Namaku.

Siang itu aku pergi ke sebuah rental film. Rental ini terletak di salah satu titik teramai di kota Jogja, dekat dengan pom Bensin Sagan dan Galeria Mal. Salah satu alasanku menjadi member rental film ini adalah : koleksi filmnya beragam dan pelayanannya memuaskan. Pengelola rental ini tahu benar apa saja film-film yang secara umum bagus dan mereka bersikap ramah. Aku sudah lama menjadi anggota peminjam di rental ini. Hingga sebagian besar dari para pengelolanya tahu siapa namaku dan jenis film macam apa yang aku gemari. Tidak terlalu lama buatku untuk menentukan film apa yang akan aku tonton selanjutnya karena mereka akan serta merta memberi saran mengenai judul-judul film yang sesuai dengan seleraku. Dan salah satu yang membuat aku merasa nyaman untuk mengunjungi tempat ini adalah: rental ini tidak banyak dijubeli orang sebagaimana rental-rental film lainnya di Jogja, yang kalau mau minjam film saja sampai ngantri-ngantri.

Siang itu aku berpenampilan tidak seperti biasanya. Aku mengenakan rok panjang di bawah lutut motif kotak-kotak kecil merah putih, dan sebuah blus putih dengan aksen ruffle renda yang cantik di bagian dada. Aku kenakan sandal dengan hak 5 senti berwarna salem—sandal baru, kawan hehe.. Sandal hasil temuan waktu jalan-jalan selama liburan. Juga dengan kacamata baru yang nangkring di tulang hidung. Ini juga hasil buruan selama liburan lho (tentang kacamata baru ini, ada ceritanya sendiri, mungkin bisa di lihat juga di blog ini jika berminat). Sebenarnya hari itu aku tidak hanya berniat mengunjungi tempat itu, aku berencana juga mampir ke tempat lainnya untuk menemui klien tarot setelah aku mendapatkan beberapa pinjaman film yang kira-kira oke dan cukup membuat penasaran untuk ditonton.

Anyway, sebenernya tidak penting aku pakai baju apa hari itu dan bagaimana menakjubkannya kacamata baruku siang itu, juga tempat apa saja yang akan aku kunjungi setelah dari rental itu (paragraf itu ada karena aku setidaknya hanya ingin menceritakan bagaimana keren dan menariknya aku saat itu (Tau tidak? Sampai-sampai para lelaki di lintasan langkahku menolehkan wajahnya dan mata nganggur mereka mengikuti gerak-gerikku. Hehehe) Dan aku bercerita bahwa aku tidak hanya akan mampir di rental itu, agar aku bisa menciptakan kesan bahwa seolah-olah aku ini cukup sibuk. Hahahaha…). Dua kombinasi dari seorang perempuan: Menarik, dan Sibuk. “So wow!!”, gitu loh!! Hahahaha!—Hehehe… bodoh ya? Kayaknya memang bodoh. Maafkan.

Lupakan apa yang aku sampaikan barusan di atas. Jadi, siang itu aku melangkah masuk seperti biasa ke dalam ruangan rental. Berbagai gambar dari beragam judul film berjajar rapi di memenuhi dua sisi tembok rental, di tengah diletakkan sebuah rak besar berisi chasing-chasing berbagai judul film yang diatur berdasarkan genrenya. Suasana rental tampak seperti biasa. Tidak ramai, tetapi juga tidak sepi. Selain petugas rental, hanya ada seorang pelanggan lainnya selain aku di situ: seorang laki-laki kurus berkacamata. Tampak sedikit kucel dan keringatnya belum kering benar; membuat kaos oblongnya sedikit lekat dengan kulit coklat matangnya. Tidak… aku tidak naksir dengan dia. Jangan kira aku merasa begitu kepada lelaki tak dikenal itu karena aku begitu detil memperhatikan penampilannya. Ini hanya karena dia berdiri tepat di sampingku, di depan rak film-film New Release, rak yang biasanya aku ubek-ubek. Terlebih cara dia berdiri agak menghalangi pandanganku dengan meja kasir, dimana penjaga rental biasa bercokol dan parahnya mana rambut cowok kucel ini awut-awutan lagi. Dan terlebih lagi, si petugas rental tidak begitu memberi perhatian padaku dan lebih mendulukan pelayanan pada si lelaki rambut awut (weh, keren juga ya, dia punya julukan: Lelaki Rambut Awut. Keren! Bisa tidak ya, nama dan sosoknya diusulkan untuk jadi semacam ikon pahlawan baru dalam ceritera komik atau ceritera bersambung? Di samping Gundala Putra Petir, Gatot Kaca. Kapten Kolor, atau Si Buta Gua Hantu. Mungkin dia bisa jadi tokoh pahlawan yang suatu ketika akan berhadapan dengan Iblis Perempuan Berbibir Empal… Gimana? Boleh juga kan?).

