidak ingin terjebak dalam zinah, jangan berhubungan seks dong. Lebih baik onani atau masturbasi atau matikan hasrat itu dengan melakukan kegiatan lain yang berguna, misalnya olah raga badminton atau ping pong sampai capek atau bekerja lebih keras supaya penghasilan bertambah. Kan lebih baik malah, jadi kita menjadi makin kaya atau makin sehat karena menghindari zinah, karena asal dari badan yang sehat dan penghasilan yang besar berawal dari giat olah raga dan bekerja keras untuk mematikan hasrat berzinah. Alangkah kerennya tuh kalau negara kita Indonesia ini masyarakatnya sehat dan makmur juga karena dari menghindari zinah. Jadi terciptalah satu frasa : “Negara yang kuat dan makmur berasal dari menghindari zinah”. Frasa tersebut nanti bisa disejajarkan dengan frasa “Hemat Pangkal Kaya”.

Jadi begitu kawan-kawan, saya pikir pada  dasarnya dia enggak bisa ngendalikan nafsu syahwatnya saja, maka “menghindari zinah” dijadikan sebagai alasan menikah lagi. Siri pula. Kalau niat membantu sesama ya bantu saja, tidak usah pakai seks lalu nikah siri segala macam. Dasar otak penis!! Gitu umpat saya dalam hati. Lagipula kekuatan hukum dari menikah siri itu apa sih? Nggak jelas. Pernikahan siri itu tidak punya kekuatan hukum, tapi kekuatan lambe..alias..kekuatan omong kosong dan bacot doang. Masih mending kalau punya kekuatan Gaban dan Saripan.. Halah!

Lanjut cerita… ! Dia cerita bahwa kecelakaan yang dia alami satu minggu lalu itu bukan salah dia. Semua terjadi begitu saja. Alkisah ada seekor ibu-ibu berboncengan motor dengan sebongkah pemuda. Mereka menyeberang jalan tanpa tengok kiri kanan, dan tanpa memberi sign. Gedubraklah semua… dan lelaki di samping saya inilah (ah, jujur sajalah, nama lelaki ini Dicky. Saya capek menyebutnya sebagai anonim di tulisan ini) yang disalahkan atas kejadian itu karena dia kelihatan yang lebih kaya dan banyak duitnya. Padahal kalau mau didudukkan persoalannya dengan benar, mas Dicky ini bilang bahwa dia pasti menang karena perempuan yang bertabrakan dengan dia tidak bawa SIM dan STNK. Dan lucunya, katanya, lelaki muda yang memboncengkan ibu-ibu yang ditabraknya itu kabur begitu saja meninggalkan perempuan itu geletakan di jalanan sebelum orang-orang datang ke TKP. Kata mas Dicky, laki-laki itu pacar gelap ibu itu. Jadi supaya orang-orang tidak memergoki mereka tengah berduaan, lelaki itu disuruh kabur sama ibu itu. Wah, dari mana dia tahu kalau laki-laki itu adalah pacar gelap ibu itu?

Lalu menurut ceritanya, ramailah orang-orang datang ke TKP. Mas Dicky cerita sama saya bahwa kondisi dia saat itu berdarah-darah. Tulang sendi sikut dia keluar dari jalurnya alias mlengse (itu bahasa Jawanya). Dengan kondisi itu, tiba-tiba sebelum orang-orang berdatangan, ada truk melaju cepat dari arah berlawanan, dan kalau dia tidak dengan cepat berguling menghindar, dia sudah mampus ketabrak truk. Wah, dramatis.

Jadi orang-orang setelah itu berdatangan, menolong, mengangkat dia dan perempuan yang tabrakan dengan dia itu dari tengah jalan. Dan sialnya, dia bilang, sewaktu orang-orang memapah dia keluar jalan ada salah seorang dari mereka yang bertangan jahil dan trampil, menggratak masuk ke kantong celananya dan menilep dompetnya. Walah… what a fucking story!! Seru man!

