Jangan Biarkan Dia Menciummu Biarpun Sekali Saja

Telah lama kucium gelagat buruk ini. Keberadaan seorang iblis perempuan. Culas, kejam, berbahaya dan sudah makan banyak korban. Sudah cukup lama dia berkeliaran. Tepatnya, sebelum aku dilahirkan sebagai Heroine di dunia yang penuh dengan kejahatan ini. Dia adalah iblis yang sangat berpengalaman. Dia kini makin jahat dan kuat. Dan aroma kejahatan yang teramat dahsyat miliknya itulah yang kini sedang kucium. Dia berada tak jauh dari tempatku berada.

Brrr… tubuhku bergetar dan jantungku berdegup makin kencang. Aku rasakan kekuatan kejahatan itu makin dekat merayap ke arahku.

Jika detik ini aku membeberkan sedikit saja tentangnya padamu, tentu kau tidak akan percaya, kau nantinya merasa bahwa semua yang kukatakan tentangnya adalah tidak masuk akal dan hanya pantas diceritakan sebagai sebuah dongeng belaka. Tetapi, tetap akan kuceritakan, dan tolong percayailah, karena apa yang akan kuceritakan ini semata-mata demi keselamatan umat manusia.

Perempuan yang sedang kurasakan keberadaannya ini adalah seorang perempuan berbibir empal. Seorang lelaki yang tak punya kesadaran dan kekuatan yang cukup, tentu akan melihat bahwa bibirnya biasa-biasa saja atau bahkan akan melihatnya sebagai sebuah bibir yang seksi. Tetapi, dengan kekuatanku sebagai Heroine, aku tidak melihatnya begitu, sebab dua belah bibir itu adalah bibir yang mirip dengan sebuah empal yang melekat di bawah hidungnya. Dan bibir aneh itulah senjata utama dari iblis perempuan ini selain payudaranya. Maka itu, hai para lelaki…berhati-hatilah dengan bibirnya. Jangan sampai kau diciumnya biarpun sekali saja. Bibir empal itu akan menebarkan racun paling mematikan bak racun Poison Ivy ke dalam tubuhmu. Dan jangan sampai kau melihat apalagi menyentuh payudaranya, sebab kau akan sekarat lebih cepat.

Jika kau sudah dicium atau menciumnya, energimu akan diserapnya. Mungkin akan terasa nikmat dan bagai jatuh cinta pada awalnya. Tetapi jangan kira ia akan membalas cintamu. Sebelum kau berpikir begitupun ia sudah akan membunuhmu sembari beredar ke pelukan lelaki lain untuk merebut cinta-cinta dan kekuatan nafsu yang baru hingga kau akan mati dengan mengenaskan. Sejauh yang sudah aku temukan dari pengembaraanku mengikuti jejak-jejak Iblis Perempuan Bibir Empal ini, mayat-mayat lelaki yang menjadi korbannya mati dengan dada tercabik-cabik dan kondisi otak yang rusak. Sebagian lagi mati dengan tubuh kering, dan jika ada yang dapat bertahan hidup, mereka akan hidup seperti manusia tumbuh-tumbuhan tanpa punya kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Konklusinya: seluruh korban Iblis Perempuan Bibir Empal ini akan mati atau hidup dengan kondisi yang sangat mengenaskan!

Ya, dia sedang bergerak ke arahku. Di sini memang banyak lelaki berlalulalang. Dan tentu saja, yang iblis perempuan itu inginkan adalah lelaki; karena dengan memakan banyak korban lelakilah kekuatannya akan makin meningkat. Apalagi jika lelaki yang menjadi korbannya itu masih perjaka. Ia akan lebih senang karena kekuatan dari para perjaka akan membuatnya jauh lebih sakti.

Maka itulah aku di sini, di antara keramaian lalu lalang penuh lelaki. Aku ada untuk menyelamatkan lelaki; yaitu sejenis primata ordo manusia yang seringkali berpikir dan bertindak dengan sebuah organ bernama penis.

Dan detik ini dari kejauhan, dapat kulihat makin jelas ia berjalan. Makin dekat. Makin dekat lagi. Hingga ia akhirnya berhenti tepat sepuluh langkah dariku. Tiba-tiba angin menggelasar lebih keras hingga melayangkan daun-daun kering yang telah gugur ke tanah. Aura kekuatan kami telah bertumbuk hingga manusia-manusia di sekitar kami berlarian, bergerak mundur, dan menatap kami seperti sedang akan menyaksikan sebuah duel maha dahsyat. Dan memang, begitulah tentunya pertemuan ini akan kami akhiri.

