Selalu ada yang kita hapus dalam hidup kita, tetapi aku tidak akan mencoret namamu.

Kawan. Teman. Sahabat. Apa lagi yang biasa kita sebut bagi mereka? Sobat?

Kawan, teman, sahabat, sobat (bukan sabit, ntar jadi sobat sabit dong), adalah orang yang biasa bersama-sama kita selain keluarga. Jika sedang tidak ada keluarga yang dekat dengan kita, teman adalah seseorang yang biasanya paling membantu kita. Justru, seorang teman atau kawan bisa lebih dekat dengan kita dan tahu lebih banyak rahasia-rahasia kita daripada anggota keluarga kita sendiri. Merekalah yang sering mendengar cerita-cerita kita, tertawa bersama kita, makan bersama kita tanpa rebutan lauk, bahkan jika kita sedang dilanda kesedihan, mereka mungkin bisa jadi adalah orang pertama yang mendengar keluh kesah, tangis kita, sekaligus merupakan orang yang paling bisa menghibur kita.

Mereka seperti saksi dari sebagian kecil kisah hidup kita, mereka seperti buku catatan kecil yang menyimpan catatan pedoman-pedoman kecil dan prinsip-prinsip dari hidup kita, karena mereka senantiasa menjadi tempat kita berbagi cerita dan bertukar pikir. Mereka seringkali menjadi pendukung kita ketika kita membutuhkan support, atau malah bisa meluruskan jalan kita lagi dengan kritik dan opini mereka ketika langkah kita sedang ngoyoworo tidak tentu arah.

Hampir semua orang yang saya kenal, menyatakan bahwa mereka sangat senang jika memiliki teman, kawan, atau sahabat. Tidak ada satupun yang mengatakan bahwa mereka tidak senang berteman dengan orang lain (orang yang dengan tegas mengatakan bahwa mereka tidak senang berkawan dan punya banyak kawan, biasanya langsung dikatakan sebagai “orang sakit” atau manusia anti social). Sejauh yang saya tahu, hampir semua orang akan berusaha sebisa mungkin untuk berteman atau paling tidak—kenal dan dikenal banyak orang.

Banyak alasan mengapa orang senang mengumpulkan banyak kawan atau kenalan. Misalnya antara lain, untuk membangun jaringan (orang bilang sih kalau-kalau suatu hari nanti bisa berguna, misalnya bila kita sedang membutuhkan bantuan: teknisi komputer murah (kalau teman kita jago utak utik komputer), atau katering dengan harga seperempat lebih murah dari tarif katering normal (jika teman kita punya bisnis katering), atau malah dikerahkan sebagai massa pendukung jika saja seseorang yang punya banyak kawan itu bikin partai atau mencalonkan dirinya sebagai caleg (hii… serem!), atau bisa juga dipergunakan sebagai biro pencari kerja, bagi yang sedang cari kerja atau pengangguran (setahu saya, banyak orang yang mendapatkan info lowongan pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan itu sendiri karena ia kenal dengan seseorang yang bekerja di perusahaan tertentu—saya mah pernah begini juga. Hehehe..)). Mungkin perkawanan bagi kepentingan macam ini kemudian diistilahkan sebagai “modal sosial”. Ya… alasan yang bisa diterima.

Banyaknya jumlah orang yang mengenal seseorang, atau berkawan dengan seseorang, sering kali menjadi sebuah indikator tolok ukur mengenai semenyenangkan apa pribadi seseorang itu (jika seseorang itu menyenangkan, ramah, atau lucu, maka banyak orang akan tertarik kepadanya dan berkawanlah ia dengan orang-orang yang tertarik padanya itu. Hoho… penjelasan yang polos sekali ya? Tapi begitulah biasanya yang terjadi, walaupun selanjutnya jika ditelaah belum tentu juga orang yang kenal dengan banyak orang itu memang benar-benar menyenangkan. Bisa juga dia jadi dikenal banyak orang karena dia super menyebalkan. Oh… kacian deh..). Banyaknya orang yang dikenal seseorang atau berkawan dengan banyak orang, bisa juga dijadikan sebuah penggaris atau timbangan yang digunakan untuk mengukur sejauh apa kepopuleran seseorang. Orang bilang, “Eksistensi man!” Nah, kalau tujuannya sudah begini, seseorang biasanya akan berusaha kenal dengan siapapun, terutama orang-orang yang punya nama dan punya pengaruh di tengah masyarakat, misalnya selebriti.