Biasanya, seramai apapun rental ini, petugas rental tetap bisa memberi perhatian yang adil kepada semua pelanggan. Biasanya petugas rental tidak hanya memberi perhatian penuh kepada satu pelanggan saja dan lainnya dinanti-nantikan untuk dilayani. Paling tidak, mereka memberi senyum dan isyarat muka yang jika diartikan mungkin begini : “Selamat datang, silahkan pilih-pilih film dulu, nanti akan segera saya layani.” Tapi kali ini tidak ada senyum. Si mas petugas memandang ke arahku dan dengan muka datar dia kembali mengalihkan pandangan ke Lelaki Rambut Awut. Aku merasa cukup dicuekin. Ya sudahlah, aku tunggu saja Lelaki Rambut Awut di depanku ini selesai dengan pilihan filmnya dan pencatatan pinjamannya.

Tak lama kemudian, petugas rental tampak siap melayaniku. Sebagai informasi, aku tidak pernah melihat penjaga rental yang ini sebelumnya. Tampaknya dia pegawai baru. Dia juga berkacamata, badannya agak tambun, pipi tembem, kulit kuning agak terbakar matahari, berjaket warna coklat tentara dan berambut lurus agak basah akibat olesan gel. Mungkin dia masih berstatus mahasiswa, seperti beberapa petugas rental lainnya di sini. Dia tanya aku mau pinjam film apa. Aku menyebutkan beberapa judul film dan dia mengambilkan pesanan filmku di rak penyimpanan. Aku bayar harga sewanya dan dia mulai mendata pinjamanku.

“Namanya siapa?” tanyanya.

“Bakti.” Jawabku singkat.

“Ha?” matanya yang tadinya menatap ke layar komputer beralih ke arahku. Kepalanya agak dimajukan ke depan, seperti kepala ayam kalau sedang berjalan. Dan kedua pasang mata itu seolah ikutan bertanya. Sepertinya celetukan “Ha” dari bibirnya itu kurang menjelaskan bahwa dia tidak percaya dengan yang dia dengar.

“Bakti.” Aku ulangi lagi menyebut namaku, kalau-kalau saja dia tidak jelas menangkap namaku.

“Kamu Bakti?” Eh..lha, dia tanya lagi.

“Lha iya, saya Bakti. Kenapa? Pernah dengar nama saya di infotainment? Pernah membaca jurnal-jurnal ilmiah terkenal dan fenomenal karya saya? Pernah dapet foto saya waktu saya dikejar paparazi pas saya lagi liburan sama Ashton Kutcher di Ethiopia?”, kataku dalam hati (hehehe, boro-boro… Mana mungkin juga ya semua itu terjadi).

“Iya. Saya Bakti.” Jawab saya lugu.

“Nama kamu Bakti?” Matanya kali ini agak terbelalak. Masih berani bertanya sekali lagi.

Menyerah! Kali ini saya cuma mengangguk dengan kedua alis yang saya angkat: supaya bisa mengimbangi belalakan matanya, gitu.