Rambutku yang ikal panjang teracak-acak dikibarkan angin. Dan rambut hitam lurusnya yang sebahu itu sesekali dihempas angin dan jatuh ke depan matanya. Disibakkannya rambutnya. Bibir empal itu tersenyum padaku. Culas.

Jadi kau… yang selama ini mengusik kesenanganku? Hah!” ia berseru dengan gusar.

Ya, ini aku. Heroine. Aku harap kau berhenti memakan korban lelaki lebih banyak lagi. Aku peringatkan padamu, kau telah membahayakan kelangsungan hidup umat manusia dengan memperdaya dan mencelakai banyak lelaki.” Kataku dengan tenang. Panas dan debu di udara memedihkan mataku. Sebutir keringat bergulir dari pelipisku sebelum jatuh ke tanah.

Cih! Berani benar kau, Heroine brengsek!!! Kau berkata begitu karena tentu kau belum pernah merasakan bagaimana lezatnya lelaki bukan? HAHAHAHA….” tawanya berderai-derai mengejekku. “Ya…ya…ya… aku yakin, hanya itu yang bisa kau katakan karena kau belum banyak merasakan tubuh lelaki sebanyak yang pernah aku rasakan. Atau… kau sebenarnya ingin agar aku tidak lagi membunuhi mereka supaya kau bisa merasakan mereka semua tanpa terusik olehku bukan?!”

Tidak. Aku tidak sekalipun berniat sebusuk itu. Satu-satunya mahluk yang punya niat sebusuk itu adalah mahluk seperti kau. Mahluk busuk!” balasku.

Ah… Omong kosong!!!!” teriaknya. Bibir empalnya terlihat makin mengerikan. Payudaranya yang besar bergetar oleh kemarahan. “Begini saja. Bagaimana jika kau berhenti mengusikku, dan mulai saat ini aku akan selalu menyisakan beberapa lelaki untukmu. Bagaimana? Sepakat?” katanya lagi sambil menyeringai licik. Kilatan mata pedang hitam yang sedari tadi tersarung di pinggangnya kini telah diperlihatkannya.

Aku tegaskan lagi padamu Bibir Empal. Aku tidak berniat! Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja!” jawabku. Kini juga penuh kemarahan yang tak kalah hebat. Pedangku telah terhunus.

Hrrhhh… betapa kau sok jadi pahlawan. Ketahuilah bahwa kau sudah menguras habis kesabaranku. Bersiap-siaplah untuk mati, brengsek!!!” teriaknya kalap. Ia berlari dengan kuda-kuda menyerang ke arahku. Maka serta merta tak ada lagi pembicaraan di antara aku dan Iblis Perempuan Bibir Empal, sebab pedang kami sudah saling beradu dengan hebat hingga percikan-percikan bunga api terserak ke udara. Cukup lama kami bertarung hingga matahari menggelincir ke barat dan gelap berkuasa.

Akkhh…..!!!” erangku tiba-tiba. Tangan Bibir Empal telah mencekikku. Separuh kekuatanku datang dari terang. Maka jika gelap datang, kekuatanku akan melemah. Agaknya Iblis Perempuan bibir Empal sedari tadi sengaja memperpanjang waktu bertanding kami hingga hari berganti malam. Supaya kekuatanku melemah, dan ia dapat mematahkan aku. Ah, akhirnya, inilah akhir dari perseteruan kami setelah sekian lama kami intai mengintai. Ya, mungkin ini akhir keberadaanku. Tetapi jika nanti aku mati, selama Iblis Perempuan Bibir Empal ini masih hidup di dunia, Sang Dewa Pemberi dan Pengambil Hidup tentu akan menitiskan aku lagi ke dunia yang sama dengan dunia dimana Bibir Empal berada. Kami memang telah diciptakan sebagai musuh abadi.

Akkhh…” erangku lagi. Kurang dari sekejap, kurasakan darah segar mengalir dan menitik-nitik dari kepalaku. Pedang Bibir Empal telah menembus dahiku. Mata pedangnya telah bersarang di otakku ketika pedangku jatuh ke tanah bersama tetes-tetes darah. Kekuatan kejahatan memang selalu lebih jahat.

Rasakan… Heroine keparat…..” bisiknya dengan penuh kebencian di telingaku sebelum aku berakhir. “HAHAHAHAHAHA……” tawanya berderai untuk kesekian kali. Ia campakkan tubuhku yang sekarat; menyarungkan pedang hitamnya yang telah merah dengan darahku, dan… aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.. pandanganku gelap. Gelap. Suaraku lenyap. Teriakku dalam hati untuk yang terakhir kali : “Lelaki, selamatkan diri kalian!”

10 Desember 2004

baktidotcom@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s