Aku, Seekor Capung, dan Kekasihku

Lama Tak Jumpa

Apa kabar?

Apa kabar rambut indahmu?

Apa kabar matamu?

Apa kabar lenganmu?

Apa kabar dadamu?

Apa kabar bibirmu?

Apa kabar kata-kata itu?

Apa kabar?

Di sana….. kau lihatkah? Di sana…. Ya, sebuah tempat pada landscape di bawah langit kelabu ini. Kau lihat…. di ujung penglihatanmu, bangunan terujung, terdekat dengan bukit kembar itu. Bangunan tua berhalaman tak terlalu luas dengan bunga berjenis-jenis rupa dan warna. Merah jambu pada Mawar, merah menyala pada kembang Sepatu, dan kau juga bisa lihat titik-titik putih milik bunga Melati di sela hijau daun-daun, juga warna kuning dari mahkota bunga Matahari yang setengah mekar. Ya, bangunan yang itu: sebuah gereja tua. Di sanalah terakhir kali aku menatap kekasihku. Di dalam bangunan tua itu. Suatu hari yang lampau ketika ia menikahi kekasihnya. Pada hari dengan langit yang tak sekelabu langit hari ini.

Seperti warna langit yang cerah kala hari ia menikahi kekasihnya, ia terlihat amat tampan. Mengenakan setelan jas: sebuah jas hitam yang licin dengan kemeja putih di baliknya. Rambutnya yang panjang sebahu dan ikal, dilumurinya dengan minyak rambut termahal, disisirnya rapi dan diikat. Ia tak pernah terlihat setampan dan serapi itu pada saat-saat kami punya janji. Pada saat kami bertemu. Dan aku merasa sedikit disudutkan oleh sebuah perasaan ketika kutatap ia dengan setelan jas dan minyak rambut mahalnya. Aku mungkin merasa sedikit cemburu. Sedikit saja. Tidak, tidak banyak. Hanya sedikit. Sedikit kecemburuan yang menusuk hatiku. Sedikit, tetapi sangat dalam. Sangat dalam menusukku. Dan sepertinya Kecemburuan yang sedikit itu menusukku sangat dalam dengan pisau bermata racun, dan kala pisau itu tertancap, racun pada mata pisau itu merayap ke jaringan organ hatiku dan bersarang di sana. Maka sejak saat itu, aku menjadi seorang pesakitan. Aku tak pernah ingin menyimpan racun dari mata pisau keparat itu di hatiku. Ialah yang tak pernah mau pergi dari salah satu organ tubuh terpentingku ini. Pun setelah empat tahun aku tak lagi melihat kekasihku, dengan kekasihnya: perempuan yang dinikahinya. Dan aku masih ingat bagaimana paras perempuan yang adalah kekasihnya itu kala ia dinikahinya. Ia terlihat amat bahagia. Senyum yang tak putus-putus mengembang dari bibirnya. Gaun pengantinnya yang khusus dipesan dari seorang penjahit yang lumayan kenamaan di kota besar yang terdekat dari kota kecil ini, putih satin dengan payet putih yang berkilat-kilat seperti kerlip bintang kejora ketika tertimpa cahaya matahari. Sangat manis. Ia terlihat seperti peri hingga ketika ia melangkah pelan di tengah gereja dengan rangkaian bunga tangan pada genggamannya, melangkah di sela alunan Organ dan koor gereja, juga bangku-bangku panjang yang berderet hingga depan mimbar, semua orang di dalam gereja tua itu tersenyum menatapnya. Dan aku pun tak kuat hati untuk terus berdiam muka dalam kosong dan beku. Sebab semua orang dalam gereja itu tersenyum. Maka aku pun tersenyum. Senyumku adalah untuk kalian yang berbahagia di tengah sakramen pernikahan di gereja itu. Dan bagi siapapun yang tak berbahagia dengan kebahagiaan dalam gereja di tengah sakramen itu, apa yang ada di dalam hatiku kala itu adalah untuk kalian.

Maka mereka: kekasihku dan kekasih dari kekasihku mengucap ikrar pernikahan di depan para saksi dan Pastur yang memimpin sakramen pernikahan mereka pagi itu, tepat pukul sepuluh. Ikrar yang membuat mereka resmi menjadi satu. Suami-istri.