Lho, kok jadi “saya-saya” ya nulisnya? Habisnya saya sebel sih… Eh, aku sebel maksudnya.

Akhirnya dia melakukan sesuatu dengan komputer di depan mukanya. Dia ketik sesuatu dan daftar nama pelanggan muncul dari monitor.

“Bakti Tataryo…. Bakti…”

“Bakti Widiarti.” Timpal saya cepat-cepat. Bakti Widiarti adalah nama yang tertera di bawah nama Bakti Tataryo. Iya, itu nama saya. Yang Bakti Widiarti lho… Bukan Bakti Tataryo. Bakti Tataryo pastilah berkelamin laki-laki, jadi tentu nama itu tidak cocok dilekatkan padaku. Ya jelas, kan bukan namaku juga! Bakti Widiarti. Ada akhiran “Ti” di belakang, jadi setidaknya memang Bakti Widiarti itu nama khusus untuk perempuan.

Honestly, aku sendiri penasaran dengan orang yang punya nama Bakti satunya itu, Bakti sebelum saya. Si Bakti Tataryo. Orangnya seperti apa ya? Kami tidak pernah bertemu muka, walaupun kami sudah lama menjadi pelanggan di rental film yang sama. Kayaknya orangnya serius sekali ya kalau dirasa dari namanya. Tapi namaku juga Bakti. Masak aku kedengaran seperti orang yang serius? Tidak terlalulah. Ya, mungkin si Bakti Tataryo itu orangnya serius, tapi pinpinbo juga kayak aku ya? Eh… belum tentu sih ya. Maaf lho… bagi siapapun yang bernama Bakti Tataryo.. Maaf lho mas… Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa mas itu orang-orang yang pinpinbo. Tetapi kalau bisa, siapapun dirimu Mas Bakti Tataryo, keluarlah dari persembunyianmu, dan bertanggungjawablah atas rasa penasaran saya ini.

Kembali ke Bakti yang nama saya. Lupakan Bakti Tataryo. Intinya, saya jengkel saja dengan reaksi si petugas rental yang baru ini. Memangnya yang namanya Bakti itu tidak mungkin berkelamin perempuan apa!? Itu kan sama saja dengan nama yang bersifat androgini lainnya seperti: Andri, Ade, Lilik, Yoan, Kiki, Dian. Saya bahkan kenal seorang teman perempuan yang bernama Agung. Tapi, ini bukan yang pertama kali orang mengira bahwa nama saya aneh bagi seorang perempuan. Semacam ketidakpercayaan bahwa nama saya adalah benar-benar Bakti. Beberapa minggu yang lalu saya bermaksud menelepon teman lama saya, tetapi sialnya saya menekan nomor yang salah. Setelah sadar bahwa saya salah sambung, saya tutuplah cepat-cepat itu telepon daripada saya buang waktu dan biaya. Tapi tuh orang yang saya salah sambungi malah telepon saya balik, berulang-ulang. Akhirnya saya angkat juga daripada tuh orang penasaran dan saya terus menerus diganggu oleh rasa penasaran si orang yang penasaran ini (halah, muter-muter ya? hahaha).

Saya angkat tuh telpon, “Ya?”

“Maaf, ini siapa ya?” terdengar suara seorang lelaki muda di seberang sana. Lumayan bagus juga sih suaranya, semacam suara penyiar radio gitu. Mungkin saja orangnya cakep. Tapi mungkin juga hanya suaranya yang bagus. Mungkin giginya merongos, jadi vokalnya bagus (orang yang giginya merongos vokalnya biasanya kan bagus: contohnya, vokalis band Timlo).

“Maaf, saya semalam salah sambung. Saya minta maaf. Saya kira masnya temen saya.”

“Iya, tapi ini siapa? Nama?”

Aku sih agak mikir juga untuk memberitahu namaku. Apakah itu penting? Toh kami tidak kenal dan tidak pernah bertemu. Tapi akhirnya saya kasih tahu juga dia nama saya, “Saya Bakti.”

