Kisah Jomblois pemula di sebuah toko buku dengan buku yang tepat di antara orang-orang yang salah.

Kisah Jomblois pemula di sebuah toko buku dengan buku yang tepat di antara orang-orang yang salah.

behind vogue

Aku suka membaca. Dan hobi ini makin aku akrabi sejak aku duduk di bangku SMU. Berawal dari membeli kumpulan cerpen, lalu aku mulai membacai novel-novel. Tidak banyak novel yang kubaca. Hanya novel-novel tertentu saja. Kadang bagus, kadang biasa dan kadang oleh karena saking lambat dan tidak menarik, aku berhenti baca novel itu di tengah-tengah ceritanya (wah, yang terakhir ini, mungkin karena aku salah pilih novel). Tidak banyak sebenarnya novel yang pernah  kubaca. Mungkin masih bisa dihitung (pakai jari tangan, plus jari-jari kaki). Aku juga menghindar untuk membeli novel atau buku-buku yang sedang trend atau sedang laku di pasaran karena aku bukan pengikut trend. Jadi, rak buku-buku dijamin tidak akan berisi buku-buku yang sedang in. Dulu, jamannya novel Dee booming, aku tenang-tenang saja dan tidak punya semacam rasa penasaran untuk juga ikutan membaca bukunya. Baru setelah semuanya reda dan orang-orang berhenti membicarakan Supernova, barulah aku baca trilogy buku itu. Begitu juga yang terjadi pada Da Vinci Code. Sebagian besar penyuka buku sepertinya sudah membaca buku itu, tapi sampai saat ini, aku tidak kunjung berhasrat membacanya juga.  Tapi mungkin suatu hari nanti akan ada masanya. Whooaa…. serius banget ya kesannya. Hehehe… Biasa ajalah.

Eh, berhubung malas menggunakan “aku” sebagai kata ganti orang pertama, pada paragraf selanjutnya “aku” akan diganti dengan “saya”. Sebab penulis lebih merasa nyaman menulis dengan “saya” daripada dengan “aku”. Tidak apa ya? Semoga tidak mengurangi kenyamanan anda dalam membaca. Amin. Silahkan diteruskan membacanya.

Tapi, apa yang saya katakan di awal tulisan ini bukanlah apa yang mau saya ceritakan di dalam tulisan ini. Paragraf tersebut merupakan sebuah pengantar saja. Memang apa yang akan saya tulis selanjutnya masih berhubungan dengan buku dan kegiatan membaca. Tapi agak jauh sedikit dari paragraf pembukanya. Jika paragraf pembuka dengan inti tulisan pada paragraf selanjutnya mau dihubung-hubungkan pada akhirnya, juga oke saja sih. Hitung-hitung, kita semua belajar merunut dan mempertautkan inti kalimat dari antar paragraf. Ya toh? Jika mungkin nantinya sulit untuk dipertautkan inti kalimatnya, berarti kalimat atau paragrafnya yang salah. Hayooo… Gimana sih? Lho?! Ya, pokoknya terserah anda. Kalau dirasa paragrafnya nggak beres, lalu mau diperbaiki juga boleh. Mau mencoret-coret monitornya pakai spidol atau tip ex juga silahkan (soalnya bukan monitor saya sih…:p ). Yang jelas, saya cuma ingin menulis dan bercerita (oh, betapa mulia dan tulusnya keinginan ini).

Jadi, begini ceritanya:

Pada suatu hari, waktu saya sudah kuliah*, saya berniat untuk membeli sebuah buku di toko buku langganan saya. Waktu itu malam minggu dan saya nyaris jomblo.** Saya memasuki toko buku itu dengan percaya diri. Seperti biasa, saya langsung bergerak ke rak-rak bagian buku baru, berdekatan dengan rak-rak buku-buku sastra. Saya lantas memeriksa, buku-buku apa saja yang baru datang. Saya juga membuka-buka buku dengan sampul dan judul yang menurut saya menarik. Nah, ada salah satu buku dengan judul yang menurut saya cukup kontroversif. Judulnya… wah, nggak enak untuk disebutkan, karena nanti langsung ketahuan siapa pengarangnya. Kira-kira, judulnya berhubungan dengan selingkuh-selingkuh gitu deh. Pada waktu itu, tema-tema miring macam selingkuh dan topik-topik yang berhubungan dengan seksualitas masih sangat jarang, maka bagi saya buku itu cukup menarik buat dibeli dan dibaca. Tapi saya tidak lantas memutuskan untuk membeli. Daripada seperti membeli karung yang isinya kucing, saya lalu memutuskan untuk sedikit buka-buka, memeriksa dan membaca beberapa bagian dari isinya dahulu.