Kurasa, kecuali kamera foto, tak ada yang memasang kamera video kala mereka mengucap ikrar setia pada sakramen pernikahan di gereja tua pagi itu. Tetapi tak ada seorangpun yang tahu, bahwa mata dan telingaku tengah merekam prosesi ikrar mereka di sakramen pernikahan pagi itu. Audio-visual. Masih kusimpan dalam otakku hingga kini dan tak dapat kutahu kapan aku bisa mengontrol kapan tepatnya rekaman audio-visual ikrar pernikahan kekasihku itu ingin kuputar ulang atau ingin kuhentikan kala tiba-tiba rekaman prosesi itu kembali menyala aktif di kepalaku. Tidak. Aku tidak tahu. Bahkan aku tidak bisa mengontrolnya. Seringkali rekaman audio-visual itu berkelebat ketika aku bangun tidur di pagi hari. Kadang berkelebat sesaat kala aku berjongkok buang hajat di toilet. Atau saat aku sedang berdiam dan khusyuk berpeluk dengan kertas-kertas kerja di salah satu sudut ruang kantorku. Dan tak jarang pula rekaman itu berkelebat seharian, pada aktivitas apapun: bangun tidur, mandi, buang hajat, buang sampah, makan, minum, melamun, dst, dst, dst, …. Segala aktivitas pada segala sudut. sampai tidurpun aku diikutinya.

Dan inilah aku: seorang manusia yang hidup dengan rekaman audio-visual ikrar sehidup semati sepasang kekasih pada sebuah sakramen pernikahan bertahun lampau yang tak terkontrol di kepalanya. Aku telah terbiasa hidup dengan kelebatan rekaman yang tak terkontrol itu. Aku, manusia dengan semacam repetisi memori di kepalanya dan kurasa aku baik-baik saja dengan itu.

Dan kini, di sana…. kau lihatkah? Di sana…. Ya, sebuah tempat pada landscape di bawah langit kelabu ini. Kau lihat…. di ujung penglihatanmu, bangunan terujung, terdekat dengan bukit kembar itu. Bangunan tua berhalaman tak terlalu luas dengan bunga berjenis-jenis rupa dan warna. Merah jambu pada Mawar, merah menyala pada kembang Sepatu, dan kau juga bisa lihat titik-titik putih milik bunga Melati di sela hijau daun-daun, juga warna kuning dari mahkota bunga Matahari yang setengah mekar. Ya, bangunan yang itu: sebuah gereja tua. Di sanalah terakhir kali aku menatap kekasihku. Di dalam bangunan tua itu, menikahi kekasihnya.


Di sini lagi aku. Berada di sebuah kota kecil tempat aku dan kekasihku dulu bertemu dan tidak lagi pernah bertemu setelah ia menikahi kekasihnya. Masih seperti dulu kota kecil ini. Hanya sedikit lebih ramai oleh kendaraan bermotor. Juga penambahan beberapa bangunan yang berfungsi sebagai kompleks pertokoan di beberapa sudut pada pusat keramaiannya. Dan ini adalah sebuah hari di kota kecil, terminal dari sebuah memori kisah cinta teraneh sekaligus termanisku dan hari ini tak ada langit biru yang dapat kutatap. Terhalang oleh selimut mendung yang lebar, selebar pandangan mataku.

Dan seraya kutatap mendung yang mengatapi kota kecil ini, di sebuah landscape dekat dengan gereja tua itu aku bertanya: dimanakah kekasihku berada? Sampai kini kumasih bertanya dimana ia setelah kutinggalkan ia usai pernikahannya. Masihkah kekasihku berdiam di kota ini? Berdiam, membangun sebuah rumah mungil nan permai bersama perempuan yang dinikahinya. Mungkin perempuan yang telah empat tahun menjadi istrinya itu kini telah melahirkan anak-anaknya. Mungkin satu, dua, atau tiga anak. Anak-anak yang memiliki wajah kekasihku. Mungkin salah satu dari dua atau tiga anaknya tidak hanya memiliki wajahnya, tetapi juga sifatnya.

Seperti apa rupa dan sifat anak-anaknya? Ingin aku tahu. Tentu kekasihku juga seperti mereka sewaktu ia kecil. Mungkin ia gemar bersepeda keliling kampung di siang hari usai bersekolah bersama kawan-kawannya dan ketika mereka melewati sebuah pohon mangga milik salah seorang tetangga, ia bersama segerombolan kawan persepedaannya akan turun dari sepeda mereka dan mencuri beberapa buah yang matang dari pohon mangga itu. Atau, mungkin ia gemar berenang dan main air bersama kerbau-kerbau yang tengah dimandikan gembalanya pada sebuah sungai di sebelah sawah. Atau jika musim hujan tiba, ia dengan bandelnya akan keluar rumah, melanggar larangan ibunya untuk tidak hujan-hujanan dan menangkapi para katak di kolam ikan.