Memiliki hubungan pertemanan atau paling tidak mengenal orang-orang yang mempunyai nama besar dan pengaruh di tengah masyarakat biasanya membuat seseorang merasa bangga (tapi kok hampir tidak ada yang bangga ya kalau kenal dengan Ketua RT atau Ketua Dasawisma atau Ketua Seksi Kesejahteraan Masyarakat alias Sie Kesra? Mereka kan punya nama dan pengaruh di tengah-tengah masyarakat juga. Atau mungkin karena pengaruh mereka sebatas tingkat kampung ya? Eh, tapi kalau berhubungan dengan istilah kampung, biasanya malah dijauhi tuh. Mungkin supaya tidak kena cap “kampungan” kali ya? :p Secara gitu loh… !! (he.. kalimat apa ini?! Tiba-tiba kok muncul begitu saja di situ? Kok ahistori kedengarannya ya? Ha..? Apa? Oh, saya ya yang kampungan. Masak kalimat “Secara gitu loh!!” saja saya nggak kenal.. Hehe.)). Seseorang yang punya kenalan selebriti biasanya berharap bahwa ketenaran si selebriti akan menular padanya, dan bagi orang lain yang melihat seseorang yang punya teman selebriti, biasanya lantas menganggap bahwa seseorang itu adalah orang penting dan punya pengaruh besar juga seperti si selebriti. Makanya, tidak rugi memang, punya teman selebriti karena kita juga bisa menjadi terkenal atau dihormati dan dianggap.

Selain dirasa membanggakan dan menguntungkan untuk mengenal orang-orang yang punya nama dan pengaruh di tengah masyarakat, seseorang biasanya juga merasa tidak rugi dan diuntungkan jika mengenal dengan baik seseorang yang ia pandang berada di bawah kedudukannya atau lebih muda dari usianya. Semacam daun muda. Itu lho, berondong, berondong!

Nah.. kalau yang ini, biasanya dilakukan untuk kepentingan tertentu juga. Seseorang yang punya kedudukan lebih rendah atau juga yang lebih muda, biasanya dipergunakan sebagai penyokong kepercayaan dirinya yang lemah, tameng untuk menutupi kekurangannya sendiri, atau bisa juga menjadi tenaga bantu-bantu (wah, kejam ya kedengarannya?). Misalnya, bila seseorang itu memiliki pengetahuan yang lebih sedikit tentang sesuatu hal dibandingkan kita. Dia biasanya akan memandang kita dengan hormat dan terkadang kalau kita beruntung, dia lantas menyanjung-nyanjung kebolehan atau kepandaian kita, baik di depan kita atau di depan orang lain dan kawan-kawannya. Wah, kita jadi makin percaya diri dong kalau begini. Ya nggak? Ho oh. Lantas biasanya kalau sudah begini, kita juga jadi baik-baikin seseorang yang berpengetahuan lebih sedikit dari kita atau yang lebih muda tersebut supaya dia makin memuja dan memuji kita. Dengan begini, secara tidak langsung sebagian besar kelemahan kita seolah-olah tertutupi karena kelebihan kitalah yang tampaknya lebih menonjol.

Nah, kita sekarang beralih kepada hal lain lagi. Sebuah hubungan pertemanan atau persahabatan, tidak terhindar pula dari konflik. Kadang kita merasa bahwa seorang teman baik pasti sudah sangat tahu dan memahami perasaan kita, apa saja kesukaan kita dan apa saja hal-hal yang tidak kita sukai. Seringkali anggapan bahwa teman baik kita tahu banyak tentang diri kita—itu benar, tapi ada kalanya anggapan tersebut tidak benar. Tidak ada kabel data yang menghubungkan antara kepala kita dengan kepala teman baik kita, sehingga tidak segala hal dari kita diketahui oleh teman kita (yee.. emangnya kita komputer?!). Demikian pula sebaliknya, tidak segala sesuatu dari teman kita bisa kita ketahui 100%. Maka itu, kadang kala kita melakukan sesuatu yang bagi teman kita mungkin tidak menyenangkan hatinya. Demikian juga sebaliknya. Tetapi hal ini tidak bisa kita jadikan sebuah patokan untuk membenarkan tindakan kita yang katakanlah tidak menyenangkan atau salah bagi teman kita, sebab ada yang namanya standar etika yang bisa kita gunakan sebagai sebuah tolok ukur atau pedoman untuk menilai apakah tindakan atau keputusan yang kita ambil bersifat etis atau tidak. Apakah keputusan atau tindakan itu kemungkinan menyinggung atau mengganggu perasaan teman kita atau tidak.

Maka, ada kalanya kita sendiri butuh membatasi diri dalam sebuah pertemanan. Tidak segala hal bisa atau baik untuk kita bagi dengan teman kita. Karena jika kita terlampau baik kepada teman kita, atau terlampau dekat dengan teman kita, potensi konflik justru kian besar dan kemungkinan konflik yang muncul akan berakhir dengan renggangnya hubungan pertemanan.