Buku itu merupakan buku kumpulan cerpen dari seorang penulis muda yang berasal dari kota Yogya juga. Inisialnya “AN”. Hmm… AN.. kok rasanya tiak enak untuk dilafalkan ya? Seperti bukan sedang membicarakan seorang penulis, tapi kriminil. Jadi, bagaimana jika saya sebut saja namanya Antek Noki**** (Wahahaha !! Edan. Nama macam apa ini? Antek noki!). Menurut biografi yang tercatat di beberapa sumber yang tersebar (seolah-olah seperti tersebar di jalanan saja ya?) dan terpercaya, dia sudah cukup berpengalaman di jagad tulis menulis dan seni pertunjukan di Yogyakarta, ia sudah banyak menghasilkan karya dan ia juga sempat memenangkan beberapa penghargaan tulis menulis. Hebat! Masih muda pula. Pemuda seperti Antek Noki patut kita teladani. Hidup Antek Noki! Wah, wah… saya lihat biografinya, ada foto Antek Noki di situ. Huwaa… gayanya… mentereng gitu. Dia pasang gaya cool.

Mungkin karena saya ini orangnya ekspresif, sehingga jika ada sesuatu yang membuat saya tertarik, wajah saya pasti terlihat lebih cerah. Mungkin saya tersenyum, atau mata saya berbinar-binar. Jadi mungkin saya tersenyum dan mata saya berbinar-binar waktu saya membaca sedikit dari kumpulan cerpen itu. Cukup menghibur dan menggelitik. Saya detik itu sudah memutuskan bahwa saya akan membeli buku itu, sampai sebentar kemudian saya sadar bahwa sudah ada dua orang berbadan tinggi-tinggi sudah berdiri di dekat saya (apalagi waktu itu posisi saya sedang jongkok, membuat mereka makin tampak tinggi di mata saya). Bukan, mereka bukan body guard. Mereka adalah sepasang laki-laki dan perempuan. Saya pikir mereka mungkin sedang kencan karena ini malam Minggu dan sebelumnya dari suara kendaraan di parkiran yang bisa saya dengar dari dalam toko buku, mereka datang berboncengan dengan sepeda motor si cowok yang ternyata semacam sepeda motor jenis Tiger, RX atau apalah itu.. pokoknya jenis motor yang suka dipakai balapan, yang jika memboncengkan seseorang, orang yang dibonceng pantatnya jadi njengking dan mau tidak mau jadi harus memeluk punggung si pengendali kuda. Halah… si pengendali motor maksudnya (Itu bukan motor bebek. Itu sejenis sepeda motor yang menunjukkan identitas maskulin gitulah).

Mungkin tidak akan menjadi soal jika salah satu dari orang itu tidak berkomentar secara bisik-bisik dengan teman kencannya sambil lirik-lirik ke arah saya. Tetapi yang terjadi sebaliknya kawan-kawan. Mereka melakukannya! Bisik-bisik sambil lirik-lirik. Hik. Urik. Hehehe… be-rima kan?

“Eh, kayaknya dia mau beli deh. Hehehe…” dengan nada bangga, si laki-laki bicara dengan kawannya yang perempuan. Saya mendengar bisikan yang tidak lirih itu ke teman perempuannya, dan saya tahu dong bahwa yang sedang mereka bicarakan itu saya. Soalnya tidak ada orang lain yang berada dekat dengan mereka kecuali saya. Apalagi mereka sempat mengamati gerak gerik saya yang sedang jongkok, membaca tuh buku karangan si Antek Noki. Kontan dong, saya menoleh ke arah mereka. Eiit! Tapi dengan diam-diam…seperti acuh tidak acuh. Bukan seperti ayam yang tengak tengok sambil bermuka penasaran. Slow… Daripada ketahuan, kan tengsin. Jomblo-jomblo begini saya ja’im juga lho.

Sambil masih berjongkok, saya perhatikan mereka baik-baik dengan selidik yang apik. Hik.Mereka sedang menghadap ke rak buku di sebelah saya. Si cowok tampak begitu perhatian kepada si wanita. Seperti tour guide gayanya; menunjukkan buku-buku apa saja yang menjadi favoritnya. Ia seperti sedang menjelaskan sebuah pelajaran penting dalam mata kuliah “Hakekat buku-buku”. Serius, tetapi agak gimana gitu.

“Ini nih, bagus, Stephen King.” Sambil mencabut buku Stephen King yang cukup tebal dari salah satu rak kemudian memperlihatkan buku karangan Stephen King itu ke wanita teman kencannya. Stephen King, “Bones”.