side by side but never been together

Nah, singkat cerita, dia waktu ketemu saya tuh dalam perjalanan mau pulang ke Bandung, ke istri tuanya dengan kondisi tidak membawa apapun selain pakaian di badannya dan sepatu pinjaman dari temannya yang merawat dia selama luka-luka di Garut (ah.. masih belum jujur juga dia kalau “teman” itu sebenarnya istri mudanya. Padahal dia udah cerita nikah siri sama orang Garut segala). Dia beli tiket juga dari uang temannya yang baik hati. Dia ceritanya pulang ke Bandung selain buat ketemu istri tua juga mau minta tolong untuk ngurus surat-surat via orang terkenal di bagian kepolisian supaya motornya bisa segera keluar dari salah satu polsek (atau Polres ya?) di Garut. Sementara itu, dia bilang istri tuanya tidak tahu sama sekali kalau dia sudah kecelakaan di Garut. Dia merahasiakan hal ini supaya istri tuanya tidak khawatir. Tapi saya pikir, pasti ada alasan lain: dia tidak mau cerita karena kalau dia cerita dan istrinya yang kaya itu membantunya mengurus motornya untuk keluar dari kantor polisi Garut, maka hubungan gelap dengan istri mudanya akan terbongkar (karena dari ceritanya, sudah jelas dia tidak pernah jujur bahwa dia berkeluarga dengan perempuan lain). Benar-benar.. kehidupan yang rumit.

Dan lain-lain, dan lain-lain, akhirnya dia minta nomor telepon saya. Gobloknya, kok ya saya kasih???

Seminggu berlalu. Kadang dia sms saya, bertanya apa kabar saya dan sedang dimana. Saya jawab saja seperti biasa: baik-baik saja dan saya di Jogja, terimakasih sudah tanya kabar saya.

Dan satu minggu setelahnya, saya dibuat sewot oleh dering telepon dan sms-smsnya. Dia minta tolong dipinjami uang 1 juta. Alasannya, perempuan yang waktu itu dia tabrak memerasnya, dan kalau tidak membayar beberapa juta seperti yang diminta, dia bilang dia terancam disidang dan dijebloskan ke penjara. Bloss… gitu deh. Dia bilang dia sudah coba pinjam uang ke sana kemari tapi nggak ada yang mau meminjami. Katanya dia sudah kumpulkan beberapa juta dari uangnya sendiri dan kurang 1juta lagi untuk menjadi genap. Dia bilang dia janji bahwa kalau saya pinjami uang, dia akan kembalikan 1 minggu lagi. Dia sms terus-terusan, juga mencoba telpon saya terus menerus. Saya cuekin aja tuh telepon krang kring krang kring.

Saya sebel. Katanya dia kenal orang-orang penting! Katanya punya istri kaya! Katanya kalau kasus tabrakan maut itu mau diajukan ke pengadilan pasti dia yang menang karena tuh perempuan yang ditabrak tidak punya SIM dan STNK.

Kenapa tidak minta tolong istrinya? Kenapa tidak jual mobil istrinya saja?

Kenapa minta uang sama saya? Emangnya saya orang kaya ya? Memangnya dia tidak kasihan sama saya ya? Udah kecil kayak tikus, kurang makan, single lagi.. tidak punya istri dua seperti dia (lho? he he he). Ya ogah dong saya pinjami dia uang. Memangnya saya ini ATM ya? Lagi pula apa jaminannya kalau dia pasti akan kembalikan uang saya? Dia tinggal dimana juga saya tidak tahu. Lalu memangnya semudah itukah seseorang dimasukkan ke dalam penjara? Hmm… dia pikir saya goblok pasti kalau percaya sama dia.

Tapi saya jadi berpikir keras setelah itu. Wah.. kenapa dia begitu sama saya? Mungkin karena dia pikir saya mudah dibohongi. Apakah saya terlihat begitu lugu? Apakah saya tampak bodoh atau saya memang benar-benar bodoh? Atau saya tampak penuh belas kasih dan pengiba sehingga dia minta tolong saya?

Wah.. tidak tahu. Nah.. kawan-kawan sekalian, bisakah kawan-kawan membantu saya memecahkan misteri ini? Apa pendapat kawan-kawan tentang penampakan saya (penampakan….bukan hantu lho), alias penampilan wajah saya. Tulis opini kamu tentang saya di box comment di mana tulisan ini saya tampilkan. Atau bisa dikirimkan melalui alamat email saya: baktidotcom@yahoo.com. Tapi jangan kirim sms ke nomor hand phone saya. Saya tidak terlalu suka hand phone.. eh..bodo amat ya.. emangnya anda juga peduli kalau saya tidak suka hand phone?? Saya yakin tidak.

moving train and me

Oke kawan-kawan.. selamat berkarya semua… dan hindari perzinahan dengan menggalakkan pingpong!!

Yogyakarta, 14 Juni 2009

Iklan

4 thoughts on “Cerita tentang lelaki di kereta yang banyak omong (:bukan keretanya yang banyak omong, tetapi lelakinya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s