Jika teman kita memberi kita sesuatu, sebisa mungkin balaslah pemberiannya dengan sesuatu yang sebanding juga. Jika saat itu kita tidak memiliki sesuatu yang bisa kita beri kembali sebagai balasan sebanding, maka inilah gunanya ucapan “terima kasih”, tetapi catatlah baik-baik dan ingat-ingat bahwa suatu saat jika kita mampu memberi teman kita balasan dari pemberian tersebut, berikanlah juga balasan itu kepadanya walaupun misalnya kita sudah berada di Norwegia (misalnya jadi TKI) dan teman kita menetap jauh di Bojonegoro.

Saya sendiri, adalah seorang yang pendiam dan cenderung membatasi diri jika di antara teman saya dengan saya sedang terjadi konflik. Tetapi, berdiam diri atau tidak membalas telepon dan sms adalah tindakan saya yang paling tulus. Karena saya tidak suka dan tidak bisa berpura-pura memasang senyum palsu di depan teman saya jika saya sedang tidak ingin tersenyum. Dan memang, di sinilah salah satu letak keburukan saya. Saya cenderung akan menghindari atau malah mencoret nama seseorang dari daftar nama teman-teman saya jika saya merasa seseorang sudah menyakiti hati saya. Saya pikir ini adalah tindakan yang paling nyaman untuk saya lakukan daripada harus berbaik-baik tetapi saya tidak tulus. Apalagi jika orang itu sudah berbohong pada saya. Wadoohh… saya tidak tahu harus bersikap bagaimana kecuali diam dan menjauhinya. Maka, jika saya suatu saat dijauhi atau dicoret dari kehidupan seseorang, ya saya harus terima karena mungkin yang saya katakan atau lakukan padanya memang menyakitkan. Ada yang berkata, bahwa membuang seseorang dari kehidupan kita seperti membuang sebagian dari sejarah hidup. Saya pikir tidak, karena itu tidak sama dengan membuang ingatan. Ingatan atau kenangan tentang apapun dalam hidup kita akan tetap tinggal selamanya di dalam kepala kita, dan kita bisa belajar dari ingatan. Kecuali kita sudah tua dan kena alzhaimer alias penyakit pikun. Jadi, supaya kita bisa terus belajar dari ingatan, jangan sampai kita terserang Alzhaimer. Cara mencegah penyakit Alzhaimer adalah: konsumsilah makanan berprotein tinggi setiap hari. Hehehe…

Demikianlah. Bagi teman-teman saya yang berstatus selebriti (atau merasa sebagai selebriti) boleh tersinggung atau tersanjung setelah membaca tulisan ini, karena mungkin saya pernah mempergunakan nama besar anda demi kepentingan peningkatan harga diri saya di mata orang lain. Dan bagi teman-teman saya yang lebih muda, boleh juga tersinggung setelah membaca ini karena tentu saja saya pernah mempergunakan posisi dan tenaga kalian untuk kebaikan saya. Dan bagi teman-teman saya yang sebaya dan tidak tergolong pada kategori-kategori di atas, jangan merasa aman dan tidak tersinggung dulu… karena saya pasti juga pernah mengambil keuntungan dari kalian.

Jadi, secara garis besar bisa dikatakan bahwa memang tidak ada posisi yang aman bagi diri seseorang untuk tidak memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh orang lain yang notabene adalah temannya. Kita semua saling memanfaatkan seperti rantai makanan. Di satu sisi kita diuntungkan, dan di sisi lain, kita harus rela untuk rugi. Dan karena ada untung rugi ini dan posisi kita tidak ada yang aman, dari sisi tertentu kita bisa menyimpulkan bahwa justru karena hukum memanfaatkan dan dimanfaatkan itulah kita semua aman. Karena memang tidak ada yang aman.

Jika ada di antara teman-teman yang kemarin-kemarin merasa sudah saya sakiti, saya minta maaf. Dan permintaan maaf saya ini bukanlah permohonan dari saya untuk batal dicoret dari daftar “teman-teman baik” milik teman-teman. Tetaplah pada keputusan teman-teman, sejauh teman-teman merasa bahwa itulah yang saat ini paling nyaman bagi diri teman-teman sendiri. Life goes on. Something gone and something come. Patah satu, tumbuh seribu. Proses untuk menjadi diri sendiri memang tidak mudah.

Haiya… bagaimana teman-teman? Semoga tulisan ini bermanfaat, meskipun tidak penting. Apa yang dibicarakan dan disimpulkan di atas juga masih dapat diprotes karena mungkin juga tulisan ini muncul dari satu wacana yang proses perenungan dan pengendapannya sebenarnya masih dangkal, alias masih merupakan sekumpulan prasangka. Apalagi jika teman-teman tahu bahwa tulisan ini dibuat dari tengah malam menjelang pagi buta (otaknya sudah melayang kemana-mana, antara sadar dan tidak, antara ngantuk dan bangun). Yak.. waktunya mengistirahatkan jari-jari. Tidur. Bye bye.


Yogyakarta, 12 September 2008. 01:49

Iklan

One thought on “Selalu ada yang kita hapus dalam hidup kita, tetapi aku tidak akan mencoret namamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s