“Hmm…”

“Ini, bla bla blah.. and the was wes wos, wa wes wos…”

Terus saja mereka mengobrol sambil menyentuh buku-buku yang berbeda tanpa peduli lagi pada saya (tapi kenapa juga saya harus dipedulikan. Nggak penting).

Pelan-pelan saya perhatikan mereka. Lalu saya lihat lagi buku Antek Noki yang sedang saya pegang. Saya lihat lagi muda mudi tinggi-tinggi itu. Saya lihat lagi buku Antek Noki. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama kawan-kawan, untuk saya menyadari bahwa si pemuda di samping pemudi yang lagaknya seperti tour guide itu adalah … si Antek Noki sendiri. Ah! Jengkel saya. Rasanya jadi seperti orang yang bodoh sekali. Bayangkan… saya sedang senyum-senyum sambil baca buku, lalu pengarang bukunya berdiri di samping saya tanpa saya sadari dan bilang ke teman kencannya dengan bangga bahwa tuh orang di sebelah kita kayaknya suka banget sama buku karangannya.  Ih… penggemar Antek Noki tuh… Bangga dong, bangga! Pembuktian diri yang sukses di depan calon pacar!!

Gile… saya serasa menjadi korban kekerasan seketika itu juga. Malas saya jadinya membeli buku itu. Ah, maaf berat mas Antek Noki. Anda tidak akan melihat saya berjalan ke kasir lalu menyerahkan buku karangannya itu ke meja kasir dan membayarnya selama anda di toko buku ini. Saya malas membeli buku anda karena anda sudah memberi cap kepada saya sebagai penggemar anda. Saya bukan tipikal orang yang bisa jadi penggemar. Kecuali penggemar adalah sebuah profesi yang dibayar mahal seperti pengacara, atau perancang busana. Kalau waktu itu Kapten Kolor sudah ada, mungkin saya lebih memilih untuk menjadi penggemar Kapten Kolor daripada menjadi penggemar Antek Noki. Jadi, saya letakkan lagi buku itu ke rak semula, dan saya beranjak ke bagian rak buku yang lain. Entah Antek Noki dan calon pacarnya melihat gerak gerik saya atau tidak. Pokoknya saya berjalan ke arah rak buku lainnya saja.

Tak lama kemudian, Antek Noki dan pemudi itu meninggalkan toko buku itu tanpa membeli apapun. Menurut kesimpulan, dari penyelidikan saya, Antek Noki mengajak si pemudi itu mampir ke toko buku bukan untuk beli buku, tetapi hanya untuk menunjukkan buku barunya yang baru saja terbit dan untuk menunjukkan tingkat selera bacanya. Mungkin untuk memikat si pemudi sekaligus pembuktian diri.

Oh Tuhan…. laku apa ini? Saya jomblo dan secara intelektual teraniaya di malam Minggu oleh penulis. Penulis memang menyebalkan! Saya lantas bertekad, bahwa suatu hari nanti, jika saya menjadi penulis, saya tidak akan menjadi penulis yang menyebalkan. Amin.

Saya kembali lagi ke rak buku semula, tempat buku baru Antek Noki tertata. Saya ambil satu buku itu, dan saya berjalan menuju kasir. Saya beli juga tuh buku! Mau saya baca habis, terus fotonya mau saya lihat-lihat sampai saya sakit perut.

Oalah… Antek Noki, Antek Noki!

Honda Astrea Star 97-ku… Untung masih ada kamu.

Yogyakarta, 28 – 29 Agustus 2008

* saya bilang sudah kuliah karena di paragraf pengantar, saya bercerita tentang kegemaran saya membaca dari sejak SMU, jadi sekarang saya ceritakan keadaan saya sesudah kuliah, supaya alurnya teratur, begitu.

** Pacar saya sudah tidak jelas lagi masih mau memacari saya atau tidak, jadi sebagian besar waktu saya habiskan sendirian. Waktu itu saya tidak sedih lagi sih dengan ketidakjelasan status pacaran saya. Soalnya saya sudah punya pacar lain yang selalu sedia menghibur, dan menemani saya kemanapun saya mau: Honda bebek Astrea Star 97 second, yang baru saya dapat dari orang tua saya karena mereka suka iba melihat saya pulang sore-sore berjalan kaki dengan bibir manyun.

*** Dimohon, jangan ada yang berani memberi nama anaknya atau hewan piaraannya dengan nama ini ya. Nama Antek Noki ini sudah saya klaim dengan hak cipta saya. Kecuali anda sudah minta ijin saya. Hahahaha….

Iklan

2 thoughts on “Kisah Jomblois pemula di sebuah toko buku dengan buku yang tepat di antara orang-orang yang salah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s