Tanpa Sepatu

Kamu ingat kah?

Saat itu sangat dahulu

Ketika kau membiarkan dirimu menemukanku

Dan aku selalu membiarkan diriku setia menemanimu

Dua pasang kaki-kaki lelah

Pada jalanan yang liku dan berbatu

Mencari ruang-ruang transit

Untuk sekadar melepas beban

Mencari ruang tamu dengan meja dan kursi

Yang berkata “selamat datang, anggaplah rumah sendiri”

Meski kita tahu mereka berbohong,

Kita tetap nekat untuk singgah, menyapa mereka,

Dan sebentar berdiam

Lalu di ruang-ruang itu

Kau meletakkan satu tas besar berisi lelah,

Catatan, surat-surat

Dan kristal-kristal kusam kenanganmu

Sejauh itu semua kau ampu di pundakmu

Hanya sekali dua kali kau letakkan mereka di tepi jalan,

Dan sesekali saja kau ijinkan aku menjinjingnya

Sebelum sebentar kemudian kau pikul kembali

Aku rindu masa-masa kita minum dari gelas yang sama;

Aku mencoret-coret tembok kamarmu

Dan kamu nyolong rokok dari kantung bajuku

Tidak ada malu

Apalagi marah

Yang ada hanya maklum

Lalu kita menyumbang tanya

Tentang dunia pada kopi yang sama

Menyaksikan hitamnya menjadi kian pekat dan liat ampasnya

Oleh banyak tanda baca dan huruf-huruf

Dari pertanyaan kita yang melarut;

Juga dari halaman-halaman buku-buku yang kubaca

Dan lembaran koran yang kaulipat

Menjadi sebentuk kapal-kapalan dan pesawat terbang :

Untuk kau layarkan dan terbangkan

Membawa angan dan cita-citamu

Ke penjuru laut dan langit sesuatu

yang tak pernah jelas alamat

Angan dan cita-cita milikmu

Yang pada kenyataan tak pernah bisa setinggi langit

dan seluas lautan

Tapi tolong jangan lupakan itu sekarang

Hanya karena kini kita berada pada ruang singgah

yang tak serupa

Karena kita kini minum dari gelas yang tak sama,

Juga karena kau masih terus merokok,

dan aku berkata jera

Lalu kristal-kristal kenangan itu

Hanya bagai gumpalan-gumpalan kerikil di sisi jalan

Yang bisa begitu saja kita sepak

karena telah sedikit menggores

Salah sebuah sisi sepatu kita yang baru

Aku tahu, kamu masih ingat bahwa

Dua pasang kaki di balik sepatu baru itu

Adalah tetap kaki-kaki yang sama

Dan aku rindu sesuatu:

Diri kita yang tanpa sepatu

Yogyakarta, 24 Maret 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s