“Ha?! Beneran?!” nada suaranya naik dan seolah-olah saya saat itu sedang mempermainkan dia. Saya ini pembohong.

“Iya, beneran. Namaku Bakti. Bla.. bla.. bla..”

Yah.. begitulah. Singkat cerita saya berhasil meyakinkan dia bahwa nama saya memang Bakti (meskipun dia percaya atau tidak, adalah tidak penting). Dan sampai beberapa saat dia suka telpon-telpon saya. Cerita ini itu, ngalor ngidul. Kadang nggak penting, tapi kadang cerita-ceritanya yang nggak penting menghibur juga sih kalau saya lagi ngerasa kesepian. Halah.. cukup dengan lelaki yang suka telpon-telpon ini (sori Andri alias Ade Horison…, saya tidak bermaksud menepikanmu. Kamu lucu, saya suka bicara dengan kamu. Jangan marah ya karena saya masukkan cerita tentang kamu sedikit di blog ini. Hehehehe. Terimakasih sudah telpon saya dan tidak bosan bicara dengan saya).

Cerita lain tentang nama saya adalah: saya pernah pesan partisi bambu dari sebuah toko pada suatu hari, dan keesokan harinya, pagi-pagi sekali seseorang menekan bel rumah dan tanya: “Apakah Pak Bakti tinggal di sini?”. Yang membuka pintu lantas memanggil saya, dan alangkah terkejutnya si kurir partisi bambu ketika sadar bahwa Pak Bakti yang dia cari ternyata perempuan. Hahahaha…..

Kadang saya pikir, apa ya yang ada di pikiran Ayah saya sewaktu memutuskan untuk memberi saya nama Bakti? Saya tidak bisa membayangkan nama lain akan menjadi nama saya selain Bakti (nama Linka saja adalah nama yang saya karang sendiri demi kepentingan lucu-lucuan di portal ini: Friendster.com. Tapi nama Linka bagus juga sih. Mungkin suatu ketika kalau saya bisa punya anak perempuan, akan saya beri nama Linka. Linka, dalam istilah Tibet artinya tanah, air dan langit. Latrine: WC. Jadi, Linka Latrine berarti: tanah, air dan langit adalah WC). Hei.. jangan ada yang tersinggung ya dengan nama yang saya buat ini. Jangan terlalu serius deh… Bukannya saya merendahkan apapun yang menyangkut Tibet. Tibet justru adalah salah satu tempat sakral yang saya ingin datangi kelak jika mampu. Saya hanya mencoba menghargai hidup saya, makanya saya ingin bebas bercanda. Ini yang namanya candaan without border. Jangan marah ya kawan… Siapapun anda. Hehe..

Kembali kepada soal Ayah saya yang memberi saya nama Bakti. Apa harapan Ayah terhadap saya dengan menamai Bakti? Ingin saya berbakti? Mungkin. Dan hasilnya? Wah, saya tidak berani berpendapat. Silahkan teman-teman dan orang tua saya saja yang menilai. Yang jelas, sampai saat ini, dengan nama ini saya selalu berusaha untuk menjadi seperti yang saya inginkan. Berusaha memenuhi harapan orang tua dengan jalan saya sendiri. Semerepotkan apapun saya dibuat oleh nama saya dan seaneh apapun nama ini terdengar di telinga orang-orang, saya tetap bersyukur karena nama ini selalu memberi saya cermin yang baik tentang bagaimana saya seharusnya menjadi manusia.

Iya, nama saya Bakti.

Dan saya bangga menjadi Bakti dan sebagai Bakti.

Yogyakarta, Blunyah Rejo, 5 Agustus 2008

Iklan

2 thoughts on “Namaku.

    • Waaah… senang sekali saya karena sudah menulis pengalaman ini. Saya jadi bisa kontak dengan Bakti-bakti lainnya!!

      Salam kenal Mbak Bakti. Salam juga buat Bakti Tataryo 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s