Perempuan ½ Api

Ciuman lelaki ini malam ini, kutahu, sebelum berakhir ia menciumku, pun aku sudah tahu, tidak akan menyisakan kenangan tentang ciumannya hari ini esok hari. Hanya akan menyisakan remah-remah keinginan. Dan aku mati rasa setelah sekian ratus jam aku berkeinginan mengecup kening dan mencium harum rambut ikalnya. Tak kurasakan sesuatupun. Aku tak merasa. Aku berpikir di sela-sela bibirnya yang sibuk melumat bibirku. Dan kutemukan bahwa tak sesuatupun sedang kupikirkan. Aku hanya berpikir untuk memilih mana yang akan kupikirkan. Aku tak tahu. Aku menyerah untuk berpikir. Aku dipecundangi kekosongan, kesepian, kegelapan. Akan kembali kutenggak mereka esok hari di dalam cangkir kopiku dan kuhirup semuak kubisa dari tiap inci tembakau yang mengasap paruparuku sampai paruparuku juga menyerah kalah dari perang ini dan menyusuliku jadi pecundang. Bolonglah kau paruparu… agar kulebih leluasa mempermainkan dan dipermainkan angin. Angin-anginan. Hingga aku makin jalang merayap riuh rendah pada udara dan membunuh tetes-tetes air. Maka, di atas segalanya aku kembali menikam kegelapan. Pet-byar! Byar! Byar! Byar! BYAR! BYAR! BYAR! BYAR! BYAR!

“Mikir apa?” lelaki yang separuh dirinya tersusun dari air ini bertanya padaku.

“Mikir? Memang kau pikir aku bisa berpikir? Melihat benda radius tiga meter saja aku tidak bisa.”

“Lalu apa sebab kau diam?”

“Karena aku sedang berkeinginan.”

“Ingin….?”

“Menghanguskan bumi. Menghanguskan kau. Kau, bumi! Mengeringkanmu, setelah mendidihkanmu, Air!”

“Ah, kau gila! Apalagi yang akan mendidihkanku dan mu selain tiga botol Vodka ini honey?”

“Aku! Akulah selain tiga botol Vodka itu. Aku bakar kau! Aku bakar aku! Mari sayang…. menyala kita sama-sama. Dan kupesankan, agar kau nanti jangan repot-repot menyiram tubuhmu dan tubuhku dengan airmu…. itu sia-sia, sebab airmu hanya segayung dan apiku selautan. Jangan buat dirimu kelelahan. Sudah, diam saja dan biarkan kita menghangus.”

Kurogoh tubuhku dan kukeluarkan sebatang korek api dari hatiku. Jresss….. kusulut ia. Rambutnya memercikkan bintang-bintang api kecil. Api-api kecil yang lebih lincah meliuk daripada lekuk ikal rambut lelaki ini.

“Aduh, panas nih…”

“Kalau begitu lepas bajumu…”

“Masih panas honey….”

“Lepas celanamu.”

“Huh…huh… hah…. hah….”

“Berbaringlah sayang….. aku mau panggang sosis di dadamu.”

Ia berbaring dan kupanggang sosis.

“Kau mau kupanggangkan makanan kesukaanmu? Ubi bakar…..”

Tapi ia tak menjawab. Sudah mati mungkin.

Maka hari itu aku main masak-masakan dari apiku. Dan lelaki dari air ini menghangus lebih dulu. Selalu lebih dulu. Pada akhirnya belahan bumi manapun sebelum terbakar akan percaya bahwa aku akan menyusul mereka jadi abu. Atau bagi air, aku juga akan lenyap jadi uap. Padahal tidak.

Tubuhnya menyisakan sedikit saja yang dapat dikenali. Nyaris jadi abu. Harum tubuhnya yang khaspun kini makin khas. Tak akan pernah aku lupa seumur-umur: Aroma kematian. Aroma yang selalu kukenal. Maka kuhirup bagian tubuhnya yang telah jadi uap, dan kusepak-sepak sebagian tubuhnya yang mengabu. Mungkin jika belum mengabu, itu bagian dadanya. Dan kulihat di sibakan puing-puing dadanya; hatinya masih utuh. Kuangkat sekalipun masih panas… menguap-uap berasap.

Sepertinya nikmat, kupikir, karena kurang dari sedetik sebelum kuberpikir, aroma hati matang itu sudah menusuk hidungku. Aku memang tak pernah berkesempatan berpikir.

“Aku lapar…” gumamku. “piring…. piring…” kucari piring di dalam tenda yang kami dirikan semalam.

Kuraih piring dengan motif kembang-kembang termanis dan kuletakkan hatinya di atas piring. Aku asah pisau makan dan kugenggam garpu. Kuiris-iris hatinya. Kucocol saus tomat. Kukunyah.

“Sial!” umpatku. “Kurang bumbu!”

Blunyah, 25 Maret 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s