Seperti itukah kau sewaktu kecil, kekasihku? Aku ingin tahu. Sebab tak pernah aku dengar kisahmu, tentang bagaimana kau sewaktu kau kecil. Kau ingat bukan, aku baru bertemu denganmu selepas aku tamat sekolah menengah atas, ketika aku mengunjungi kakek dan nenekku. Kulihat kau untuk pertama kalinya, dan aku tak tahu, bahwa aku jatuh cinta padamu. Aku bukanlah gadis yang terlalu lugu hingga aku tak yakin bahwa aku jatuh cinta. Aku hanya berani berkata bahwa aku menyukaimu, dan karena itu tiap akhir pekan, ketika aku kembali datang mengunjungi kakek dan nenekku, akupun menemuimu. Maka tentu kau tahu, bahwa aku tak mengenalmu sewaktu kau kecil, maka kutaktahu seperti apa kau sewaktu kau kecil. Dan kau tak pernah bercerita. Maka aku tak tahu apa yang harus kujadikan alasan dari ketidaktahuanku itu. Ketiadaan waktukah untukmu bercerita atau kau yang memang tidak memberi dirimu dan diriku kesempatan untuk kau bercerita dan aku untuk kau ceritai?

Entahlah, kekasihku. Yang kutahu, ketidaktahuanku itu telah menjadi sebuah hutang bagimu. Seperti hutangku padamu: sebuah jawaban dari sebuah tanyamu sebelum kau memutuskan untuk meninggalkanku dengan menikahi perempuan kekasihmu itu. Ia, kekasih dari antara banyak kekasihmu selain aku. Ku tak pernah bertanya berapa banyak kekasihmu sebab memang aku tak peduli walaupun kutahu terlampau banyak gadis menyukaimu. Aku menyukaimu seperti halnya kutahu kau menyukaiku dan karenanya aku tak peduli berapa banyak kekasih yang kau punya. Selama aku masih dapat menatapmu: tanpa jarak atau berjarak, masih dapat berbicara denganmu, memelukmu dan menciummu, maka tak menjadi soal bagiku siapapun kekasihmu. Sebab kutahu, tak ada seorangpun gadis yang dapat menyamaiku. Akulah yang satu-satunya seperti aku. Dan karenanya, kutahu bahwa kau tak mungkin melupakan aku.

Ingatkah kau, kekasihku…. masa-masa kita sering berjumpa dan buat janji untuk berjumpa. Sulit kuurai lagi apa yang kita perbincangkan saat itu, sebab kita berbincang tentang pertanyaan-pertanyaan dan gelisah kita pada dunia. Kita, berbincang tentang gelisah kita pada dunia: kau, pemuda desa yang cerdas, simpatik, dan rupawan, dan aku, gadis kota yang terlalu lelah dengan keramaian dan busuknya modernisasi. Lalu jika tidak berbincang karena kehabisan kata, maka kau akan mencumbuku, atau sebaliknya, aku mencumbumu. Atau, kita bercumbu. Di manapun kita bisa bercumbu dan aku selalu ingat bagaimana embun dari ilalang menyentuh wajahmu yang rupawan ketika suatu Minggu pagi di hutan kecil di belakang gereja tua itu kita bertemu dan kau membaringkan tubuhmu di rerumputan, bersebelahan dengan tubuhku. Lalu seperti embun yang bergulir di pipimu, kau mengusap wajahku dengan jemarimu. Dan kuyakin, saat itu detak jantung kita sama-sama makin cepat hingga salah seorang yang tak kita kenal siapa dan tak pernah kuingat lagi wajahnya– memergoki kita sedang bercium. Ah, malunya kita saat itu. Tetapi kita tak pernah jera untuk kembali bercumbu.

Dan kuingat, pada suatu ketika kala musim capung tiba, kau berkata bahwa kau menyukai serangga bermata besar, berperut panjang dengan empat sayap itu. Kau menyukai capung seperti aku menyukai kumbang dan kupu kupu. Dan siang menjelang sore pada suatu hari di musim capung itu kita duduk di samping pematang sawah terluas milik ayahmu yang adalah seorang juragan besar terkenal di kota kecil ini. Kita pandangi buruh-buruh tani yang bekerja pada ayahmu tengah memanen bulir-bulir gabah yang kuning dan gemuk. Dan seperti cintaku padamu kala itu: para capung melayang-layang di udara, di sekitarmu, di sekitarku, di sekitar kita , di sekitar buruh-buruh tani. Cintaku kulayangkan ke udara. Dan para capung terbang di antaranya. Capung-capung terbang melayang di antara cintaku padamu. Sangat ramai. Sangat indah. Keindahan yang ramai. Dan karena itu aku tak pernah lupa.

Maka sore ini aku makin teringat padamu kekasihku, karena kulihat seekor capung melintas dan hinggap di pucuk ilalang dekat tempatku duduk dan merenung. Merenungimu. Merenungi hidupku. Merenungi masa lalu yang selalu berhasil mengejar dan menemukanku ketika kulari dan sembunyi darinya. Dan telah lama kupikir bahwa mungkin kegagalan dari pelarianku adalah karena kau tak pernah tahu apa jawaban dari pertanyaan terakhirmu padaku. Kau tak pernah tahu karena kutak pernah menjawab tanyamu. Dan kurasa untuk terbebas dari kejaran masa lalu itu, aku harus membayar hutangku padamu. Sore ini akan kujawab tanyamu kekasihku. Masih penting atau tidak lagi penting jawaban itu bagimu, aku tak peduli. Maka itu aku kembali ke mari. Ke kota kecil ini. Kurasa aku harus menemukanmu. Harus.

Sudah satu jam kududuk di sini, pada sebuah landscape di bawah langit kelabu, tak jauh dari gereja tua, tempat terakhir kali aku menatap kekasihku, empat tahun yang lalu, menikahi kekasihnya. Dan aku sedang berharap sesuatu yang klise dari segala kisah cinta terjadi padaku sore ini: tak sengaja berjumpa dengan kekasihku. Setelah sekian lama kami saling meninggalkan, kami kembali bertemu. Lalu ada nostalgi. Hingga sore ini akan menjadi sore yang dramatis, serupa dramatisme kisah cinta telenovela, dan kami adalah tokoh utamanya.

Kuharap sesuatu yang klise itu terjadi padaku sore ini. Pertemuan yang klise. Tentu akan sangat indah dan mengharukan, kupikir. Dan inikah mengapa sesuatu yang klise terus menerus menjadi klise?—karena memang indah dan diharapkan terjadi. Maka sesuatu yang klise adalah natural. Seperti pernikahan, perkawinan, kelahiran, kematian: klise dan natural. Dan demikan halnya Cinta: klise. Dan mencintaimu adalah klise. Aku klise. Dan kau, kekasihku, pun tak kalah klise: menikahi kekasihmu, dan kini mungkin kau makin klise karena kekasih yang telah kaunikahi empat tahun yang lalu itu telah melahirkan dan membesarkan anak-anakmu. Dan aku, tetap saja klise karena biarpun kutahu kau lebih klise daripadaku, masih saja aku mencintaimu. Lalu harus bagaimana aku? Tertawa atau menangiskah karena semua ini? Maka, karena bingung, kupilih untuk diam atau tertawa saja sesekali. Karena aku tak dapat menangis. Dan aku tak mau. Merugilah aku jika menangis: membuang energi. Tertawa saja, sebab hidup hanyalah sarkas dan satire. Hahaha…hahaha… Dalam hati kini aku tertawai diriku sendiri: karena telah satu jam lebih aku duduk di sini dan tak juga kubertemu kekasihku. Aku sedikit kecewa. Mungkin sesuatu yang klise tak akan terjadi padaku. Kecuali: mencintai kekasihku.

Mungkin aku harus mencarinya, bukan menunggunya. Maka kupergi dari dudukku dan kumelangkah ke gereja tua. Aku ingin menemuinya di sana, seperti terakhir kali aku menatapnya, kala ia menikahi kekasihnya. Bukankah kami dulu sering buat janji untuk berjumpa di gereja itu? Mungkin sekarang ia sedang berada di sana.

Selangkah lagi aku ke pintu gereja. Dapat kulihat di dalam sana, lilin-lilin dan nyalanya. Patung bunda Maria, juga sebuah salib berukuran besar. Semakin dekat dan jelas kulihat karena aku telah melangkah masuk. Sunyi, tak seorangpun kulihat. Kekasihku, Han, dimana kau? Kuingin temuimu di sini, seperti aku meninggalkanmu dan kau meninggalkanku waktu itu. Pandanganku kuarahkan ke seluruh sudut gereja. Dimana? Dimana kau? Ah, dan kulihat kini, seorang lelaki berambut ikal tengah berdiri memunggungiku, di sudut tergelap dari gereja ini. Sudut tersunyi. Kaukah itu Han? Han, kekasihku. Aku merasa sangat mengenal punggung itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku pernah berkata bahwa hidup hanyalah sarkas dan satire, dan karenanya aku hanya akan tertawa. Tetapi kini, entah mengapa, aku sangat ingin menangis. Maka kupanggil ia seraya menangis. Kupanggil ia, kekasihku. Kupanggil ia bukan hanya dalam hati. Aku berseru.

“Han!! Han!! Kaukah itu? Han, Tuhan…… ini aku. Han…., aku merindukanmu.” seruku seraya berlari, melalui deretan bangku-bangku gereja tua ini. Dan akhirnya sesuatu yang klise terjadi padaku. Han membalikkan punggungnya, punggung yang sangat kukenal. Dan ia tersenyum. Senyum itu pun sangat kukenal. Senyum milik kekasihku.

“Han……!!” seruku sekali lagi.

Ia rentangkan lengannya, dan kupeluk ia. Ia, bagian terklise dari hidupku. Han, kekasihku.

Yogyakarta, 00:35_10 Februari 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s